
Maura menikmati red Velvet nya, setelah pergumulan kedua kali nya, sejak pagi di belum makan sama sekali karena gugup membuat perut nya tidak terasa lapar sama sekali.
Pria itu duduk di sebelah nya, terfokus pada laptop yang ada di pangkuan nya, tanpa baju, hanya selimut yang menutupi bagian bawah nya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sebentar lagi dia akan pulang, Maura butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum akhirnya pulang ke Indonesia, dan melupakan semua yang terjadi di negara singa ini.
Kenangan yang tidak akan mungkin bisa di lupakan seumur hidupnya, bahkan mungkin akan terbawa sampai di liang kuburnya.
Tadi dia mendapatkan kabar kalau ini nya sudah sadar, namun masih harus melakukan pemeriksaan setiap minggunya karena shock yang di derita nya bisa berakibat pada mental nya.
Kemungkinan mereka akan membawa mama nya ke pusat konseling agar memulihkan kondisi sang mama.
Ya dia akan pulang secepat dengan membawa uang yang cukup untuk kehidupan mereka, untuk kuliah kakak dan juga biaya pengobatan mama nya dan juga adik nya.
Maura menegak teh nya, perut nya terasa kenyang saat ini, dia masih di sana di samping pria itu, namun dia merasa bimbang dengan hati nya, jika tadi di ragu untuk bertemu dengan pria ini, tapi yang sekarang terjadi adalah dia ragu apa setelah perpisahan mereka nanti mereka bisa bertemu kembali.
Di masa depan apa dia bisa berjumpa dengan nya lagi, seperti dia bukan orang dari kalangan biasa, buktinya dia tengah mengamati pergerakan saham dan juga email dengan huruf yang tidak di fahami
Di sana tertera sebuah nama di email nya.
Satriya.
Nama yang terdengar sangat kuat dan bersahaja bahkan terkesan seperti, entah lah dia bingung menjelaskan nya, yang pasti dia terpesona dengan pria ini.
Terdengar deheman dari pria itu, maura menegakkan tubuh nya kembali yang terlalu mencondong ke arah nya.
Maura menatap pria tersebut dengan senyum kaku, meminum teh nya untuk menghilangkan rasa canggung nya, dia merutuki kecerobohan nya yang membuat nya teramat malu pada pria itu.
Pria tersebut menyodorkan ponsel nya, yang berbeda dengan tadi pagi, di sana tertera deretan angka terkirim pada nomor akun situs tersebut, bertuliskan pembayaran atas nama nya.
Maura menghelakan nafas nya, dia teringat tujuan nya berada di sini saat ini, tak lama ponsel nya bergetar, ada pesan masuk dari bank.
Uang milik nya sudah masuk ke rekening nya mungkin, dia membuka fitur m-banking nya yang tertera uang dua belas miliar untuk nya, tangan mendadak dingin saat membaca tulisan tersebut.
Pria di samping nya tampak mengetik beberapa kata di ponsel nya, dan menyerahkan pada nya, di sana tertulis angka lima miliar tanpa nomor rekening tujuan.
Apa maksudnya?.
Maura menatap Satriya yang juga menatap kearahnya, secara bergantian mata pria itu mengarah pada nya dan juga ponsel itu, apa mungkin pria itu ingin melakukan transaksi lagi.
Maura menggunakan insting nya saat itu, dia meraih ponsel dan mengetik nomor rekening yang mungkin tidak akan terlacak.
Nomor rekening yang saat pertama datang ke Singapura dan dia salah dalam melakukan registrasi data, nama yang tertera di sana Naura Kartika.
nomor itu saja yang dia gunakan, lalu mengembalikan lagi pada pria di samping nya yang kemudian mengirimkan dana dan juga tanggal yang tertera di sana.
__ADS_1
25 05 di lantai yang sama dengan saat ini.
Berarti sepuluh hari lagi akan ada pertemuan kedua, dia menatap ponselnya yang kini sudah hampir tengah malam.
Dia harus pulang namun dia tidak tahu harus bagaimana mengatakan pada pria di samping nya.
Pria itu terkekeh saat tahu ekspresi Maura , dia menyingkirkan laptop nya, menyingkap selimut dan berjalan menuju lemari pakaian nya.
Dia memakai boxer dan juga celana panjang, tak lupa dia mengambil hanger yang di dalam nya berisi baju milik Maura.
Maura menerima hanger tersebut dan membuka nya, dan benar bukan itu baju yang yang sudah bersih sekaligus wangi.
Kapan dia me laundry nya?, pikir Maura.
Dan lagi satu paperbag yang di serahkan pada nya, itu bukan milik nya, Maura membuka nya dengan dahi yang berkerut di sana.
Maura terpekik tertahan,saat melihat isi dalam nya.
Di sana ada sepatu keluar dari brand ternama, satu jam tangan, laptop baru dan juga gelang yang nampak sepasang dengan kalung.
Biasa di katakan jika ingin membuka gelang itu harus menggunakan liontin dari kalung nya.
'Ini sepasang' batin nya.
Maura menatap pria tersebut dengan binar bahagia, pria itu hanya tersenyum tipis saat melihat ekspresi Maura, yang kemudian meninggalkan Maura di kamar tidur sendirian.
Flashback off
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maura membuka matanya sambil menghembuskan nafas kasar.
Air matanya langsung penuh di pelupuk mata nya.
Astaga, saat itu....
Kalau saja dia bisa memutar kembali waktu,
Pasti sudah......
Sudah lah....
Tidak ada yang perlu di sesali saat ini, yang terpenting saat ini dia akan menata kembali hidup nya, agar tidak terjadi lagi seperti itu.
__ADS_1
Jadi sekarang apa....
Tidak ada lagi guna nya gengsi bukan.
Maura menekan tombol panggilan lalu menempelkan di telinganya.
"Heem" Desis Satriya saat menjawab panggilan dari Maura.
"Kamu belum tidur?" kaget Maura saat hanya dengan satu kali dering panggilan sudah terangkat.
"Lagi ngapain?" tanya Maura dengan suara bahagia.
"Baru selesai sholat malam"
Maura yang mendengar itu tertegun.
Satu fakta yang dia baru ketahui saat ini, ternyata Satriya cukup religius juga.
"Sudah mau tidur kalau begitu?"
"Seperti nya" jawab Satriya datar.
"Kamu masih ngambek ya.."
"Ngambek kenapa?" ucap Satriya yang pura-pura tidak mengingat kejadian sebelumnya.
Maura mencebikkan bibir.
Apa pria itu tidak sadar kalau saat terakhir mereka bertemu dia menatap maura dengan tatapan mematikan saat mengatakan akan melanjutkan hubungannya dengan Arka, atau memang dia lupa kalau sedang ngambek.
Bukan Maura kalau tidak ada banyak ide jahil untuk mengerjai kancil licik nya itu.
"Ngambek karena aku tolak ajakan bercinta...."
Maura mendengar dengusan kesal dari seberang.
"Sudah tidak ada lagi keinginan untuk seperti itu"
"Hah, benarkah? sungguh? coba tebak aku sedang memakai baju apa?"
"Piyama motif Barbie"
Daammm.
Kenapa tepat sekali apa pria itu sudah setingkat dengan cenayang yang tahu segala nya.
__ADS_1
Dia memutar akal nya agar bisa kembali membuat pria ini kelimpungan.
Ting.