
"Aku di peluk orang lain, bahkan dia berusaha untuk menyentuh ku terlalu jauh"
"Siapa?" geram Satriya saat tahu alasan yang di berikan oleh Maura, darah nya langsung mendidih saat seseorang secara lancang menyentuh kekasih hati nya.
Mungkin dia perlu membunuh orang untuk saat ini, dia akan melakukan itu untuk Maura untuk mengembalikan kesehatan mental nya.
Meski dia tahu tapi dia akan tetap melakukan nya, siapapun itu dia tidak peduli sama sekali. Satriya tidak bergeming saat Maura melepaskan pelukannya, dia tetap memeluk nya sampai dia merasa bahwa tubuh Maura sangat pas di pelukan nya, apa mungkin jika wanita ini adalah cinta sejati nya.
Apa masih pantas di usia nya yang sudah bisa di katakan tua itu mendapatkan cinta sejati nya, atau mungkin semua nya hanya perasaan yang menggebu setelah lama tidak berjumpa. Belum puas dia memeluk tubuh itu berada dalam pelukan hangat Maura yang entah kapan lagi keintiman mereka bisa terjadi lagi.
"Katakan?"
"Siapa dia?"
"Sudah lah jangan membahas dia" tolak Maura yang tidak ingin masalah itu di perpanjang oleh Satriya yang bisa melakukan segala cara.
"Cerita kan, aku akan mendengarkan nya"
"Kamu tidak sibuk, selain menemani aku makan?" Tanya Maura yang mengalihkan perhatian Satriya yang terus mencecarnya.
"Tidak ada"
Dreeet
Dreeeett.
" Jawab saja?"
"Tidak penting, kamu ceritakan dulu, apa yang terjadi atau aku yang akan mencari nya sendiri" desak Satriya saat tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Panggilan kedua masuk,
"Aku angkat dulu, tapi setelah itu kamu harus menceritakan semua nya" ucap nya dengan tangan yang menelusuri leher jenjang Maura yang kini menangkup nya, dia mengangkat wajahnya Maura agar menatap ke arah nya.
"Aku akan makan, jika kamu menerima panggilan itu" desah nya kecewa saat pelukan mereka terlepas.
Satriya langsung menerima panggilan tersebut, lalu senyum penuh maksud terpatri di wajah nya, maksud buruk yang bisa saja menimpa seseorang yang di sebutkan nama nya oleh orang yang ada di sebelah sana.
Maura merasa ada yang tidak benar di sini, bagaimana senyum yang di tampilkan oleh Satriya memiliki makna lain yang dia juga tahu apa artinya.
"Denny Sanjaya"
__ADS_1
"Eeehh"
Maura yang sedang menikmati red Velvet cake nya terdiam saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Satriya, bagaimana bisa dia mengatakan apa yang terjadi di dalam ruang meeting tadi.
"Jangan aneh-aneh Satriya" Tegur nya saat dia melihat senyum yang tersungging di bibir Satriya.
"Sudah aku bilang katakan atau aku mencari nya sendiri"
"Kamu lihat satu jam dari sekarang, breaking news tentang kebangkrutan Sanjaya"
"Satriya" panggil nya lembut.
"Jangan membuat mu, semakin di benci"
"Terlepas apa pun itu, kamu karyawan dan juga calon menantu ku, jadi perlindungan mu adalah prioritas ku"
"Kenapa bukan calon istri mu saja" ucap Maura dengan tatapan tengil nya.
Tidak ada jawaban dari Satriya di sana, dia merapatkan tubuhnya ke arah Maura, dia mengikis jarak yang ada di antara mereka.
Pesanan Maura habis hanya menyisakan es kelapa muda yang ada di atas meja.
"Mau tambah?"
"Jadi benar dia yang telah memaksa mu"
"Tidak perlu membahas itu , yang jelas rasa pelukan kamu hilang begitu saja, apa lagi dia memaksa untuk mencium ku"
Sebegitu cinta kah Maura pada nya hingga rasa yang tertinggal delapan tahun silam itu masih terasa, apa selama itu dia tidak berkontak langsung dengan laki-laki lain, lalu bagaimana, bukan kah Maura pernah menikah.
