Tersesat Dalam Fantasi

Tersesat Dalam Fantasi
Keributan


__ADS_3

Berita kehamilan Monica begitu cepat menyebar, Bak angin yang berhembus setiap harinya. Bahkan, Gosip demi gosip yang tak sedap sudah menjadi buah bibir di setiap devisi perusahaan. Namun, Monica masih saja konsisten untuk bekerja. Setelah beberapa hari ia usai di rawat di rumah sakit.


Namun, Yang sempat membuat Alex sedikit heran. Keluarga Monica tak ada yang datang untuk membesuknya sama sekali. Padahal, Alex sudah menghubungi ibunya. Memberitahukan, Jika Monica harus di rawat beberapa hari di rumah sakit.


"Biar aku saja yang kerjakan!. Kamu istirahat saja di sofa!. " Ujar Alex yang sangat kesal. Karena Monica masih saja kekeh untuk bekerja. Padahal, Kondisi nya sedang tak memungkinkan untuk lelah.


"Aku tidak selemah itu, Berikan padaku. " Monica tetap tak ingin terlihat di perlakukan istimewa. Di hadapan semua karyawan di perusahaan itu.


Bumil itu tahu, Jika ia sedang di pandang buruk oleh setiap karyawan. Lantaran mereka sama sekali belum memverifikasi status hubungan keduanya sesungguhnya.


"Mon, Kau ini keras kepala sekali. Jangan sampai anak ku nanti menuruni sifat kamu ini. " Kesal Alex dengan nada penuh penekanannya.


"Aku ibunya, Tentu saja dia akan menurunkan sifatmu. Daripada ikut gen Bapaknya, Yang gampangan dan hobby celap celup sana sini. " Monica memberikan jawaban Monohoknya. Yang membuat Alex semakin kesal saja. Namun, Ia sendiri tak memungkiri nya. Jika apa yang di katakan Monica adalah faktanya.


"Sial... " Umpat Alex dalam hatinya. Lagi-lagi ia terpojok. Karena ulah bejat nya di masa lalu.

__ADS_1


Monica pun beranjak pergi. Dari hadapan suaminya, Karena entah kenapa?. Sejak kemarin ia sangat muak sekali dengan Alex suaminya ini. Bahkan, Monica tak mau bersentuhan sedikitpun dengan suaminya. Apalagi, Ketika Alex meminta jatahnya. Yang biasanya sangat rutin mereka lakukan. Namun, Sejak kemarin rasanya sangat jijik sekali bila di sentuh oleh suaminya itu.


"Mau kemana, Mon?. "


"Kantin, Cari makanan. Anak ku juga butuh asupan makanan. " Jawab Monica ketus.


Alex lagi-lagi hanya terdiam. Saat istrinya malah menjadi semakin galak saat hamil. Bahkan, Alex hanya bisa ngelus dadanya saja. Dengan helaan nafas kasarnya.


"Shittt... Kenapa dia jadi semakin galak begini, Ya?. " Tanya Alex pada dirinya sendiri.


Monica sedang menikmati makanan nya. Di salah satu meja kantin perusahaan. Karena, Mulai jam makan siang. Membuat Kantin yang tadinya sepi, Kini malah mulai ramai oleh para karyawan perusahaan.


Hingga beberapa orang mulai menatapnya dengan tatapan jijik dan juga penuh kebenciannya. Namun, Monica tetap santai. Tanpa ingin menggubris nya. Ataupun merasa bersalah. Baginya tak perlu menjelaskan pada orang yang sirik. Sekeras apapun ia menjelaskan nya, Jika orang sudah benci maka akan tetap benci saja.


"Enak ya, dengan jabatan dekat dengan bos. Dan sekaligus cari kesempatan buat bikin anak. "

__ADS_1


"Yailah, Secara bos kita kan orang kaya, tajir uangnya banyak, bisnis nya juga selalu sukses dimana-mana. Bunting juga bakal di nafkahi. Meskipun kagak di nikahi. "


"Kok masih punya muka saja ya. Buat kerja disini.?. "


"Sekalian ngawewe say. Buat tambahan beli popok pas lahiran nanti. "


Monica masih tetap diam. Dia tak ingin terpengaruh akan obrolan beberapa karyawan wanita. Yang ada di sebelah meja makan nya. Meskipun, Ingin sekali rasanya Monica memaki mereka semuanya saat ini juga. Dan menjelaskan jika ia adalah istri dari pimpinan perusahaan. Namun, Hal itu tidak Monica lakukan. Karena, Ia juga masih tidak tahu. Alex sudah menganggapnya istri atau hanya wanita sebagai pelampiasan nafsu nya saja.


Sebab, Sampai detik ini. Alex belum juga mengakui perasannya. Pria itu bahkan tak peka sedikitpun. Sikapnya masih saja seperti biasanya. Baik di saat ia ada maunya saja. Terutama ketika ia ingin meminta bergoyang di atas ranjang nya.


"Udah mirip pe*ek aja ya. "


"Cukup!. "


Brak!

__ADS_1


__ADS_2