
Arka menatap intens ke arah Maura yang terlihat sangat serius saat ini, tidak bisa nya dia seperti ini, apa mungkin ada sesuatu yang gawat mengenai pekerjaan atau planning pembangunan di Nusa penida yang akan mereka tinjau satu Minggu lagi.
Atau mungkin saja tentang rencana pernikahan mereka, hanya dua kemungkinan yang ada dalam pikiran nya saat ini.
Arka menatap gelisah....
"Kamu tahu kan kalau selama ini aku mencintai seseorang?" ucap Maura yang membuat Arka menghembuskan nafas nya.
"Iya....si pangeran U"
"Hah.... pangeran U"
"Aku dan Bagas menamai pria misterius mu itu dengan sebutan pangeran U"
Maura mendengus......
lalu menarik nafas panjang nya dan menghembuskan nya lagi.
"Kamu tahu kalau aku baru saja bertemu dengan nya baru-baru ini"
Arka mendekatkan diri, seakan apa yang di katakan oleh Maura itu sesuatu yang sangat rahasia.
"Aku kira dia sudah lewat"
"Mana ada"
"Lah bukan nya kamu sendiri yang bilang"
Maura lagi-lagi harus menambah stok sabar nya agar tidak darah tinggi saat menghadapi Arka, ini salah nya karena curhat pada laki-laki, mereka tidak akan mendengarkan sepenuh nya dan hanya akan mengambil bagian penting nya saja.
"Siapa dia?"
"Jangan katakan ini sama siapapun, termasuk Bagas" peringat Maura yang kini dalam mode serius.
"Bukan kah Bagas selalu tahu apa pun tentang kita" tolak Arka yang tidak bisa menyembunyikan rahasia dari Bagas.
"Ini rahasia kita sebagai calon suami istri, awas kalau sampai bocor" ancam maura
"Coba tebak" seru nya yang tidak mau terus terang.
"Dia yang membuat mu berbunga-bunga dan kasmaran seperti ini?"
"Apa iya?"
"Sampai kamu berdandan seperti ini, secantik ini?" tegas Arka lagi.
Maura tersipu dan pipi nya merona merah.
"Siapa dia?"
Maura menaruh tangan nya di atas meja menjadikan nya alas kepala nya.
"Sandi mungkin"
__ADS_1
Plak...
Aaauuh.
"Kenapa memukul ku?"
"Tebak mu salah, lagi pula kenapa harus Sandi"
"Karena meneror ku selama beberapa hari ini dan menanyakan apa benar kita akan menikah"
"Hanya karena itu kamu menyimpulkan bahwa dia adalah orang nya"
Arka mengangguk dia tidak bisa menebak siapa orang yang akhir-akhir ini bertemu dengan Maura, namun dia mengingat satu kejadian di mana......
"Jangan bilang dia ayah ku" tebak Arka setelah cukup lama terdiam.
Maura memalingkan wajahnya.
Sambil memainkan sendok teh nya.
Arka tercekat saat melihat Maura menghindari tatapan nya, seakan dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Maura" panggil Maura dengan suara yang dia tekan.
"Apa" jawab nya lirih sambil meminum teh nya.
"Pangeran U adalah....."
Maura hanya melirik Arka kemudian memalingkan wajahnya.
Arka menatap lekat pada Maura yang terlihat salah tingkah itu, meski dia berusaha menutupi nya.
Banyak pertanyaan yang berseliweran di benak Arka.
Seperti kapan ketemu.
Sejak kapan.
dan bagaimana bisa.
Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya dan membuat nya seperti ingin meledak di sana.
Ini tidak bercanda kan.
Dan satu lagi yang paling ingin dia tanyakan yaitu tentang kewarasan seorang Maura.
Belum bisa Arka menguasai keterkejutan nya ponsel milik Maura berdering dan tertampang dengan jelas nama Satriya Kamandanu di sana.