"Bukan kah aku baru saja memeluk mu"
"Atau dia melakukan hal yang lebih dari yang kamu ceritakan?" selidik nya.
"Sudahlah biarkan saja"
"Tidak akan" kekeh nya yang tetap ingin memberikan pelajaran pada orang yang berani menyakiti nya.
Maura menyesal telah mengatakan apa yang tidak seharusnya, apa lagi pria tua itu sudah berucap maka semua nya akan di lakukan.
Beradu argumen pun percuma, padahal dia sudah membersihkan nya bukan, dengan pelukan hangat yang sangat di rindukan sejak terakhir kali mereka melakukan nya.
__ADS_1
Terserah lah apa yang ingin di lakukan oleh pria itu, jelas dia tidak akan bisa membuat nya mengurungkan niatnya, ada setitik cemburu yang terlihat di mata nya saat Maura mengatakan akan pergi ke Bali dengan Arka, Maura juga berencana untuk membuat Arka benar-benar jatuh pada pesonanya seperti yang di minta oleh Satriya.
Maura merutuki diri nya yang menganggap Satriya adalah teman yang bisa menjadi tempat curhat nya, memang siapa Satriya bagi Maura, dia hanya masa kelam nya, dia menahan diri nya untuk tidak berbuat terlalu jauh.
Meski pada kenyataannya dia ingin sekali melampiaskan rasa marah nya itu pada Satriya yang kini menatap nanar pada nya.
Entah apa yang di inginkan oleh laki-laki itu, yang jelas dia akan merasa lega jika berhasil membuat Satriya kelimpungan sendiri, tatapan mereka beradu seakan menyiratkan rasa sakit yang tak terucap dari ke dua nya.
Tatapan mereka terputus saat ponsel Maura berdering, sebuah panggilan dari Arka yang mungkin saja bisa membuat Satriya merasakan kesakitan yang sama dengan Maura.
"Hallo"
"Maura apa yang terjadi?" panik Arka.
"Apa maksudmu?"
"Perusahaan Sanjaya bangkrut, beberapa menit yang lalu" seru Arka tidak percaya, Maura langsung mengarahkan pandangannya pada Satriya yang menyunggingkan senyum nya.
"Aku tahu ini ulah salah satu orang, tapi aku belum bisa meyakinkan dugaan ku" ucap Arka lagi.
"Jadi kontrak di batalkan?"
"Iya, Maura?" panggil nya ragu saat ini.
"Kamu ada waktu, kita sepertinya harus pergi membeli cincin tunangan" seru nya yang di tanggapi serius oleh Maura.
Duaar.
Ini yang di tunggu Maura membuat Satriya galau sendiri dengan pilihan nya, dia membenci Satriya yang tidak memperjuangkan cinta nya.
"Coba tebak berapa ukuran jari manis ku"
"Kamu kurus sekali, makan yang banyak, aku akan Carikan yang ukuran lima benarkan?" tanya Arka yang mencoba menebak nya.
"Semoga cocok, aku tahu selera kamu feminim dan elegan bukan" desis Arka di seberang sana, tanpa dia tahu, kalau ada seseorang yang kini sedang berusaha menahan dirinya untuk tidak terpancing oleh situasi yang terjadi di depan nya kali ini.
Dia sudah bertekad untuk tidak kembali jatuh dalam kejahilan Maura yang bisa membuat nya lupa diri, dan semakin menginginkan wanita yang telah bertahan sejak lama.
Satriya berpikir kalau perjanjian ini berarti sebelah, yang mana hanya dia yang merasakan sakit hati nya.
Maura menutup panggilan saat rencana nya membuat Satriya cemburu berhasil dan lihat lah wajah pria itu merah padam saat ini.
__ADS_1
"Permintaan kamu sudah aku jalan kan, seperti apa yang kamu inginkan"
"Jadi sekarang bagaimana......"