Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)

Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)
Cemburu nya pria tua


__ADS_3

Maura masuk ke dalam ruangan di mana Satriya berada, mata nya mengedarkan pandangannya keseluruhan penjuru ruangan yang ada sana.


"Wah"


"Rapi sekali ruang ini"


"Gak usah pakai anonim"


Maura cemberut di sana, dia berjalan menghampiri Satriya yang sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran nya.


"Aku kesel ya sama kamu, suka sekali membuat drama"


Terdengar dengusan dari Satriya, tapi dia tetap mengabaikan nya karena dia tahu pasti itu yang membuat wanita itu nekad menemui nya di rumah, terlalu malas dia menanggapi Omelan nya.


"Bukan karena batal menikah dengan Arka, tapi karena kamu yang suka sekali membuat drama" cecar nya pada Satriya yang hanya menoleh ke arah Maura yang sedang berkicau ria.


Seperti biasa Maura selalu tahu maksud dari apa yang dia lakukan, apakah ini pertanda kalau mereka memang benar-benar berjodoh atau hanya suatu kebetulan semata.


Satriya mengalihkan pandangannya pada komputer yang ada di depan nya, sampai lengkingan suara Maura membuyarkan konsentrasi nya.


"Satriya"


"Jangan pura-pura sibuk, kantor tutup hari ini"


"Terserah aku lah"


"Apa ruangan ini tidak ada password nya"


"Ada, tadi aku buka karena kamu mau masuk"


"Apa kode nya sama 150515"


"Bukan urusan kamu"


"Ya siapa tahu kamu pingsan di dalam sini"


"Dia kok yang jelek-jelek, apa kamu ingin aku secepatnya mati"


"Jangan" pekik Maura


"Aku mau coba buktikan" lanjut dengan senyum jahil dan memiringkan kepalanya pada Satriya.


Maura berjalan dengan anggun keluar dari pintu ruang itu dan menatap pintu nya.


"Satriyaaaa, buka pintu nya" pekik Maura sekali lagi saat dia tidak berhasil membuka pintu.


Satriya menghela nafas saat mendengar teriakan dari Maura, dia pun membuka pintu ruang kerja nya dengan beberapa kode sandi yang ada di sana banyak rangkaian kata dan huruf di sana termasuk tanggal lahir Maura dan juga nama nya tersemat di sana.


"Astaga, kamu benar-benar ya" desis muara yang kini kembali masuk ke dalam ruang itu dan pintu tertutup secara otomatis oleh Satriya.


Maura yang datang dengan mengenakan koas polos dan juga celana panjang, rambutnya dia ikat setengah dengan riasan natural membuat Satriya tidak lagi bisa berkonsentrasi.


Penampilan sederhana Maura membangkitkan sesuatu yang telah lama tertidur.


"Apa tidak ada orang lain yang masuk ke sini?"

__ADS_1


"Ada, keluarga ku bisa keluar masuk, coba lihat di sana ada gambar dari Arka saat dia masih kecil dulu, dan kamu orang lain pertama yang masuk ke sini,"


"Mungkin sebentar lagi, 'anak-anak kita' akan menambah coretan di sini" ucap Maura menunjuk kearah di mana guratan spidol.


Dug.


Refleks kaki Satriya membentur bawah meja saat dia ingin berdiri dari duduk nya.


Sialan wanita ini.


Anak kita, apa makanya coba.


"Kemarin kayak nya ada yang gak mau sama aku, sekarang udah ngomongin anak, adik nya Arka lagi"


"Aku tidak pernah mengatakan nya" sangkal Maura.


"Apa luka gigitan ku sudah sembuh?"


"Masih ada" jawab Satriya sambil menyingkap baju nya yang masih meninggalkan bekas merah dengan pola gigitan di sana.


"Tenang aku sudah vaksin kok aman" jawab nya sambil menunjuk deretan gigi nya.


"Apa kamu punya diabetes?" tanya Maura dengan tampang panik nya.


"Tidak"


"Sini kamu"


"Ya yang tuan besar"


"Apa maksudnya mengirim kan benda tak kasat mata itu pada saya, mau buat jimat atau bagaimana?" desis Satriya saat Maura berdiri di depan nya bahkan tubuh mereka menempel erat.


