
Kini Maura berada di dalam butik yang di tunjuk oleh Satriya, dia sedang sibuk memilih baju yang dia sukai, dia memilih beberapa yang di suka lalu membawa nya ke kamar pas.
Dia keluar lagi, lalu mengembalikan nya dan mencari lagi sampai dia merasa cocok dengan pilihan nya dan membawanya lagi ke kamar, dia ingin melepaskan baju nya, tapi tunggu dulu,
Ting.
Ide jahil tiba-tiba terlintas begitu saja di kelapa nya dia menyalakan ponsel nya lalu dia meletakkan nya di meja kecil di samping kaca, lalu menekan tombol rekam, dan dia mulai membuka baju nya satu persatu.
Send, senyum jahil Maura terpatri di sana, dia lalu melipat baju yang di gunakan membawa nya menuju kasir, dia meminta kantong plastik nya lalu menyerahkan label harga yang tadi dia potong dengan alat pemotong kuku yang selalu dia bawa kemanapun.
"Pembayaran nya transfer atau cash?" tanya kasir yang bertugas di sana.
"Maura"
"Sandi, kenapa menyusul ku"
"Ini asisten pribadi nya pak Sat, dia yang akan menemani mu, aku ada meeting sebentar lagi"
Maura mengangguk sambil tersenyum manis di sana, membuat jantung sandi lagi-lagi tidak baik karena wanita itu.
Dia berjalan mendekati Maura lalu membelai rambut nya yang tergerai indah.
"Sandi" peringat nya yang keberatan dengan yang di lakukan sandi pada nya.
Bukan karena apa, tapi dia tidak ingin memberikan harapan pada siapa pun, karena pada dasarnya dia tidak bisa melupakan Satriya.
"Baik lah aku pergi, jaga diri baik-baik"
"Jaga dia dengan baik, kalau tidak karir mu taruhan nya"
"Apa kamu yakin, dia orang nya"
Sandi mendengus kesal pada Ardi yang sama sekali tidak mempercayai nya, ingin sekali dia mengajak nya bertarung untuk meluapkan emosi nya akibat cinta nya yang bertepuk sebelah tangan dan sekarang dia malah di ragukan omongan nya oleh orang kepercayaan Tuan besar nya.
Dan Maura hanya menatap jengah pada kedua nya yang bertingkah seperti anak kecil yang tengah berebut mainan.
__ADS_1
"Saya konfirmasi sama bapak dulu ya nona" Ijin nya yang di angguki oleh Maura.
"Apa?"
"Maaf pak menganggu, ini benar yang di katakan......"
"Bayar semua baju yang dia beli, lalu bawa dia ke restoran yang ada di atas butik itu untuk sarapan" bentak nya yang kesal, padahal semua itu dulu nya dia sendiri yang membuat peraturan, tapi kini dia sendiri yang menyalahi aturan.
Panggilan pun terputus.
"Sudah ya saya kembali ke kantor ada yang harus saya urus"
Sandi pun berlalu dari sana, dan Ardi yang menyerahkan kartu kredit pada Maura.
"Nomor pin nya 150515"
"Apa"
"Anuu,,,,,,, lima belas kosong lima satu lima"
Apa tidak ada lagi rangkaian nomor yang bisa dia pilih selain itu, rangkaian nomor yang membuat Maura merasa terhina di sini, kenapa juga harus tanggal keramat itu yang di gunakan oleh Satriya untuk nomor kartu kredit nya.
Tanggal di mana dia memutuskan untuk pergi dan tidak lagi ingin bertemu dengan Satriya yang menjadi penyesalan seumur hidup nya.
Maura menggesek kartu kredit nya lalu memasukkan nomor yang di berikan oleh asisten Satriya itu dan ternyata benar, dia berjalan keluar dari sana menuju tempat yang sekali lagi di tunjuk oleh Satriya.
Selama perjalanan menuju restoran yang di maksud, pikiran nya melayang tentang apa yang mereka lakukan, terutama dia yang tidak sengaja bermain api yang membuat nya terbakar habis.
Dia mengingat betapa lucu nya takdir hidup nya yang bertemu dengan cara yang salah, dan sial nya lagi kini mereka kembali di pertemukan
Maura ingin membuat Satriya bertekuk lutut di hadapan nya, mengakui perasaannya dan menikahi nya, bukan malah menyerahkan nya pada anak nya sendiri untuk menikahi nya.
Meminta nya pada orang tua nya bukan sebagai menantu nya tapi sebagai pendamping hidupnya, dia pernah kecewa satu kali saat memilih berpisah dengan Satriya.
Dan kini pertemuan kedua ini, dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama yang akan dia sesali seumur hidupnya, dia akan membuat Satriya mengakui nya dan merengkuh raga nya seperti saat malam kelam itu.
__ADS_1
Dia akan mengerjai nya sampai di tidak bisa lari dari pesona nya yang tidak bisa di tolak oleh siapapun, termasuk.
Satriya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam enam lebih, Satriya sudah tiba di bandara internasional Juanda, dia melangkah kan kaki nya tergesa-gesa seakan dia di kejar oleh jadwal padat yang tidak lagi bisa di tunda.
Padahal pada kenyataannya dia rela meninggalkan pekerjaan nya demi wanita yang kini masih berkutat dengan lembaran kerja yang ada di depan nya.
Dia masuk ke dalam mobil nya menghidupkan ponsel nya yang tadi dia matikan selama penerbangan berlangsung, dia meminta orang yang menjemput nya itu menuju ke restoran yang dia sebutkan nama nya.
Dia memilih restoran yang menyajikan makanan berat yang bisa untuk diet, karena seingat nya Maura adalah tipe wanita yang mati-matian menjaga bentuk tubuh yang merupakan aset berharga nya.
Ponsel nya sudah menyala dan ada satu yang menarik perhatian nya, ada pesan dari wanita yang menghantuinya selama beberapa tahun ini.
Dia membuka pesan yang ternyata adalah video yang......
Entah, mata nya seakan enggan teralihkan pada objek yang ada di dalam video tersebut,
dia harus kembali merasakan respon lain dari area bawah nya yang memberikan respon yang salah, bahkan keringat dingin nya keluar membasahi kaos yang dia gunakan.
Dia ingin membuang ponsel nya, tapi seakan ponsel nya itu melekat erat pada tangan nya.
Satriya memperhatikan setiap gerak gerik yang di lakukan oleh Maura di sana, lekuk tubuh nya yang indah dengan pahatan sempurna yang merupakan selera sekarang Satriya mengenai tipe wanita idamannya dan itu melekat erat pada sosok Maura.
Meski tidak secara langsung memperlihatkan semua nya tapi Satriya tetap saja bisa memperkirakan ukuran dan bentuk nya yang mungkin mengalami perubahan, yang mana saat ini Maura terlihat lebih kencang dan seksi menurut nya.
Andai dia buka calon istri anak nya pasti akan dia rebutan dengan cara apa pun, tapi yang ini tidak mungkin bukan, anak nya itu sudah melewati batas masa lajang nya dan harus segera menikah dan mempunyai keturunan.
Satu lagi pesan muncul di ponsel Satriya yang masih memutar kembali adegan yang di lakukan oleh Maura, meski yang tampak di sana hanya tubuh nya saja, tapi itu cukup membuat Satriya kelabakan.
"Terima kasih baju nya, dengan senang hati saya menerima nya"
Dan satu lagi foto Maura yang melakukan selfie mirror sebelumnya keluar dari kamar pas
__ADS_1
'cantik'