
Satriya menghentikan kegiatan bermesraan nya saat mendengar apa yang di katakan oleh Arka, dia bangkit dari atas tubuh Maura, merapikan tampilan eyang mungkin saja meninggalkan jejak pergumulan nya.
Maura menghela nafas nya saat Satriya berjalan keluar dan membuka pintu ruangan itu.
Astaga pria itu kenapa bernafsu sekali pagi-pagi, batin Maura sambil menggelengkan kepalanya.
"Salah apa kamu sama ayah sampai mau traktir makan" sengat Satriya dengan mata yang memicing tajam kearah putra nya.
"Ayah ini su'udzon Mulu" jawab Arka saat ayah nya itu keluar dari ruang pertapaan nya.
"Ayah tahu apa yang kamu inginkan dan kamu tidak akan mendapatkan nya, kalau mau cari tahu sendiri" sahut Satriya yang menutup pintu nya namun di tahan oleh Arka.
"Ayaaaah" rengek Arka.
"Suruh orang sendiri untuk cari tahu, kenapa tidak putuskan saja, toh kalian belum menikah ini, lalu bagaimana dengan Maura ada dia hanya kamu buat tameng untuk mengerjai ayah"
"Ayah tahu dari mana?"
"Kamu pikir ayah anak ingusan kayak kamu yang bisa di kibulin, udah insting ayah sama kelakuan kamu, sudah sana pergi, jangan ganggu ayah" dengus nya sambil menutup pintu ruangan nya.
Dia mendongak menatap langit rumah nya, dia harus mencari rencana lagi.
"Nggak usah aneh lagi deh, suka nya main ikan terbang mulu" peringat Maura saat menatap Satriya.
"Ini bisa malah aku yang rugi" gumam Satriya
"Apa nya?"
"Kalau dia benar-benar putus dengan Shinta, bisa jadi kalian akan langsung menikah" lanjut Satriya yang seakan berat mengatakan itu semua.
Satriya menatap muram pada Maura yang tersenyum pada nya.
"Sayang Arka masih muda, masih banyak wanita yang bisa menjadi pendamping nya nanti, saat ini sudah bukan saat nya kamu mengkhawatirkan nya lagi" ucap Maura sambil mengelus lengan Satriya.
"Jangan aneh-aneh" desis nya.
Maura menghelakan nafas berat nya, sungguh apa pun itu dia tidak bisa membuat laki-laki ini berpihak pada nya.
"Ya sudah, aku pulang dulu, Arka mengajakku makan siang, aku harus keluar dari sini sebelum dia menyadari kehadiran ku" pamit Maura.
__ADS_1
"Tunggu" ucap Satriya menahan lengan Maura.
"Kenapa?"
"Aku di tinggal begitu saja" protes Satriya.
"Akuuu..."
Maura kembali gelagapan saat tubuh nya di dekap kembali oleh Satriya.
"Aku akan menyusul nanti, kamu dandan yang cantik ya" lirih Satriya sambil menyesap leher Maura yang meninggal jejak di leher nya.
"Gak, nanti kalau kumat jahil nya kalau aku dandan cantik" tolak Maura.
"Aku mau ini" kata Satriya sambil melepas kaitan bra yang di kenakan oleh Maura.
"Jangan gila Satriya" pekik Maura saat pakaian dalam nya di lepaskan begitu saja.
"Aku mau sepasang" paksa nya pada Maura.
"Ya tapi jangan yang ini, aku pulang pakai apa?"
"Pakai jas ku, yang pasti aku mau yang ini" ucap nya lagi sambil menyingkap kaos yang di kenakan Maura.
"Oke tapi kamu tutup mata"
"Gak mau"
"Aku kan lihat" lanjut Satriya
"Nurut atau gak dapat sama sekali, kamu lihat delapan tahun yang lalu, dan sudah banyak berubah sekarang, aku tidak mungkin menunjukkan pada mu secara terang-terangan"
Satriya mengangkat kedua tangan nya, dia tidak ingin berdebat lagi dengan Maura, dia memejamkan sedikit mata nya, hingga dia masih bisa melihat nya dengan jelas.
