Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)

Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)
Membunuh rasa


__ADS_3

"Kamu mau aku panggil apa?"


"Terserah, sesuka hati kamu"


"Baiklah sayang, aku akan menjalankan tugas dari mu saat di Bali mungkin melakukan sesuatu yang jauh dari dugaan kamu, dan bulan depan aku pasti bisa mendapatkan hati anak mu itu"


"Yakin bulan depan?" tanya Satriya seolah meremehkan Maura.


"Ya aku usahakan secepat mungkin agar kamu tidak buang-buang biaya untuk menuruti keinginan ku" Maura pun membereskan barang nya dan bersiap pergi dari sana.


"Semoga keputusan mu untuk memisahkan mereka tidak salah, aku sebenarnya tidak ingin di anggap sebagai Pelakor, tapi aku tatap lakukan itu karena kamu yang minta" tambah nya dengan menambah tingkah berani nya mencium pipi calon mertuanya.


Namun langkah nya tertahan saat Satriya menahan tangan nya, dia menatap tangan nya di genggaman erat oleh Satriya sampai pandangan kedua nya bertemu, mereka sama-sama memperlihatkan tatap kesakitan yang mereka sendiri ciptakan.


Sampai di mana Maura menampilkan wajah garang nya karena tidak lagi tahan dengan kancil licik ini.


"Apa" ketus nya saat dia merasa genggaman tangan Satriya semakin erat di pergelangan tangan nya.


"Kamu.....tidak seharusnya bersikap seperti itu, perjanjian kita untuk tidak melibatkan hati di antara kita, aku rasa kamu perlu di ingatkan untuk ini" geram Satriya.


"Sedang hamba usaha kan yang mulia raja" ucap Maura tak kalah geramnya namun terselip senyum penuh kepalsuan yang membuat Satriya bertambah geram.


Apa lagi wanita itu kini dengan berani dia menghempaskan tangan nya.


"Jangan pernah mengundang ku untuk hal seperti ini membuang waktu saja, rasa nya aku ingin menampar mu"


"Tampar saja, jika itu membuat mu merasa lega" desis Satriya yang langsung di tatap oleh Maura.


Tanpa basa-basi Maura langsung mengarahkan tangan nya ke arah pipi Satriya dan,


Plaaaak.


"Aaaahhh......sakit" keluh nya saat rasa panas di telapak tangan nya terasa begitu sakit, bahkan dia sampai berjongkok untuk meminimalisir rasa sakit di telapak tangan nya.

__ADS_1


Satriya tertegun melihat itu, selama hidupnya hanya ayah nya lah yang menampar nya, tapi kini wanita yang bertahta di hatinya itu dengan berani menamparnya, tapi bukan kah dia yang mengizinkan nya.


Hanya dia cukup terkejut saat dengan berani nya Maura melayangkan tangan nya pada tubuh nya yang sama sekali tidak bergerak meski Maura menggunakan kekuatan penuh bahkan sedikit mencakar nya.


Satriya menghela nafasnya, mengatur stok kesabaran yang ada dalam diri nya, yang mungkin tercipta hanya untuk Maura, lihat lah, telapak tangannya memerah akibat berbenturan dengan pipi nya yang keras untuk ukuran Maura yang ingin membuat nya kesakitan.


Dan kini wanita itu yang kesakitan bukan, Satriya meraih kotak es krim di meja lalu menempelkan nya pada telapak tangan Maura.


Satriya lebih memilih untuk mendapatkan tamparan dari Maura dari pada menerima cinta dari wanita itu, dan merasa lega dan juga kasihan, lega karena dia kembali tersadar dari mimpi indah nya akan Maura yang menghantuinya setiap menit dalam hidupnya, hampir sejak pertemuan kembali mereka hidup Satriya berantakan karena terlalu memikirkan Maura.


Tapi hati nya juga sakit saat melihat wanita itu kesakitan.


"Maura"


"Sampai kapan?"


