Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)

Terpikat Cinta Musuh Ayah (My Sugar Daddy)
Deal


__ADS_3

Kata kata 'Aku masih kangen sama kamu ' itu menandakan mereka baru saja bertemu belum lama ini, seharian ini ayah nya berada di gua pribadi dengan pintu yang tertutup rapat, apa mungkin Maura juga ada di sana.


Tapi tidak mungkin juga kan, Maura saja mengatakan bahwa mereka baru bertemu akhir-akhir, tapi dia mencurigai tentang hari ini di mana ayah nya yang tidak mau keluar dari ruang kerja nya saat dia menghampiri ayah nya tadi, dan juga ayah nya tadi keluar menemui nya dengan pintu yang tertutup.


Jadi kesimpulannya ada yang tidak. oleh dia ketahui di dalam ruang kerja ayah nya tadi, karena biasa nya ayah nya itu akan membuka kunci password nya dan dia yang masuk ke dalam, dan dia yang masuk ke dalam menemui ayah nya, tapi pagi tadi....


Astaga.....


Arka masih tidak percaya dengan fakta ini, fakta mengenai kisah cinta ayah nya dengan wanita yang akan menjadi calon istri nya nanti.


Ahh, sial.


Arka kembali ke tempat Maura berada, dia ingin menanyakan secara langsung sebelum ayah nya itu sampai di sana, dia mendudukkan dirinya di hadapan Maura yang sedang menikmati teh nya.


"Sekarang jelaskan singkat nya dan jangan bertele-tele" perintah Arka


"Kamu tidak mau makan dulu, nanti tersedak bagaimana?"


"Jangan mengulur waktu lagi Maura, ayah kalau nyetir semua nya di anggap gas"


"Jadi benar orang yang kamu namai pangeran U itu adalah dia"


"Dia siapa, sama seperti yang aku pikirkan atau orang lain lagi" cecar Arka sambil menggulung spaghetti nya dan memasukkan kedalam mulut.


"Pangeran U yang kamu maksud itu adalah Satriya Kamandanu, ayah kamu" jujur Maura yang memalingkan wajahnya kembali.


Terdengar dengusan nafas dari Arka yang langsung memasukkan potongan daging yang cukup besar untuk mengalihkan keterkejutan nya.


"Lalu" kata Arka yang terus saja memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Maura menarik nafas nya lalu menceritakan tentang pertemuan pertama mereka, perpisahan yang menyakitkan karena keduanya yang sama-sama saling memendam rasa dalam diam, tentang keinginan Satriya untuk memisahkan Arka dari adik tiri yang tidak dia ketahui, serta mengorbankan Maura.


Arka menaruh garpu nya , dia meminum air yang sangat banyak untuk menghilangkan rasa enek di tenggorokan nya karena cerita maura, yang dia rasakan entah apa, terlalu romantis atau mau muntah mendengar nya.


Namun di lain sisi maura merasa kasihan pada Maura yang harus menahan kesakitan karena ayah nya.


"Kancil licik itu harus di beri pelajaran, bair tahu rasa, nanti kita main kan peran dengan epic kalau perlu aku cium kamu di depan dia sekalian.."

__ADS_1


"Iya maksud ku" ucap Maura dengan berapi-api.


"Kita mulai sekarang saja, nanti selanjutnya kita lakukan di Nusa penida, sekali saja pesan kamar yang ada pintu penghubung nya, nanti kalau dia sudah lengah kamu rayu dia biar aku bisa mendapatkan alamat lengkap nya dan aku yang akan ke sana langsung"


"Itu maksudnya" seru Maura.


"Kita deal ya"


"Oke, deal aku suka ini"


Arka pun mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Maura.


"Aku mau makan lagi, mendengar cerita mu bikin laper plus baper"


Maura terkikik mendengar ucapan Arka, tak sampai setengah jam Satriya sampai di sana, dia duduk berhadapan dengan Maura dengan tatapan yang sulit di jelaskan, bahkan dia sedikit mencondongkan badannya ke arah Maura yang melotot tajam ke arah nya.