"Apa nya yang harus di tutupi, aku bahkan sudah tahu bagaimana bentuk dan ukuran nya" keluh Satriya sambil mengintip di celah mata nya.
"Itu dulu, sekarang tidak lagi sama dengan delapan tahun yang lalu"
"Jangan ngintip atau aku akan menggigit mu lagi" ancam Maura.
__ADS_1
Satriya memang memejamkan mata nya, tapi di cela sudut mata terlihat jelas bagaimana lekuk tubuh satu Maura.
Yang mana saat ini semua nya sudah terpahat sempurna, Maura benar semua sudah berubah.
"Ini, mana jas mu" ucap Maura sambil mengalungkan bra nya di leher Satriya yang langsung menghantarkan harum wangi dari kain berkaca mata itu.
Satriya tersenyum penuh kemenangan saat mendapatkan apa yang dia inginkan.
...****************...
Maura menghela nafas saat keluar dari rumah besar itu, dia sejak tadi memikirkan alasan apa yang akan di berikan pada Arka jika sampai atasannya itu memergoki nya ada di rumah nya bukan untuk menemui nya, tapi malah bermesraan dengan Ayah nya.
Maura menenangkan diri nya saat mobil yang dikendarai nya masuk ke dalam rumah nya, dia memeriksa leher nya yang terdapat banyak ruam merah bekas 'cinta' dari kancil licik nya yang mempunyai seribu cara untuk mendapatkan keinginannya.
'merepotkan saja'
Maura menggerutu dengan senyum yang melengkung di bibir nya, dia masih merasa berada dalam dekapan Satriya meski dia hanya mengenakan jas nya saja.
Wangi candu, batin nya.
Maura kembali memikirkan cara yang bisa membuat Satriya cemburu sampai laki-laki itu sendiri yang membatalkan pernikahan nya dengan Arka dan merengkuh nya.
Dia perlu seseorang untuk melancarkan rencana nya dan Arka lah satu-satunya orang yang bisa membantu nya.
Kalau di butuhkan dia akan bermesraan dengan Arka, dan pasti nya apa yang mereka lakukan pasti akan sampai di telinga Satriya.
Maura menyeka air matanya mengalir di pipi nya, hanya membayangkan saja dia sudah merasa bahagia, apa lagi jika apa yang dia bayangkan bisa terjadi.
Pesan masuk di ponsel nya mengalihkan perhatian nya, sebuah pesan dari Arka yang menggantikan jadwal temu mereka, pria itu butuh tidur dan istirahat, di mana beberapa hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak akibat ulah ayah nya.
Maura masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamar nya, dia merebahkan dirinya kasur nya, perlahan di terlelap masih dengan jas milik Satriya yang melekat di tubuhnya.
......................
Arka menunggu Maura yang masih belum sampai, Arka menunggu nya dengan ponsel yang terhubung dengan kedua teman nya.
Bagas dan Darius yang sama-sama kesal pada Satriya di mana Darius yang merupakan kekasih dari Mentari harus putus dari Mentari akibat cemburu pada Sekar, Darius yakin kalau semua ini adalah ulah dari calon kakak ipar nya itu yang membuat nya di jauhi adik nya dan juga menerima kemarahan Sekar yang tiba-tiba di jodohkan dengan Arka, sementara Sekar dia adalah kekasih dari Bagas, asisten Arka.
Arka sama sekali tidak menaruh hati pada wanita mana pun kecuali Shinta, bahkan secantik Maura saja tidak bisa menggoyahkan hati nya untuk berpaling dari Shinta.
__ADS_1
Arka menutup panggilan nya saat dia merasa masalah mereka sedikit teratasi, mungkin dia perlu bertemu dengan ibu nya untuk menanyakan siapa Shinta, karena dari info yang di dapat kan, jika laki-laki yang bersama Shinta itu adalah ayah kandung nya.
"Arka"