Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)

Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)
Makan siang


__ADS_3

"Kamu sudah makan siang?"


Duaaarr.


Maura serasa ingin tenggelam di lautan lepas saat mendengar kalimat yang saat tidak dia ingin dengar keluar dari mulut Satriya, dia menghelakan nafas nya, dia tidak mungkin menolak nya bukan, ada banyak orang di sini, mulai dari para direktur hingga para pejabat ada dalam meeting kali ini, yang tadi nya itu adalah tugas Arka tapi malah di limpahkan pada nya karena ada jadwal yang ternyata bertabrakan.


"Saya belum makan siang pak" jawab Maura tanpa mau menatap kearah Satriya.


"Mau makan siang sama saya?"


"Bapak duluan saja, saya masih harus mengecek kembali laporan sebelum di serah kan pada pak Arka"


"Kamu bisa menyerahkan pada Bagas nanti, sekarang ayo kita makan siang dulu"


Maura mengangguk dengan enggan saat mendengar apa yang di katakan oleh Satriya, tidak lagi ada alasan yang bisa di katakan untuk menolak ajakan dari calon mertuanya.


Maura berjalan mengikuti Satriya yang berjalan ke arah restoran Jepang di samping tempat pertemuan, Maura menatap punggung laki-laki tinggi besar di hadapan nya, yang berjalan angkuh dengan sebelah tangan di masuk kan kedalam saku celana nya, dulu saat pertama kali mereka bertemu rambut laki-laki itu belum memutih seperti itu, masih ada satu dua bagian yang hitam, yang kini di sisir rapi.


Kemarin saat dia menyempatkan diri untuk membaca buku, ada satu kalimat yang menurutnya cocok untuk sosok laki-laki di depan nya itu sexy old man.


Mungkin kata itu pantas untuk nya, dia akan menjadi pusat perhatian bagi seluruh wanita yang ada di muka bumi, karena dia memiliki semua kriteria yang di impikan setiap wanita.


Mapan, tampan dan juga berkuasa.


Kalau saja dia orang yang suka mempublikasikan foto nya pasti dia kan menjadi pusat dari segala nya.


Aahh


Tidak.


Maura tidak ingin Satriya terkenal, jangan sampai ada yang tahu skandal nya, bisa jadi dia akan menjadi bullyan bagi sebagian orang karena kesombongan nya, dan sebagainya besar lagi mengagumi sosok nya.


Satriya memelan cara berjalan nya dia ingin mensejajarkan diri nya dengan Maura, dua menghentikan langkah, dan kembali berjalan saat mereka sudah jalan sejajar.


"Jangan terlalu jauh, nanti kalau hilang bagaimana?"


Apa yang dia katakan, mana ada seperti itu, kalau laki-laki itu ingin mendekati nya tapi kenapa tidak ada ekspresi yang terlihat dari wajah nya, Maura menatap sekeliling nya yang ternyata di ikuti oleh beberapa orang yang masuk dalam rombongan Satriya.

__ADS_1


Ini saat nya, saat pembalasan yang dia tunggu, kita lihat sampai di mana laki-laki itu bisa tahan dengan pesona nya, sialan membuat laki-laki itu menyesal, dia akan bersikap sangat manis dan lembut pada nya.


"Baik Bapak" ucap nya dengan sedikit, mendayu.


Tak lupa senyum yang terpatri di bibir yang bisa membuat semua orang terpesona.


Senyum itu lagi, tidak bisa kah dia melihat senyum yang tulus satu hati seperti yang pernah dia lihat seperti waktu itu, apa yang tidak dia ketahui tentang wanita nya itu, apa delapan tahun ini membuat nya memiliki kepribadian ganda.


Satriya merasa kalau Maura kini tengah mengibarkan bendera perang dengan nya, apa ini motif balas dendam nya saat pertemuan pertama mereka, yang pasti Satriya belum bisa memastikan nya secara gamblang.


