
Maura yang melihat Satriya begitu serius dengan ponsel nya itu, tiba-tiba ide jahil muncul dari isi kepala nya yang selama ini tidak ada orang yang tahu, entah lah saat bersama Satriya dia seakan menjadi dirinya sendiri yang butuh perhatian dari pria berambut putih itu.
Tangan lentik nya di arahkan pada rahang tegas yang di tumbuhi sedikit bulu, ada rasa geli di telapak tangannya saat bersentuhan dengan bulu-bulu halus itu.
Satriya yang membeku merasakan tangan Maura yang membelai rahang nya, bahkan dia sampai memejamkan mata nya untuk merasakan halus nya jemari wanita itu.
Maura yang melihat nya tersenyum senang saat tahu respon yang di berikan oleh Satriya karena ulah nya itu.
Pintu di ketuk dari luar namun Maura sama sekali tidak menghentikan kegiatan nya membelai rahang tegas Satriya, bahkan saat para pelayan itu masuk dan menghidangkan makanan.
Sampai mereka pergi pun, Maura tetap seperti itu sampai di mana Satriya menangkap tangan nya, Maura yang sedang menikmati wajah serta mengira-ngira umur dari pria itu pun sedikit terkejut namun dia langsung bisa menguasai keadaan nya.
"Maafkan saya......"
"Saya lupa mengabari kamu" ucap nya sambil menggenggam erat tangan Maura menggunakan kedua tangan nya.
"Lepas"
Ucap Maura yang merasa genggaman tangan Satriya semakin erat.
Tapi Satriya menahan nya, dia ingin
agar Maura tidka lagi bermain-main dengan nya, dia menggoda nya di saat dia anak menikah dengan anak nya.
"Sampai kapan kamu akan tetap seperti ini, menggoda saya pun itu adalah hal berbahaya yang harus kami waspadai"
"Saya akan merestui hubungan kalian, asal kamu bisa memisahkan Arka dari Shinta, dia hanya ingin memanfaatkan cinta Arka untuk menguras harta nya" kata nya lagi
"Saya ada bukti nya dan dia sebenarnya juga menikah dengan orang dari luar negeri"
Maura mendongkol.
__ADS_1
Dia kesal saat rencana di ketahui dengan mudah oleh pria berambut putih ini, agak nya mulai saat ini dia harus berhati-hati dalam merencanakan sesuatu agar tidak di ketahui oleh nya.
"Apa yang kamu inginkan dari saya, apa kamu ingin menjatuhkan saya dengan jerat cinta mu, niat sekali kamu ya..."
"Sebegitu dendam nya kah?"
Maura tetap diam dia menjawab apa pun yang di ucapkan oleh Satriya, sampai dia merasa kalau tangan nya dia tarik ke atas lalu sebuah kecupan mendarat di punggung tangan nya, bahkan dia merasa Satriya menghirup wangi tangan nya, yang membuat dia membeku di sana.
Saat kecupan itu terlepas dia langsung menarik tangan nya kembali, lalu memeluk nya dan Satriya dia duduk menyandarkan dirinya di sofa dengan tangan yang terulur di belakang Maura.
"Apa pun akan aku lakukan untuk memisahkan mereka, karena aku tidak ingin dia kehilangan segalanya nanti" ucap Satriya
"Aku tidak peduli, yang aku peduli saat ini hanya kamu"
"Aku peduli karena aku sayang kamu" lanjut Maura
Kini giliran Satriya yang membeku saat mendengar apa yang di katakan oleh Maura.
Benarkah?
"Tapi aku membenci mu" ucap nya sambil membungkuk tubuh nya menuangkan teh yang ada di depan nya, perlahan dia menyesap nya.
"Aku sudah bisa di benci, bahkan tidak sedikit yang ingin membunuh ku" kekeh Satriya.
Tidak lagi ada jarak di antara pembicaraan mereka saat ini, mereka seperti seorang yang sering bersama atau mungkin sudah lama mengenal satu sama lain.
"Di sini hanya kita berdua"
"Ayo katakan apa yang ingin kamu katakan, aku janji akan diam tak tidak akan marah" janji nya pada Maura yang menatap sinis pada nya.
"Harus nya aku yang ngomong gitu, dan lagi kenapa harus 150515"
__ADS_1
"Tidak ada, hanya itu rangkai aman yang tidak akan di ketahui oleh siapapun" jawab nya Entang sambil memainkan rambut Maura.
"Kamu selalu ada di pikiran ku, bahkan tidak pernah hilang"
"Mulut buaya, kalau aku yang masih dua puluh tahun tidak hilang dari ingatan mu, lalu bagaimana dengan aku sekarang?"
"Aku akan mengganti nya jika kmu tidak berkenan....mungkin dengan tanggal ulang tahun kamu" Maura mendengus saat mendengar apa yang di katakan oleh Satriya.
"Kenapa juga harus aku, bukan kah kamu bisa mencari wanita lain?" tanya Maura yang sedikit mengulik Rana pribadi nya.
"Kamu sendiri bagaimana? banyak pria tampan di samping mu, bahkan seorang Arka Kamandanu menawarkan pernikahan pada mu kan?" Timpal Satriya
"Untuk apa pernikahan jika tidak ada cinta di dalam nya, lagi pula kalian belum datang ke rumah untuk membicarakan ini dengan ayah ku"
"Aku kan ke sana memintamu pada ayah mu" tawar Satriya
"Tapi bagaimana dengan ku, aku bahkan belum bisa lupa saat pertama kali kita....."
"Kamu harus melupakan nya, kontrak sudah berakhir dan tidak di perpanjang seperti keinginan mu, kamu yang memutuskan tapi kamu sendiri yang menyesali nya" gerutu nya.
"Kamu pikir bagaimana perasaan ku saat kamu memutuskan untuk pergi, aku menyesali kebodohan ku yang menerima begitu saja keinginan mu untuk berpisah, harus nya aku menahan mu ingin tetap bersama ku"
Dia marah pada diri nya sendiri dan juga pada Maura yang sama-sama tidak mau mengakui apa yang mereka rasakan, Hinga mereka sama-sama merasakan kesakitan sampai bertahun-tahun.
Seumur hidup nya dia tidak pernah mendapatkan penolakan, bukan tidak pernah karena dia hanya dua kali jatuh cinta.
Cinta pertama nya adalah teman masa SMA nya yang tiba-tiba meninggalkan nya bersama dengan musuh nya sendiri dan yang ke dua pada Maura.
Lalu bagaimana dia bisa menikah dan punya anak dari wanita lain, yang dia adalah ibu dari anak nya Arka.
Semua itu terjadi karena kesalahan satu malam saat perpisahan di SMA nya, waktu itu saat dia mengetahui perselingkuhan kekasih nya dengan musuh nya dia menghabiskan banyak minuman keras sampai dia tidak sadar di jebak masuk ke dalam kamar, di malam itu dia meniduri teman sekelas nya yang langsung hamil karena dia menumpahkan segala nya di dalam rahim wanita bernama Sarah itu.
__ADS_1
Hingga dia terpaksa menikahi sampai bayi itu lahir dan setelah itu anak nya di serah kan pada nya, sampai saat ini dia berada di luar negeri dan hanya sesekali pulang menemui Arka.
Tidak ada penyesalan dalam diri Satriya meski dia berpisah dengan istri nya dia malah terlihat lega saat itu, dia bisa memfokuskan diri untuk membesarkan anak nya dan melanjutkan pendidikan nya.