
Satriya yang kini dalam perjalanan pulang dari perjalanan bisnis nya itu membolak-balik majalah yang ada di tangan nya, dia belum memejamkan mata nya sejak kemarin, mata nya itu enggan terpejam, ada sesuatu yang mengganggu kinerja otak nya.
Hadiah untuk Maura..
Dia bingung harus memberinya apa, apa dia meminta salah satu butik yang bekerja sama dengan nya untuk mengirimkan nya setiap Jumad dari pada dia pusing memikirkan nya, dan dia tinggal membayar nya saja.
Keinginan Maura sebisa mungkin dia kabul kan hadiah setiap Jumat dan video call setiap malam yang menjadi rutinitas nya saat ini menumbuhkan semangat tersendiri untuk nya.
Dia bisa memiliki Maura saat ini, hingga entah kapan, mereka belum menentukan kapan pernikahan itu akan di gelar, dia terkekeh sendiri saat mengingat bahwa dia kini menjadi selingkuhan dari putra nya sendiri, tapi bukan kah mereka hanya bersandiwara, jadi tidak ada salah nya bukan.
Satriya memejamkan mata, dia harus tidur sebelum bertemu dengan Maura, waktu nya makan siang saat di sampai di Juanda nanti dan dia ingin mengajak Maura untuk bertemu sekedar menghilangkan rasa kangen nya yang tertahan karena satu minggu ini mereka sama sekali tidak melakukan panggilan sebelum tidur.
Satriya menghubungi Maura saat dia sudah keluar dari terminal dua bandara internasional Juanda.
"Kamu sedang sibuk kah?"
"Sedangkan meeting dengan salah satu kolega"
"Di Tunjungan **plaza** ?"
"Iya"
"Bisa temani aku makan siang?" tanya Satriya penuh harap.
"Ok, di kafe yang kemarin saja"
"Hmm"
"Apa kamu sakit?" tanya Satriya saat mendengar suara Maura yang tidak seperti biasa nya.
"Aku sedang meriang"
"Perlu ke rumah sakit?" tanya Satriya Yanga khawatir dengan keadaan Maura.
"Tidak perlu" jawab nya singkat padat dan jelas.
Panggilan pun terputus,dan Maura langsung keluar dari sana tanpa mengatakan apapun pada kolega bisnis nya itu, dia sakit hati dan merasa terhina dengan semua itu.
Satriya merasa kalau Maura sedang tidak baik-baik saja pun berhenti di salah satu toko sandal sepatu yang ada di sana, dia pun membeli nya satu pasang heels yang dia rasa akan sangat cantik jika di kenakan oleh Maura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maura berjalan menuju kafe yang masih satu Mall dengan tempat meeting nya tadi, hanya berbeda lantai saja, dia turun menggunakan lift yang langsung di sambut oleh laki-laki yang entah hanya melihat nya saja dia merasa lega.
__ADS_1
Satriya mengeryit saat melihat wajah Maura yang tidak seperti biasa nya, tapi dia tetap berusaha menampilkan senyum manis palsu nya.
"Hay" sapa Maura sambil melirik paper bag yang ada di samping Satriya.
"Pucat sekali, kita ke rumah sakit dulu ya" Tawar Satriya yang cemas dengan keadaan Maura yang sedang sakit, menurut nya.
"Tidak mau, aku hanya ingin bertemu dengan mu saja?" desis nya, yang entah dia gemar sekali menggoda Satriya, apa mungkin itu adalah kebiasaan baru nya.
Satriya tidak bergeming dari tempatnya, wajah khawatir nya tidak bisa dia tutupi lagi.
"Ayo temani aku makan, pasti langsung sembuh"
"Di mana?"
"Sama seperti tempat pertama kita bertemu"
Mendengar itu Satriya berjalan di depan Maura sambil menenteng paper bag yang berisi kado untuk Maura.
Beberapa menu di pilih Maura untuk meredakan hari nya yang sedang jalur itu, berbagai makanan manis dan juga asin dia pesan, tak lupa juga Jasmine tea.
"Apa nikotin nya juga?" tanya pelayan tersebut yang selalu melayani nya jika ke sini bersama Arka dan juga Bagas.
"Tidak untuk saat ini, saya ingin berhenti"
"Saya kopi latte saja, antar satu kali" pesan nya tetap saja sama.
Saat pelayan itu keluar, kini giliran Satriya yang menggoda Maura yang duduk di samping nya, dia mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Maura seraya berbisik.
"Berhenti merokok" ejek nya dengan senyum menyebalkan nya.
"Bertahap ya, tidak bisa sekaligus" rengek nya yang seperti anak kecil.
"Bagus, tapi apa alasannya?"
"Kamu!"
"Aku kenapa?" Tanya Satriya yang pura-pura tidak mengerti apa yang di katakan oleh Maura.
Mendengar itu Maura mendengus saat di ejek secara terang-terangan di hadapan nya.
"Kamu seperti nya tidak suka jika aku merokok?" gerutu nya.
"Jadi karena aku?"
__ADS_1
"Ya siapa lagi primitif kalau bukan kamu?" sahut Maura yang tidak mau menatap ke arah Satriya yang masih mencondongkan tubuhnya.
"Aku tidak meminta untuk berhenti kan?" Satriya mengatakan nya sambil mendudukkan dirinya.
"Aku hanya melakukan itu kalau sedang banyak pikiran saja, jadi masih bisa berhenti"
"Tidak elegan saja, jika wanita seperti mu merokok, kamu terlihat cantik dan elegan, jadi......"
"Jadi aku terlihat buruk di mata mu"
"Bukan seperti itu..."
"Lalu seperti apa?" kejar Maura saat dia tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Mungkin jaman kita berbeda" ucap nya yang langsung menyerah.
"Kan aku sudah bilang kamu itu primitif" jengkel Maura.
"Aku akan meminta Arka untuk tidak terlalu menekan mu" ucap Satriya sambil mengelus janggut nya.
"Jangan aneh-aneh"
Satriya pun tersenyum tipis, lalu menanyakan apa Maura bisa menghabiskan makanan yang di pesan nya itu, karena menurutnya itu terlalu banyak untuk Maura seorang diri, namun Maura meyakinkan bahwa dia bisa menghabiskan semuanya.
Pikiran nya sedangkan tidak baik, jadi dia melampiaskan nya pada makanan yang ada dia pesan, tiba-tiba saja dia mengingatkan kembali apa yang terjadi baru saja.
Dia merasa risih dengan dirinya yang baru saja mendapatkan pelecehan, hati nya terasa perih saat ada orang lain berani menyentuh nya, entah apa alasan nya, yang pasti di merasa rasa yang tertinggal oleh Satriya menghilang saat itu.
Apa yang di rasakan Maura sangat membuat Satriya bertanya-tanya apa yang terjadi pada Maura saat ini.
"Kamu kenapa?" tanya Satriya dengan lembut seperti bertanya pada kekasih hati nya, sangat lembut bahkan lebih lembut dari seorang Ayah yang bertanya pada putrinya tercinta nya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Maura menunduk.
Dia menahan air matanya agar tidak jatuh dari pelupuk mata nya.
"Tak apa, aku hanya sedikit meriang saja"
"Kenapa, masih bekerja kalau......." tanya Satriya menatap nanar Maura.
"Bukan pekerjaan"
Satriya terdiam saat ucapan di potong oleh Maura, dia harus bersabar pada wanita itu, dia tidak suka ucapannya di potong oleh orang lain, tapi sekarang mungkin pengecualian untuk Maura, ya hanya untuk Maura saja tidak akan dia berikan pada orang lain.
__ADS_1
Greeep