"Sekarang saya yang mau tanya nya Gusti prabu, apa maksud anda menjodohkan pangeran dengan putri yang lain, apa anda tidak berkenan dengan saya lagi, atau saya mau di jadikan ratu saja"


"Heem"


"Boleh"


Sial, umpat Satriya saat lidah nya bergerak acak tanpa dia komando. Tapi dia sama sekali tidak ada keinginan untuk meralat atau menyesali perkataan nya.


Oh, rupanya dia mau mempermainkan ku, kurang ajar ini tidak bisa di biarkan, sampai kapan dia akan kuat bertahan, batin Maura.


"Aku gak perlu izinkan untuk mendekati mu" ucap Maura sambil meraba dada bidang Satriya yang menatap nya dengan wajah dingin nya.


"Tapi sayang Arka mungkin benar jatuh cinta pada ku saat ini, dia memberi aku cincin tunangan sebagai bukti keseriusan nya" pancing Maura sambil menunjukkan jati nya yang kini ada satu buah cincin yang melingkar di jari manis nya.


Wajah Satriya yang tadi nya datar kini berubah menjadi merah padam, menunjukkan kalau sang empunya raga tengah menahan amarahnya.


"Lepaskan"


"Apa cincin ini?, tidak mau"


"Lepaskan atau aku yang lepas" tekan Satriya yang tidak terbantah lagi.


"Lepaskan saja jika berani" tantang Maura yang kini berjalan menjauh dari jangkauan Satriya.

__ADS_1


"Jangan memancing ku" tekan nya sekalian lagi, dengan satu gerakan kini Maura kembali berada dalam dekapan nya.


"Aku lepaskan, jika kamu punya ganti nya" desis Maura yang masih tidak mau kalah.


"Oke"


Maura terbelalak saat mendengar jawaban dari Satriya.


Dan lagi pria itu menarik laci meja nya, lalu menyerahkan kotak bludru warna hitam pada Maura yang menatap tidak percaya pada nya.


"Jangan aneh-aneh, aku harus ngomong apa sama Arka nanti"


"Tinggal ngomong kamu simpan atau hilang kenapa sih" desak Satriya yang ingin Maura menuruti keinginan nya.


"Kamu yakin, nanti bagaimana kalau Arka marah"


"Pakai yang dari ku atau tidak usah pakai sekalian" geram Satriya saat Maura masih tidak menuruti keinginan nya


Maura mendongkol, tapi dia harus menuruti nya kan, kalau tidak pasti akan menimbulkan banyak masalah dan drama lagi, apalagi dia sedang cemburu saat ini, meski sebenarnya dia ingin sekali mencakar wajah nya.


Lagi-lagi ide jahil Maura tidak ada habisnya jika berhadapan dengan Satriya.


"Aku akan pakai dari kamu tapi ada syaratnya"


"Apa lagi"


"Aku minta cium"


"Oke"


Maura terperangah tidak percaya.


Kenapa respon nya cepat sekali.


"Aku minta cium bibir, boleh"


"Iya"


Tunggu ada yang tidak beres di sini,


pasti ada akal bulus tersembunyi, tapi itu kan memang sudah sifat nya dia, dan sial nya dia jatuh cinta pada kancil licik yang berhasil mencuri hati nya.


"Jangan bercanda lagi, aku serius"


Maura terperangah sekali lagi saat kotak itu dia buka, di sana ada satu cincin dan juga kalung yang cantik di dalam nya.


"Cincin nya sepasang dengan ku" ucap Satriya membuyarkan keterkejutan Maura.


"Tidak akan ada orang yang menyangka jika kini sepasang"


Kata nya lagi yang kini meraih cincin itu dan memasang nya di jari manis Maura setelah melepas cincin dari putra nya.


"Pas" bangga nya saat pilihan nya pas di jari manis Maura.


Selanjutnya dia mengambil kalung dan mengalungkan di leher jenjang Maura.

__ADS_1


Cantik. desis nya saat kalung tersebut berada di leher Maura.


Sialan laki-laki ini, kenapa semakin lama dia semakin keren di mata Maura.


__ADS_2