
Maura tertegun sambil menatap jalanan di sekitar nya.
Dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut lalu menegakkan lagi tubuh nya sambil berkacak pinggang.
Mengingat apa yang baru saya dia lakukan.
Ya ampun.
Kenapa aku marah-marah,
Bahkan berteriak-teriak di jalan pada Satriya lagi.
Ini bukan aku, bukan, tepat nya ini diriku yang disengaja aku sembunyikan, sejak dulu.
Namun itu semua terjadi begitu saja saat dia melihat kekecewaan yang di rasakan oleh Shinta.
Harus nya dia tidak ikut campur lagi dalam urusan orang, ini justru dia menceburkan dirinya dalam masalah yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan nya.
Batin nya berkecamuk, memarahi diri nya sendiri yang ikut campur urusan orang, tidak bisakah dia hidup dalam damai nya.
Sebenarnya apa tujuan nya, membuat Satriya cemburu, dan menantang pernikahannya dengan Arka, kemudian berbalik Satriya yang menikahi nya begitu kan.
__ADS_1
Tapi apa mungkin, sedangkan Arka dan Shinta sudah jelas bahwa mereka tidak bisa menikah, tidak ada lagi harapan untuk nya bisa bersatu dengan Satriya.
Apa lagi cinta di antara Arka dan juga Shinta begitu kuat meski pada akhirnya mereka tidak bisa bersatu,tidak akan mungkin bagi mereka bisa langsung melupakan begitu saja.
Kedua nya sama-sama terluka dan kecewa dengan kenyataan yang selama ini tertutup, andai saja tidak ada kesalahpahaman antara dua orang itu, pasti lah mereka tidak akan mencintai saudara sekandung nya.
Lantas dia harus berpihak pada siapa, bukan kah akhirnya akan tetap sama, perpisahan di antara Arka dan Shinta sudah terlihat jelas di depan mata.
Lalu, kenapa harus Maura ikut campur sampai dia memaki Satriya dengan segala tuduhan nya, dia mengerang frustasi sampai-sampai dia menghentakkan kakinya karena kesal.
Aaaaggghhhh.
Bagaimana mana ini.
Suara pukulan dan tendangan sejak tadi memenuhi ruangan, pasir berbalut kain kulit itu terus berputar seiring tendangan dan juga pukulan terus di layang kan.
Duuag.
Duuaaag.
Pukulan demi pukulan terdengar di sana Sampai terlihat ada satu sobekan di salah satu bagian.
__ADS_1
"Bos.... hentikan" Erik tidak lagi bisa menahan dirinya untuk membiarkan bos nya itu terus menghantam samsak itu.
Erik mengelus tengkuk nya yang tiba-tiba merinding saat melihat atasan nya itu sejak tadi mengerjai samsak nya, dia ingin menghentikan nya, namun dia masih sayang dengan nyawa nya, jadi dia lebih memilih untuk diam.
Pukulan terakhir di dengar sebelum, pasir yang berada di dalam sarung kulit itu berceceran di lantai, samsak itu tidak lagi sanggup menahan pukulan yang sejak tadi dia terima.
Satriya tampak terengah-engah sambil memandangi pasir yang mengotori setiap lantai yang ada di sana.
Sekujur tubuhnya penuh dengan keringat, kilatan marah tampak begitu nyata di mata nya, semua otot nya tampak menonjol di balik kulit nya.
Maura.
Wanita itu......
Berani-beraninya dia.....
Memang nya dia siapa, berani menghardik nya bahkan menceramahi tentang masa lalu nya, tidak kah dia tahu kalau itu semua akibat ulah dari.....
"Pasang lagi samsak nya"
Erik tergagap di sana, dia meminta bantuan salah satu teman nya untuk memasang kan samsak di sudut yang lain.
__ADS_1
Satriya merenggang kembali otot nya, dia bersiap kembali mengerjai samsak baru nya, tak ada kata lelah dalam kamus nya kali ini, yang dia rasa kan hanya emosi yang menggulung jiwa nya.
Bahkan sampai senja menjelang dia masih terus berada di sana, bergulat dengan samsak tanpa rasa lelah meski sudah tiga jam dia habis kan untuk melampiaskan kemarahannya.