
Satriya mondar mandir sambil menatap ponselnya,
Lalu berdiri menatap ke arah luar jendela yang menampilkan hiruk pikuk Nusa penida yang tidak pernah tidur, meski waktu sudah lewat tengah malam.
Dia duduk dan bangkit lagi dari sofa yang dia duduki, berulang kali dia mengecek ponsel nya, mungkin jika ponsel itu terbuat dari kertas, pastilah sudah lecek di buat nya.
Sekali lagi dia menghelakan nafasnya.
Ini serius?.
Kenapa tidak ada balasan lagi dari vampir manis nya itu,
Masuk ke spam atau dia silent sih?.
Satriya mengotak-atik ponsel nya namun hasil nya tetap sama.
Haah.
Ini beneran, gak salah kan!.
Kenapa tidak ada balasan dari wanita yang suka menggigit nya.
Tidak ada pesan atau pun panggilan masuk dari vampir manis nya itu.
Dan lagi ini sudah hampir subuh, namun dia masih tetap terjaga hanya untuk menunggu pesan balasan dari Maura, yang mungkin saja sudah menyelami alam mimpi nya.
Banyak pesan di sana main tidak ada satu pun yang menarik perhatian nya, bahkan nomor-nomor orang penting yang masuk ke dalam di biarkan begitu saja.
Mana pesan dari Maura?.
Kenapa tidak ada satu pun yang masuk?.
Satriya menaruh ponsel nya kembali, dia berkacak pinggang saat sambil merutuki kebodohan nya.
Harus nya dia tidak menuliskan kata-kata itu, kalau saja dia mengiyakan pasti dia akan melewati malam dengan memeluk tubuh Maura tanpa harus merasakan kedinginan seperti saat ini.
Tadi dia merasa kesal pada Maura yang membentak nya, karena apa yang Maura katakan adalah benar dan tanpa sadar Maura selalu tahu tentang nya tanpa di beritahu oleh siapa pun.
Duag.
Tembok tak bersalah dia sebelah nya menjadi sasaran nya saat ini, dan cincin yang melingkar di jari nya pecah dengan permata nya yang berhamburan memenuhi lantai hotel nya, dia menatap tembok tersebut yang sedikit meninggalkan bekas akibat pukulan nya.
Sial.
Cincin ku rusak gara-gara kekesalan ku sendiri, batin Satriya.
Dia membersihkan pecahan nya, lalu mengambil chip yang ada di dalam nya permata nya, membungkus chip tersebut dengan tissue dan memasukkan nya ke dalam dompetnya.
__ADS_1
Tetap saja,
Hati nya tidak tenang dengan itu semua, dia mengerang di sofa, mengacak-acak rambut nya, terlintas dalam benak nya untuk memenangkan diri dengan alkohol, sesuatu yang tidak pernah lagi dia lakukan.
Masak aku harus mabuk hanya karena wanita sih, sungguh tidak etis seperti itu, batin nya sekali lagi.
Satriya terus memarahi diri nya sendiri sampai azan subuh di ponsel nya berbunyi, terdengar helaan nafas kasar di sana.
Aku bahkan belum memejamkan mata sampai subuh, dan ini semua gara-gara vampir manis itu, gerutu nya lagi.
Dia berjalan menuju kamar mandi mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah pagi, dia harus memenangkan diri nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Satriya sudah berada di kantor milik kolega nya yang akan bekerja sama dengan Arka untuk proyek yang tengah mereka kerjakan, owner dari perusahaan itu terlihat ketar-ketir saat berhadapan dengan Satriya Kamandanu.
Bukan karena apa?
Kalau dia tidak menuruti keinginan nya pastikan lah apa yang dia miliki akan hancur satu kedipan mata, dia harus benar-benar berpikir untuk bisa menang menghadapi manusia setengah iblis yang ada di depan nya.
"Lakukan kerjasama nya, atau kamu akan kehilangan semuanya"
"Aku tidak bisa begitu saja menyetujui nya Satriya, kalau kedua usaha ini di satu kan, aku tidak yakin akan berhasil nanti nya" keluh CEO perusahaan itu.
"Akan berhasil jika kamu benar-benar melakukan nya, kalau saja dulu kamu menurut omongan ku pasti proyek ini sudah berhasil sejak lama" desak Satriya.
"Lima belas persen"
"Tidak ada lagi tawaran tiga puluh persen dengan akses penuh ke dalam tempat wisata"
"Ok tanda tangani dalam satu jam kedepan."
Satriya berlalu dari sana, dengan decak kekesalan semua orang yang ada di ruang meeting.
Di sisi lain Arka tampak bersemangat saat saat melihat ponsel yang ada dalam genggaman nya, dan itu menarik keingintahuan Maura yang duduk di hadapan nya.
"Kamu masih waras kan Ka?"
"Menurut mu"
"Agak gila setengah persen dari satu detik yang lalu" gumam Maura yang masih tampak murung.
"Perusahaan X menyetujui proyek kita"
"Benarkan?"
"Iya," ucap Arka yang menyodorkan ponsel nya.
__ADS_1
"Cepat sekali ya, mereka berubah pikiran"
"Mungkin karena kita yang langsung ke sini bukan memerintah karyawan cabang untuk mendiskusikan nya" bangga Arka
Dia tidak menyangka kalau kerja sama itu akan cepat terlaksana, mengingat meeting kemarin berjalan alot yang membuat nya sedikit kesal.
"Ayo kita ke kantor, kita urus semua nya, apa tim evaluasi nya sudah terbentuk?" tanya Arka sambil merapikan barang-barang yang akan dia bawah ke kantor.
"Jelas belum lah, orang kemarin kerja sama nya belum deal"
"Ya sudah kita selesaikan sekarang juga, jadi kita masih punya waktu sekedar bersantai di sini"
"Oke aku siap-siap dulu"
...****************...
Satriya kini berada di salah satu ruangan di mana sejak tadi tidak ada hal penting yang dia lakukan, dia berulang kali mengecek ponsel nya.
Namum hasil nya tetep nihil, tidak ada chat dan keusilan dari Maura sejak tadi malam, dia menutup kopi yang berada di depan nya, dia menyesap nya lalu menghisap nikotin yang terselip di antara jari tangan nya.
sekali lagi, dia melirik ponsel nya.
Sudah lah.
Abaikan saja dia.
Perhatian nya teralih saat dua orang masuk ke dalam ruang dengan menundukkan kepalanya.
"Selamat siang bos"
"Maaf menganggu waktu nya"
"Katakan"
"Tidak ada pergerakan yang berarti dari kedua target bos, tapi ada kabar yang dari Nagasaki kalau Mr Bean merencanakan sesuatu" jelas salah satu di antara kedua orang itu.
"Dan target nya tetap Tuan Arka, mereka masih akan menggunakan kedua orang itu untuk memancing kemunculan Tuan Arka di sana, dan rencana penyekapan itu terekam jelas di Cctv yang saya pasang di tas yang di gunakan oleh Shinta"
"Tetap jalankan misi ini jangan sampai ada satu pun berita yang terlewatkan, aku masih ingin tahu, seberapa jauh mereka ingin menghancurkan ku lewat Arka"
"Baik Bos"
"Anuuu....bos..." ragu Dika saat ingin keluar dari sana.
"Aku tahu apa yang kalian inginkan, jaminan atas keluarga kalian ada di tangan ku"
"Mereka akan tetap baik-baik saja apa pun yang terjadi dengan kalian" tegas Satriya yang membuat kedua nya bernafas lega.
__ADS_1