Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)

Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)
Perjodohan


__ADS_3

Perbincangan di antara mereka terus mengalir sampai Maura menanyakan sesuatu yang sebenarnya ingin dia ketahui sejak pertama bertemu.


"Kamu sudah terbiasa ya, mencari seseorang yang menjual itu dan membeli nya?"


"Sebenarnya enggak, hanya saja saat itu aku berniat mencari pendamping hidup, sudah lama aku tidak pernah memikirkan tentang wanita"


"Tapi entah, saat itu aku sangat ingin sekali" terang nya yang tidak membuat Maura puas dengan jawaban nya.


"Dari mana kamu mendapatkan informasi?"


"Kenapa kamu seperti seorang wartawan yang mencari sumber berita?"


Maura berdecak saat mendengar sindir dari Satriya tapi bukan Maura jika mau mengalah sebelum mendapatkan apa yang dia ingin kan.


"Aku bertanya pada salah satu partner bisnis ku, dia terkenal sebagai seorang Casanova ulung, yang hanya menjentikkan jari nya, sudah mendapatkan wanita"


"Cih"


"Aku beruntung saat itu mendapatkan situs itu, tidaj biasa nya dia mau memberi tahu, apa lagi itu sesuatu yang bisa mencoreng citra perusahaan di mata dunia, tapi aku tidak menyangka kalau......"


"Apa? aku tidak seperti yang kamu harapkan?" ucap Maura yang memotong perkataan Satriya.


"Iya, yang datang itu seorang bidadari" puji nya


"Gombal mu, kalau aku bidadari kenapa kamu menolak ku"


"Karena kamu calon menantu ku" jawab Satriya sambil tertunduk.


"Aku menyayangimu, tapi jangan pernah mengungkitnya, apa lagi kamu nanti akan menjadi istri dari putra ku" pinta nya yang menatap nanar pada wanita yang di cintai nya.


"Aku kan cuman pura-pura, jadi masih bisa di batalkan"


"Kalau kamu batalkan, aku tetap akan menjodohkan nya dengan seseorang yang mungkin bisa membuat nya jatuh cinta dan melupakan Shinta" pinta Satriya


"Apa setelah itu kita bisa bersama?" tanya Maura untuk kesekian kalinya


"Aku sudah tua, tidak lagi ada keinginan untuk menikah"


"Sebentar lagi aku juga akan mati"


Maura mendengus saat mendengar apa yang di katakan oleh Satriya, pandangan menerawang jika saat itu benar-benar terjadi.


"Kamu bisa mencari yang seumuran dengan kamu, toh Arka juga tampan dan juga kaya, bukan kah itu sudah memenuhi standar kriteria wanita di negeri ini?"


" Cinta tidak bisa di paksakan " jawab Maura


"Jadi apa kamu tidak ingin menikah lagi"

__ADS_1


Tidak ada jawaban, hanya sebuah tatapan yang membuat Maura sekali lagi ingin menjahili calon mertua nya.


"Apa 'adik kecil' sudah tidak bisa bangun?"


Satriya mendengus saat mendengar apa yang di katakan oleh Maura yang membuat nya terkekeh.


"Bagus lah kalau masih bisa bangun" sambung Maura


"Kamu ini mau sampai kapan seperti itu"


"Apa nya?"


"Itu senyum penutup luka" sungging Satriya saat Maura mengalihkan pandangan nya.


"Memang nya kenapa?"


"Kamu bisa tersenyum begitu tulus saat bersama tiga cecunguk itu" protes Satriya yang cemburu


"Tukang ngintip" tuduh Maura


"Mereka teman-teman ku dan sudah lama kita saling kenal"


"Pasti juga masih lama aku" ejek Satriya


"Mereka sahabat ku, tidak seperti kamu yang hanya menawarkan kerja sama"


"Iya sejak dulu dan sekarang, bukan kah ini seperti keinginan mu, kamu sendiri yang menentukan"


"kita bukan siapa-siapa yang dekat lebih dari itu, jadi jangan memprotes apa pun"


"Aku akan tetap menjadi calon istri anak mu tapi aku minta hadiah, apa pun itu dan kamu wajib menyerahkan nya pada ku setiap jumad, dan video call setiap malam sebelum aku tidur"


"Terima kasih untuk hari ini, aku sangat senang" lanjut nya panjang lebar


Cup.