'Dia ini pikun atau bagaimana, masih ada Arka di sini, namun tingkah nya malah seperti itu' batin Maura menggerutu.


Satriya memesan kopi nya dengan santai, namun yang datang bukan pelayan namun sang pemilik restoran lah yang datang menghampiri nya, ternyata mereka saling mengenal satu sama lain, karena dulu mereka berkuliah di tempat yang sama, bahkan pembicaraan mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia namun bahasa Yunani yang sulit di pahami oleh sebagian orang.


"Aku memang sengaja dandan cantik untuk nya" ucap Maura dengan raut mengejek pada Arka.


"Lihatlah mata nya sampai hampir terlepas tadi" kikik Arka sambil terus menyuapkan makanan ke mulut nya.


Tak lama pemilik restoran itu pun pergi dari sana meninggalkan mereka bertiga.


"Tumben ayah datang cepat?" tanya Arka basa basi.


"Nggak boleh, atau ayah ganggu waktu kencan kalian?"


"Kan kita janjian malam"


"Ayah mau ketemu Maura"


Arka mencibir ucapan ayah nya, bahkan menirukan ucapan ayah nya meski hanya dalam hati nya saja.


"Bagaimana kerjaan Arka, semua proyek bisa di tangani dengan baik atau perlu saya kuliah kan lagi"

__ADS_1


"Apa maksud ayah mau nyuruh aku kuliah lagi"


"ya siapa tahu, kamu perlu ilmu lagi"


"Sejauh ini semua proyek berjalan lancar pak"


"Itu benar atau karena kamu takut mau jujur sama saya" pancing Satriya yang ingin hanya ingin basa-basi.


"kan bis di lihat dari saldo perusahaan dan beberapa cabang yang di buka ayah"


"Itu kan dari kamu bukan dari orang lain"


"Saya sengaja datang lebih awal karena ada yang ingin saya sampaikan mengenal pembangunan hotel di pinggiran pantai itu apa bisa sukses nanti nya, mengingat beberapa tahun ini pengunjung pantai itu mengalami penurunan pengunjung" desis Satriya.


"Aku juga berpikir seperti itu" ucap Arka menyampaikan keluhannya, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Maura.


"Saya tidak ingin mengalami kerugian di sana" timpal Satriya.


"Saya rasa tidak pak, karena rencana nya kita akan gabungkan dua hotel milik kita, di Surabaya bisa kita pasti sedikit tidak menarik tapi kita akan buat semacam paket liburan yang menyajikan pemandangan pantai di Surabaya dan juga Nusa penida, rencana kami akan bertolak ke Bali hari Selasa depan"


"Rencana yang bagus, tapi apa kamu yakin akan berhasil?"


"Yakin berhasil pak, apa lagi kami juga merencanakan untuk membuat paket yang ditawarkan untuk para pengantin baru yang ingin berbulan madu" Lanjut Maura menjabarkan rencana


"Lumayan menarik ide kamu" seru Satriya sambil mengelus dagu nya.


"Lumayan kata ayah, itu rencana yang sangat bagus" protes Arka yang tidak terima dengan jawaban Ayah nya


"Itu karena bukan kamu yang mengatakan nya, malah nyuruh sekretaris mu yang jawab"


"Kan sama saja, lagi pula itu kerjaan dia kan"


"Benar pak, itu memang pekerjaan saya" ucap Maura yang membela Arka.


"Kalian kompak sekali, seakan jawaban sudah di briefing dulu" sindir Satriya yang terlihat tidak menyukai kedekatan Arka dan juga Maura.


Tapi dia juga tidak bisa memberikan kepastian pada Maura tentang apa yang dia inginkan, mungkin dia akan benar-benar merelakan Maura untuk putra nya, meski dia harus menahan kesakitan nya.

__ADS_1


__ADS_2