
"Kenapa harus Nusa penida, tidak di tempat lain"
"Di sana kan ada hotel yang bapak beli beberapa tahun yang lalu dan tidak di fungsi kan dengan baik, maka saya berinisiatif untuk menggabungkan dua hotel tersebut, jika harus mencari hotel baru kita akan mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi lebih baik memanfaatkan properti yang sudah ada saja" jelas Maura dengan senyum di bibirnya, bukan senyum terpaksa seperti biasa.
Namun senyum manis yang merayu.
Satriya tertegun menyaksikan nya, karena senyum yang di tampilkan Maura saat ini adalah senyum membuat dadanya berdesir.
"Pandai sekali ya kamu menarik perhatian saya...." desis Satriya.
Arka mencebik.
'Ayah kan memang sudah tertarik pada nya' batin Arka yang menatap ngeri pada ayah nya.
Dan apa ini, dia merasa tidak di perlukan di sini, dia merasa berada di antara dua orang yang sedang jatuh cinta.
Sebagai anak Arka tidak pernah melihat ayah nya menatap lembut pada wanita lain selain Tante nya.
'Tunggu, ini lebih lembut dari tante' batin Arka lagi.
Lagi-lagi kepala nya seakan berdenyut hebat saat melihat tatapan kedua nya, yang mana ayah nya menatap dengan kagum dan Maura yang demikian tatapan menginginkan.
Arka menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
Bukan tidak suka, tapi dia masih belum bisa menguasai keterkejutan nya, bahkan kepala nya saat ini serasa ingin meledak.
"Ayah" panggil nya yang memutuskan pandangan kedua orang itu.
Satriya juga Maura mereka mengalihkan pandangan saat suara Arka menganggu kegiatan mereka, kedua nya menunggu apa yang ingin di katakan oleh Arka.
"Aku kayak nya perlu menemui ibu, meminta penjelasan dari nya, kalau pun benar dia adik ku, berarti tidak ada salah nya selama ini aku menjaga nya"
"Temui ibu mu dan tanyakan, tapi pastikan juga keluarga nya tidak ikut campur dalam urusan harta kita, sebentar lagi kamu menikah, jangan ada orang lain di dalam pernikahan mu"
"Kalau kamu tidak menuruti keluar dari kartu keluarga ayah, hidup sana seperti apa yang kamu inginkan, lepaskan semua yang kamu milik saat ini" ancam Satriya yang tidak main-main.
Arka menghela nafas nya, dia mengatur stok kesabaran nya.
"Kalau dia memang adik ku....." jawab nya, lalu mengirim pesan pada Maura yang meminta nya untuk pergi dari sana, dia serasa mendidih dengan tatapan kedua nya.
__ADS_1
Maura membuka pesan yang di kirim Arka, dia tidak bisa serta merta pergi dari sana tanpa alasan yang jelas, bagaimana pun Satriya tetaplah atasan mereka, Maura juga menanyakan tentang rencana Arka mengenai Shinta, dengan jelas akan mengatakan akan berpisah jika memang itu benar adik nya, meski dalam hati nya masih berharap kalau wanita yang dia cintai itu hanyalah anak tiri dari sang ibu, yang arti nya dia bisa menikah dengan Shinta.
Pesan dari Arka kembali masuk, sekali lagi Arka mintanya untuk menyingkirkan dari sana, terserah ke mana yang penting tidak terlihat oleh nya, bahkan Arka menyarankan untuk bermesraan saja meski cuman sepuluh menit dan itu akan sangat berharga untuk nya.
"Saya permisi ke toilet sebentar..." pamit Maura yang beranjak dari duduk nya.
Dia keluar dari sana menuju salah satu kenalan nya dan meminta izin untuk menggunakan toilet nya, namun teman nya itu justru meminta nya untuk menggunakan toilet yang ada di lantai atas hotel tempat kepala bagian istirahat di sana.
Setelah mengucapkan terimakasih nya Maura menaiki lift dan mengirimkan pesan singkat pada Satriya, yang bertuliskan nomor kamar yang dia gunakan.
Tak lama kemudian Satriya sampai di sana, dia mengunci kembali pintu nya dan mendorong Maura duduk di tepi ranjang.
"Aku tidak punya banyak waktu"
"Kita manfaatkan sebaik mungkin" desis Satriya.
"Kamu cantik sekali....."
"Kan kamu yang minta" desis Maura.
"Jadi ini untuk mu?"
"Buka honey, buka semua nya"
"Jangan nanti kali khilaf"
"Selalu saja membantah ku...." ucap Satriya yang langsung membuka atasan Maura, dia terkekeh saat melihat leher wanita itu penuh dengan cap merah maha karya nya.
"Makanya kamu pakai yang berleher tinggi"
"Itu karena kamu"
"Karena kamu cantik" kekeh nya.
"Jangan menambah bekas lagi"
Terlambat.....
Maura berkata seperti saat Satriya sudah membuat tanda merah di dada nya sebelah kiri.
__ADS_1
Astaga...
Satriya menarik tangan Maura ke arah kemaskulinan nya yang terasa keras dan panas di sana, membuat Maura terkesiap.
Satriya melucuti semua yang ada pada diri Maura yang kini tergolek pasrah di hadapan nya, Satriya dengan lembut menyesap puncak gunung nya yang membuat nya mendesis nikmat.
...****************...
"Jangan terlalu mengekang Arka, kasihan dia" ucap Maura yang menata tatapan makeup dan juga rambut nya yang berantakan akibat ulah kancil licik di sebelah nya.
"Mau bagaimana lagi, aku yakin dia itu anak dari ibu nya, mana dia boleh menikahi adik nya sendiri meski beda Ayah" desis Satriya.
"Ya tapi cara kamu seakan kamu melarang nya untuk bertemu"
"Aku bukan melarang nya, tapi dia harus siapa dengan segala kemungkinan nya"
"Iya aku tahu, tapi sedikit lembut pada nya" tutur Maura lagi.
"Kamu dari tadi membela dia terus....." protes Satriya dengan sedikit tidak terima.
"Kan dia calon suami ku, jadi ya wajar.…." pancing Maura yang ingin melihat reaksi Satriya.
Satriya hanya menatap nanar pada pantulan kaca yang ada di lift yang membawa mereka turun dari lantai atas tempat mereka melampiaskan hasrat nya tadi.
Sedangkan Maura tersenyum getir saat menoleh pada Satriya.
"Masih ingin melanjutkan pernikahan ku dengan Arka?"
"ya, aku akan tetap berpegang teguh pada keputusan ku" tegas Satriya yang berjalan keluar dari lift di ikuti oleh Maura di belakang nya.
Maura menghela nafas lelah nya.
"Oke aku akan jalan kan peran ku sebaik mungkin" kata Maura dengan sedikit berbisik.
"Heeemm" hanya itu tanggapan yang di berikan oleh Satriya mengingat mereka sudah berada di antara banyak orang, akan sangat berbahaya jika ada orang yang melihat kedekatan mereka.
'Kita lihat saja sayang sampai mana kamu bisa menahan nya, akan ku buat kamu cemburu buta, dan dengan sendirinya kamu akan bertekuk lutut di hadapan ku' geram Maura yang sampai saat ini belum bisa menaklukkan kancil licik nya itu.
Dia menatap penuh dendam pada laki-laki yang memenjara hati nya membuat dia tidak bisa pergi kemana-mana, dia layak nya seperti layangan yang di tarik ulur menggunakan benang yang tak terlihat, membuat nya terpaku pada satu sosok yang berjalan angkuh di depan nya.
__ADS_1
'Awas saja kau'