Maura pergi dari sana setelah berhasil mengecup rahang Satriya yang membeku saat itu, dia masih berusaha menyadarkan dirinya meski Maura sudah tidak ada di sana.


...****************...


Hari ini Maura pulang lebih cepat dari biasanya, ayah nya itu sudah berpesan untuk pulang lebih awal, karena ada acara keluarga yang harus dia hadiri dan kini dia sudah berada di depan rumahnya.


Alis nya berkerut saat melihat ada banyak mobil yang terparkir di depan rumah nya, ada apa ini?


Apa yang tidak dia ketahui.


Dengan penasaran Maura pun masuk kedalam rumah masih menggunakan setelan kantor nya, saat di ruang tamu dia mendengar sayup-sayup suara banyak orang yang tengah berbincang-bincang dengan Ayah dan ibu nya.

__ADS_1


"Permisi" sapa Maura yang ingin secepatnya naik menuju kamar nya.


"Maura, sini" pinta mama nya.


Dengan sedikit malas Maura pun mengikuti kemauan Mama nya, dia mendudukkan dirinya sofa yang bersebelahan dengan Mama nya.


"Ini loh mbak yang nama nya Maura"


"Wah cantik sekali kamu sayang, cocok sama anak Tante ini" ucap wanita itu sambil menunjuk ke arah laki-laki yang duduk di samping wanita itu.


"Cocok sekali pak Hasan, bagaimana kalau kita besanan saja" ucap pak Tio mengatakan tujuan awal nya.


"Seperti nya begitu"


Maura menegang saat mendengar apa yang di katakan oleh ayah nya, jadi maksud ayah nya meminta nya untuk pulang karena hal ini, tidak sadar kan ayah nya jika dia baru saja bercerai, tapi kini dia sudah ingin menjodohkan nya lagi dengan seseorang yang entah itu siapa.


Maura pun menanyakan apa yang sebenarnya mereka rencanakan, dia tidak ingin mempercayai apa yang dia pikirkan meski sebenarnya dia tahu apa yang terjadi.


Dan benar saja, mereka berkumpul saat ini adalah untuk membahas tentang pernikahan kedua Maura dengan anak dari investor ayah nya, Maura tampak memijit pelipisnya yang tiba-tiba pening saat mendengarnya.


Belum usai masalah Satriya yang di tambah lagi dengan urusan Arka dan kini di tambah lagi dengan urusan ayahnya yang kembali berulah.


"Saya sudah punya calon suami yah"


"Siapa?"


"Jangan bohong kamu"


Mama Maura itu tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Maura, karena putrinya itu tidak pernah membawa laki-laki pulang ke rumah.


"Apa dia lebih kaya dari kami, hingga kamu secara halus menolak pernikahan ini"


"Saya menikah bukan karena dia kaya, tapi karena cinta nya pada saya yang tulus"


"Suruh dia kesini jika memang dia serius sama kamu"


Maura tidka berkutik saat terus di desak oleh semua orang yang ada di sana, dia pun terpaksa menghubungi Arka yang meminta nya untuk datang ke rumah nya saat ini juga.


Tanpa menanyakan apa pun Arka langsung meluncur ke rumah Maura, dia yakin ada yang tidak beres jika sampai maura meminta nya untuk datang.


Sedangkan semua orang yang ada di sana harap-harap cemas,tapi senyum mengejek yang di tampilkan oleh pak Tio membuat Maura yakin jika mereka bukan dari keluarga baik-baik.


Ketegangan masih terasa di sana, apa lagi saat mendengar suara deru mobil yang berhenti di sana, tak lama kemudian seorang pria berbadan tegap masuk kedalam, menemui semua orang yang ada di sana.


Melihat ada yang datang pandangan semua orang menatap ke arah kearah pintu masuk.


"ARKA KAMANDANU"

__ADS_1


__ADS_2