Semua orang yang ada di sana langsung menaruh perhatian pada Maura yang kini sibuk bercakap-cakap dengan orang di sekeliling nya, yang membuat nya mendengus sambil terus melangkahkan kakinya, sedang Maura dia tersenyum sinis saat menyadari perubahan sikap dari Satriya.


Sesekali Satriya menatap ke arah belakang memastikan Maura mengikuti nya, dia menarik nafas nya dalam-dalam saat melihat Maura yang tampak seseorang terkikik saat mendengar apa yang di cerita kan oleh staf nya.


Cantik.


Tapi beracun, dia pernah melihat senyum tulus di bibir Maura tapi yang membuat nya sakit adalah semua itu terjadi saat Maura bersama dengan putra nya, Arka.


Pandangan dan juga perhatian yang diberikan Maura pada putra tunggalnya itu tampak begitu tulus tanpa rekayasa sedikitpun.


Dan itu hanya nya saja.


Tapi angan nya langsung buyar saat melihat putra nya itu, kini ada di depan nya dengan pakaian santai.


"Sudah jalan-jalan nya"


"Mana ada seperti itu, aku baru menyelesaikan rapat nya, dan tanda tangan langsung"


"Bagus, itu baru anak Ayah"


"My Queen" sapa nya sambil menunduk kepalanya mengecup punggung tangan Maura.


"My king" baas nya berlagak menunduk juga.


Sekedar informasi bahwa mereka sudah berpawang mungkin.


"kamu mau ikut makan siang?" tanya Satriya pada Arka yang tidak di jawab saat pertanyaan ayah nya itu terlihat seperti ingin menelan nya bulat-bulat.

__ADS_1


Dia salah tingkah.


Kenapa ayah nya seperti itu, apa ada yang salah.


"kamu sudah makan Ka?" ucap Maura menyela pembicaraan mereka berdua.


"Kalau belum sekalian saja, dari pada aku hanya makan berdua dengan pak Satriya, kalau ada kamu kan tidak akan canggung nanti nya"


"Kamu mau makan siang bersama ayah?" tanya Arka sambil mengorek telinga nya untuk memastikan apa yang dia dengar itu tidak salah.


Karena setahu nya, ayah nya itu tidak pernah mengajak karyawan nya untuk makan bersama, apa ini pengecualian karena Maura adalah calon menantunya, tapi kenapa wajah ayah nya itu tidak bersahabat, seakan ayah nya itu keberatan jika dia ikut makan bersama mereka.


"Kalian makan saja, saya baru ingat kalau ada pekerjaan yang harus saya selesaikan" pamit nya yang langsung memutar jalan, sedangkan para pengawal nya kelimpungan saat atasan mereka berubah haluan.


"Ada apa dengan calon mertua mu?"


"Kenapa aneh sekali"


"Ya, seperti itu, dia tidak bisa di tebak"


Maura terkekeh senang saat bisa lepas dari laki-laki itu, berkat Arka yang datang di waktu yang tepat kalau tidak bisa-bisa dia akan benar-benar makan siang dengan lord of lord itu.


Jika semua orang mengatakan kalau Satriya sulit di tebak, maka itu kebalikan dari yang Maura rasakan, dia selalu bisa menebak apa yang ada di pikiran Satriya.


"Kita makan ya, aku lapar" ucap nya yang bergelayut manja pada lengan Arka.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan"


"Ya aku juga, tapi di mana Bagas?"


"Dia sedang menuju kesini"


Jawab nya sambil mengarahkan Maura ke arah restoran Jepang yang tadi menjadi tempat tujuan nya bersama Satriya yang kini entah kemana pergi nya makhluk itu tadi.


Kini mereka sudah sampai di sana dan ternyata Bagas sudah ada di sana.


"Cie, mesra amat Bu, pakek gandengan segala mau nyebrang ya" ledek Bagas saat melihat dua sahabat nya itu menghampiri nya.

__ADS_1


__ADS_2