Arka menatap kearah ponsel dan juga Maura secara bergantian, otak nya masih tidak bisa menerima semua ini, semua itu mengejutkan bagi nya dan dia tidak bisa menalarkan nya dengan akal sehat nya.
Arka membisikkan kata yang meminta pada Maura untuk tidak memberitahu keberadaan nya di sana, dan Maura pun mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo"
__ADS_1
"Kenapa lama sekali" protes Satriya di balik telepon.
"Mencari tempat yang aman"
Arka mendekatkan diri nya pada muara bahkan dengan sengaja menempel telinga nya di ponsel Maura, dia ingin mendengarkan pembicaraan ayah nya dengan Maura, sampai Maura melirik keberatan karena berat menahan tubuh Arka yang menempel pada nya.
"Ada apa?"
"Kamu jadikan malam sama Aku dan juga Arka?"
"Kayak nya enggak, untuk apa aku ada di sana?" tanya Maura yang tidak ingin terlihat di dalam.
"Aku masih kangen kamu!"
Kepala Arka langsung pening saat mendengar ucapan ayah nya, bahkan Arka menangkupkan kepalanya dengan tangan menekan.
Maura yang melihat itu mengusap lembut rambut Arka seakan dia tahu apa yang di rasakan oleh atasan nya.
"Kalian butuh waktu berdua, kalau aku ada di sana kalian pasti tidak bebas melakukan apa pun" tolak Maura yang tidak ingin berada di antara dua laki-laki itu.
"Tapi aku ingin ketemu kamu"
Arka yang samar-samar mendengar ucapan ayah nya, membuat kepalanya bertambah pening, kalau saja dia tidak ingat tentang siapa mereka yang harus menjaga citranya di depan publik, bisa Arka pasti kalau meja yang ada di depan nya itu kini sudah tidak akan berbentuk lagi.
Maura yang tidak bisa melihat wajah Arka pun hanya menatap khawatir pada nya, Maura juga tidak mungkin terus membohongi Arka dalam hal ini.
"Kamu datang lah ke sini, nanti aku tinggal sebelum kalian makan malam"
"Aku kesana sekarang"
Panggilan kedua nya pun terputus dan Maura masih menatap Arka sambil mengelus rambutnya, sampai di mana Arka mengangkat kepalanya saat dia merasa sedikit tenang.
"Aku seperti butuh banyak asupan" desis Arka yang langsung memanggil pelayan di sana, dia memesan spaghetti dan juga salad untuk menetralisir degup jantung nya, dia bahkan mengusap wajah nya yang kebingungan, dia benar-benar tidak menyangka akan fakta yang baru saja dia dapatkan.
"Jangan kemana-mana, aku perlu menenangkan diri, setelah itu kamu harus mengatakan sejujurnya apa yang terjadi"
Tanpa menunggu jawaban dari Maura Arka beranjak dari sana, dia keluar entah kemana mungkin menghisap nikotin atau entah lah....
Arka ternyata berada di sebuah taman yang tidak jauh dari tempat Maura berada dia menghisap nikotin nya sambil memikirkan ayah nya.
Masih ada setitik ragu dalam hati nya kalau itu bukan ayah nya, karena yang dia tahu ayah nya seseorang yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun.
Apa yang dia dengar tadi ayah nya, itu kah tingkah pria tua konglomerat saat jatuh cinta, tapi kenapa harus Maura, wanita yang lebih pantas menjadi anak nya, bahkan usia Maura jauh lebih muda dari Arka.
'Aku masih kangen kamu'
Arka merinding saat mengingat kata yang meluncur dari mulut ayah nya.
Apa itu benar Ayah.
Dia sampai membuang nikotin nya dan mengelus tengkuk lehernya yang meremang saat mengingat kata itu, dia masih tidak bisa menguasai keterkejutan nya kali ini.
Dalam benak nya banyak pertanyaan yang muncul di sana dan lagi dia baru mengingat satu kata yang.......
__ADS_1
Ya Tuhan ku......