Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)

Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)
Flashback


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan angka satu malam, namun Maura belum bisa memejamkan mata nya, entah karena dia yang belum mengantuk atau tengah memikirkan sesuatu yang menggangu pikiran nya.


Apa yang tengah di lakukan Satriya di malam yang sudah larut seperti ini, batin nya sambil memegangi ponsel nya.


Apa dia sudah tidak atau justru masih duduk di ruang kerja nya sambil mengecek laporan dari anak buah nya, tentunya dengan tatapan tidak mengenakan seperti biasa nya.


Mereka tidak saling menghubungi sejak pertemuan terakhir mereka mau ingin menghubungi nya terlebih dahulu, bahkan kontak Satriya sudah menghiasi layar ponsel nya, tinggal tekan tombol tersebut dan panggilan akan tersambung.


Maura masih menimang antara iya atau tidak, dia kangen sebenarnya tapi ya masa dia dulu yang menghubungi nya, toh juga Satriya tidak menghubungi nya seperti perjanjian mereka dulu.


Apa mungkin dia marah karena permintaan nya dia tolak, tapi kan......


Atau karena dia yang benar-benar memutuskan untuk lebih serius menjalankan rencana nya dengan Arka.


Sekali lagi Maura menatap nomor Satriya,


Ah, tidak, gengsinya lebih tinggi dari pada rasa kangen nya itu.


Maura kembali membaringkan tubuhnya di ranjang, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, namun tidak juga bisa menutup gundah di hati nya.


Dia yang termenung, teringat akan kenangan nya delapan tahun silam yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.


Flashback on


Jantung Maura berdetak lebih kencang saat mendapatkan pesan dari situs yang menyeponsori diri nya melakukan jual beli yang di lakukan, dia menatap ponselnya dengan penuh keraguan, antara iya dan tidak.

__ADS_1


Transaksi dua puluh miliar bukan hal yang main-main, dia akan mendapatkan bagian dua belas miliar jika dia mengkonfirmasi iya pada balas akun tersebut.


Di Ponsel nya tertera alamat salah satu hotel terbesar dan mewah di Singapura,


Haruskah dia kesana.


Lalu bagaimana dengan nasib dan keselamatan nya.


Dia tidak mengenal siapa orang yang beralamat yang tertera pada ponsel nya, dia masih ada waktu untuk membatalkan nya jika dia mau.


Dia hanya mengkhawatirkan dirinya sendiri, dia takut kalau orang itu adalah orang jahat, bagaimana kalau dia di perkosa, bahkan lebih parah nya, kalau yang menyewanya itu adalah seorang mafia, bisa-bisa dia di jual oleh mereka.


Lalu pantaskah harga dengan resiko yang akan dia tanggung.


Ponsel nya berbunyi panggilan dari ayah nya yang mengatakan kalau seluruh harta nya di sita oleh bank dan hanya di beri waktu satu Minggu untuk pergi dari sana, papa nya itu hanya di sisi kah uang 5 juta tanpa apa pun yang bisa dia bawa.


Dia yang saat itu tengah wisuda namun tidak ada satu pun keluarga nya yang datang, orang tua nya ada di rumah sakit dan kakak nya tengah berada di negara yang jauh untuk menempuh s2 nya.


Banyak yang menatap kagum ke arah nya tapi apa lah guna semua itu jika tidak ada satu pun keluarga nya yang datang, dia berjalan ke taman belakang yang sepi dari siapapun, dia menangis histeris di sana, tanpa ada orang yang tahu kesakitan nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Maura mengambil satu keputusan besar dalam hidupnya, saat ini dia sedang berada di lobi hotel mewah yang tertera di alamat yang ada di ponsel nya.


Dia merapikan kembali dandanan nya, menoreh lipglos nya, dia berdandan sederhana ala anak kuliahan, tidak ada kesan glamor atau mewah seperti yang mungkin di harapkan oleh pria yang menyewa nya.

__ADS_1


Maura berdandan senatural mungkin, agar terlihat fresh nanti nya, dia menghelakan nafasnya, mengatur gemuruh yang ada di hati nya, dia masuk kedalam lift dan memencet nomor lantai yang dia tuju.


Entah dia yang tidak sabar atau gugup menguasai nya, dia merasa lift yang di tumpangi nya berjalan begitu lambat, bahkan kemarin dia menghabiskan uang nya untuk melakukan perawatan full body, untuk menunjang penampilan nya hari ini.


Tapi dia sempat menghubungi Ayah nya, mengatakan kalau dia mengirimkan sejumlah uang untuk biaya berobat ibu dan juga biaya menyewa rumah untuk sementara waktu.


Lift yang dia tumpangi sudah sampai di lantai yang di maksud dia berjalan pelan-pelan dan anggun menuju nomor kamar yang sudah di janjikan.


Sekali lagi Maura menghelakan nafasnya,


Keputusan nya sudah jelas untuk melakukan apa yang dia sepakati, dia hanya bisa berharap, Tuhan mau membantu nya kali ini.


Maura menekan tombol bel yang ada di sana, tak lama pintu di buka oleh seorang yang mungkin seumuran ayah nya, dia menatap penuh tanya pada sosok wanita yang menekan bel apartemen milik nya.


Ya Maura baru menyadari kalau, lantai yang dia tuju bukan lagi hotel tapi sebuah apartemen yang di bangun di atas hotel mewah.


Pria itu berperawakan tinggi, bahak dia sampai harus mendongak saat ingin menatap nya, maura menatap waspada pada pria itu, bukan apa, tatapan yang di berikan oleh laki-laki itu seakan menembus jantung nya, tatapan tajam yang siap menguliti siapapun yang tidak dia sukai.


Maura tidak bisa mengatakan apa pun pada sosok pria di hadapan nya, tubuh besar dan otot kekar nya terbayang di balik kaos putih yang di kenakan.


Maura mengangkat tangan nya, menunjukkan pesan yang ada di ponsel milik nya, pria itu menatap ke arah ponsel Maura, kemudian dia menyingkirkan dari sana, membuka pintunya lebar-lebar dan mempersilahkan Maura untuk masuk kedalam.


Maura yang mengerti maksud dari pria itu pun masuk ke dalam, sungguh dia terpanah dengan interior yang ada di dalam apartemen tersebut, dia duduk di sofa empuk yang ada di sana, dia menatap sekeliling, namun pandangan nya henti pada satu titik di mana itu adalah sebuah kristal yang di pahat berbentuk menyerupai bentuk pohon yang menjadi icon salah satu negara yang cukup berpengaruh di dunia internasional.


Pria itu memberikan sebuah gelas berisi air putih pada Maura yang memang merasa kehausan, dan juga kegugupan yang coba dia hilang kan

__ADS_1


Dia menegak nya hingga setengah dan menaruh nya kembali di meja yang ada di depan nya.


Pria itu duduk di depan Maura sambil memainkan ponsel nya, setelah menyelesaikan pekerjaan nya pria itu mengulurkan tangannya pada Maura sambil menatap ke arah kamar tidur.


__ADS_2