"Sampai kapan kamu akan terus menyakiti aku" tangis nya lagi, tak bersuara tapi air mata nya berlomba keluar dari sudut mata nya.


"Itu semua karena ulah mu sendiri yang egois" decak Maura sambil menatap Satriya.


"Ayo kita ke klinik depan atau mau ke rumah sakit"


"Aku ingin kamu juga merasakan kesakitan yang sama, sampai keluar darah"


"Mau jadi apa kamu"


"Diam lah" bentak Maura, tidak lagi ada wajah teduh di raut nya semua berganti dengan wajah penuh dendam yang ingin menghabisi mangsa nya.


"Maura, aku..."


"Aku membenciku Satriya, aku benci keegoisan mu"


"Kalau aku egois sejak kamu di bawa Arka ke hadapan ku, saat itu juga aku sudah menikahi mu"

__ADS_1


"Kamu memang keras kepala"


Decak Maura sambil mengarahkan tangan Satriya pada bibir, dia menatap penuh dendam pada Satriya.


Satriya tersentak saat tahu Maura menggeram di sana.


"Diam lah"


Satriya tersentak saat Maura dengan berani memerintah nya, selama ini tidak ada satu pun orang yang berani memerintah nya, dan kini wanita ini berani memerintah nya, dan aneh nya lagi seluruh anggota tubuh dan syaraf nya memenuhi perintah Maura.


Sampai dia merasa pedih di tangan nya akibat gigitan dari Maura yang meninggal bekas di sana dan sedikit darah yang keluar, bahkan dia menambahkan lagi dengan kuku jari nya.


"Nah baru aku lega" puas nya saat melihat Satriya mengeluarkan darahnya.


"Jangan lupa nanti malam sebelum tidur lakukan tugas mu" ucap nya sambil berlalu dari sana, tanpa menghiraukan Satriya yang menatap ke arah nya.


Maura pergi dari sana, dengan linangan air mata, dia marah dan juga sedih dengan keadaan nya, di mana dia seakan mengemis cinta pada laki-laki calon mertuanya itu, yang dia sesali saat ini adalah, kenapa orang yang di cintai malah akan menjadi mertua nya, sebercanda itu kah takdir cinta nya.


Apa tidak bisa jika dia memilih takdir hidup nya bersama Satriya saja, bukan Arka laki-laki yang tidak pernah dia cintai, dia hanya ingin menikah dengan laki-laki yang dia cintai itu.


Dia ingin cinta pertama nya menjadi cinta terakhir nya, terlepas apa pun perbedaan di antara mereka berdua, dia ingin hidup seperti keinginan nya, bukan keinginan orang lain.


Sebenarnya dia bisa saja tidak melakukan itu semua, apa yang dia cari sampai di menyakiti hati nya sendiri.


Yang di cari adalah cinta seorang Satriya yang telah menolak cinta nya bukan, lalu apa yang masih dia harapkan dari semua itu, pada hal dengan jelas terlihat, hanya ada kesakitan yang dia dapatkan.


Dulu dia yang pergi tapi saat ini sendiri yang ingin kembali, selemah itu kah hati nya saat sudah berhadapan dengan Satriya, saat ini dia hanya bisa berharap Satriya benar-benar egois lalu merengkuh raga nya sebagai belahan jiwa nya.


Tapi cinta nya kalah dengan kecintaan Satriya pada anak nya, yang itu berarti dia tidaka akan bisa bersama dengan Satriya apa pun yang terjadi nanti nya, karena pada kenyataannya Arka lebih di prioritaskan oleh Satriya di bandingkan dia yang hanya aib bagi seorang Satriya, sebuah kesalahan di masa lalu yang tidak mungkin bisa mereka lupakan bagaimana pun cara nya.


Pipi nya bersemu saat mengingat apa yang di katakan Satriya tadi, sebuah gelar yang ingin sekali dia sandang di antar semua gelar yang ada.


Sebagai......

__ADS_1


__ADS_2