Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)

Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)
Flashback 02


__ADS_3

Maura mengikuti arah pandang pria itu, tanpa berkata apa pun dia faham dengan keinginan pria tersebut.


...****************...


Warna jingga menghiasi cakrawala di ufuk barat, menandakan matahari yang akan segera pulang ke peraduan nya.


Satriya menatap indah ciptaan Tuhan yang jarang bisa di nikmati seperti saat ini, dia menoleh ke arah samping di mana seorang gadis muda yang tengah menyelami mimpi nya, mungkin karena kecapekan.


Dia tidur di antara seprei yang terlihat berantakan dengan bercak dari tertinggal di sana, serta air mata yang masih menggenang di pelupuk nya.


Satriya berpikir apa dia keterlaluan memperlakukan nya, sampai dia kepayahan seperti itu, sedangkan dia sendiri bingung harus seberapa banyak kekuatan yang harus dia keluarkan agar tidak menyakiti tubuh ringkih tersebut.


Satriya mendekati wanita itu menyelimuti nya, dia berlalu dari sana, menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maura terbangun, namun dia masih mengerjakan mata nya yang silau dengan cahaya yang menerpa indera penglihatan nya.


Jam berapa ini, dan ada di mana dia saat ini, Maura memandang sekeliling nya, lalu dia teringat kalau dia berada di salah satu apartemen seseorang yang telah membeli keperawatannya.


Mengingat itu dia sampai bergidik ngeri karena nya, kalau pada akhirnya dia harus menjajakan tubuh nya, lantas apa gunanya dia bersekolah sampai ke luar negeri kalau ujung nya seperti ini.


Air mata terlihat merembes di antara kelopak matanya, apa dia tidak bisa mencari pekerjaan selain ini, dia menyadari kecerobohan nya yang tidak memikirkan sebab akibat dari perbuatannya.


Tapi.....


Apa mau di kata kalau perut sudah berbunyi dan biaya rumah sakit mama nya, harus segera terbayarkan, juga kuliah kakak pertama nya yang harus segera menyelesaikan administrasi nya agar bisa cepat kembali ke tanah air membuat nya tidak lagi memikirkan tentang apa pun.

__ADS_1


Sebuah pintu terbuka, dan keluarlah seorang pria dengan lilitan handuk di pinggang nya, Maura menoleh pada pria yang seperti baru menyelesaikan mandi nya.


Pria tersebut mengambil gelas air putih yang di taruh di meja samping tempat tidur, yang kemudian di raih oleh Maura dan di tenggak nya langsung.


Setelah merasa cukup baik, Maura berniat untuk membersihkan dirinya yang merasa kotor karena pria di hadapan nya itu sudah mandi, namun saat dia menggerakkan kaki, rasa perih tiba-tiba menjalar di inti tubuh nya.


Desis nya ternyata mengalihkan perhatian pria yang sedang mengoperasikan ponsel nya, yang berjalan ke arah nya dan mengangkat nya dalam satu gerakan, pekikan tertahan dari Maura membuat pria itu terkekeh kecil, dia membawa Maura ke dalam kamar mandi, meninggalkan nya di sana.


Maura membuka shower air, seketika air membasahi tubuhnya bercampur dengan air mata nya sendiri, rasa perih di inti nya tidak terasa lebih sakit dari hati nya.


Betapa dia merasa kotor dan hina saat ini, namun apa boleh buat semuanya sudah terjadi dia tidak akan bisa mengembalikan apa yang telah hilang.


Sebenarnya pria yang membeli nya itu tidak melakukan kekerasan pada nya, bahkan dia dengan sabar menunggu diri nya saat dia mulai kelelahan atau kehabisan nafas, dia di perlakukan sangat lembut oleh pria seukuran itu.


Puas dengan tangis nya, dia mulai membersihkan dirinya, dia menggosok tubuh nya, tapi tunggu, kenapa dada darah di kuku nya, apa dia terluka dan tidak menyadari nya.


Secepat mungkin di membersihkan dirinya dan keluar dari sana, hanya dengan menggunakan lilitan handuk di dada nya, dia menatap pria yang sedang duduk sambil memegang kapas dan juga antiseptik di tangan nya, yang sedang mengobati goresan di lengan nya.


Pundak nya juga berdarah, jadi darah yang ada di kuku nya itu milik pria itu.


Aaah.


Dia jadi merasa bersalah dengan itu, Maura pun menghampiri nya, pria itu menatap Maura dari ujung rambut hingga ujung kaki nya, namun fokus nya ada pada handuk yang menutupi dada nya.


Maura meraih kapas dan antiseptik nya, dia menorehkan antiseptik itu pada luka di bahu pria itu akibat ulah nya, terdengar kekehan yang keluar dari mulut pria yang tengah di obati oleh Maura.


Maura bernafas lega saat semua goresan di bahu pria itu sudah terobati semua, mungkin sepulang nya dia dari sini dia akan memotong kuku nya, dia tidak menyangka kalau dia akan melukai orang sampai seperti itu.

__ADS_1


Dia melakukan nya tanpa sadar, mungkin itu adalah bagian dari pembelaan alam bawah sadar nya yang berontak dengan kejadian itu, bahkan luka nya sampai sedalam itu.


Tiba-tiba tanpa di sangka pria itu mendaratkan ciuman di pipi nya yang membuat nya tersipu malu di buat nya.


Maura memalingkan wajahnya, agar tidak di ketahui oleh pria itu kalau dia sedang tersipu, dengan ulah pria tersebut.


Dia bahkan sempat tertegun beberapa saat tadi, padahal mungkin maksud dari pria itu hanya sebagai ucapan terima kasih karena telah mengobati luka nya.


Namun dia merespon lain, rasa nya di dalam dada nya seakan berdesir kuat, sampai Maura memberanikan diri untuk menatap pria itu.


Mata pria itu....menatap nya dengan tatapan lain.


Tatapan mata yang lembut mengarah pada Maura, dengan senyum tipis menghiasi rahang tegas nya yang di tumbuhi sedikit rambut di sana.


Senyum tipis yang terlihat jahil di mata Maura, seakan dia mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Maura.


Astaga, pipi nya memanas, ya ampun sungguh Maura sangat malu di buat nya, bahak sebuah kekehan kembali terdengar, pria itu mengejek nya yang tengah tersipu dengan tingkah nya.


Maura sangat malu di sana, dia bahkan menggerutu dalam hati nya,dia masih memalingkan wajahnya, mengapa juga harus tersipu sih, memalukan saja, keluh nya pada diri sendiri.


Tangan besar pria itu membelai lembut pipi nya, mengarah pada dagu dan membawa nya kembali untuk menatap ke arah nya.


Ciuman lembut yang tidak menuntut Maura untuk mengikuti permainan nya, bibir itu menyerang bibir maura.


Tidak ada keraguan yang terasa di sana, bibir Maura dengan sendirinya terbuka untuk memberikan akses agar lidah pria itu lebih leluasa menguasai rongga mulutnya.


Mengizinkan pria itu berbuat lebih jauh, lidah mereka bertaut, dengan bibir yang saling membelai memberikan rasa lebih pada lawan mainnya.

__ADS_1


Maura merasa kalau handuk nya di lepas dan di singkirkan oleh pria tersebut, dan mendorong nya agar terlentang di ranjang besar tersebut.


__ADS_2