
"Sayang... " Alex terus berteriak memanggil istrinya. Pria itu sampai menunda meeting penting. Hanya karena ia merasa khawatir akan keadaan Monica. Saat ia mendapatkan telpon dari maid nya. Jika keluarga istrinya datang ke Mension saat dirinya baru saja pergi dari Mension nya.
"Sayang...!, "
"Dimana istri ku?, " Alex bertanya pada maid yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Nyonya ada di kamar, Tuan. " Sahut salah satu maid yang menelpon nya tadi.
Alex langsung melangkah menuju arah kamar. Sambil melonggarkan dasi dan melepaskan kancing kemeja paling atasnya. Dengan langkah yang sedikit buru-buru. Karena rasa khawatir nya terhadap sang istri. Membuat Alex tak perduli akan meeting di perusahaan nya juga.
Ceklek!
Bersamaan dengan Alex yang membuka pintu kamar utama. Tepat di saat itu juga, Monica baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan masih mengenakan handuk yang ia lilitkan hanya sebatas dadanya saja.
"Mas... "
"Sayang!, "
Monica nampak terkejut, Saat Alex tiba-tiba pulang dan menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran. Apalagi, Alex saat ini langsung berlari kearahnya dan memeluk tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
"Kamu gak papa kan?. Apa ada yang luka atau mereka mengatakan sesuatu padamu, Sayang?. " Cecar Alex dengan begitu banyak pertanyaan.
Monica hanya bingung. Tapi, Saat ia mendengar banyak pertanyaan dari suaminya. Ia baru paham, Jika Suaminya sedang cemas akan diri nya. Saat ia kedatangan keluarga palsu nya itu tadi.
"Katakan sayang!. Apa yang mereka lakukan di Mension kita?. " Alex belum merasa puas, Saat belum menerima jawaban dari istrinya.
Lalu, Monica mulai melonggarkan pelukan suaminya. Menatapnya dengan tatapan penuh cintanya. Dan tersenyum begitu manis pada Alex.
"Aku baik-baik saja, Sayang. " Jawabnya sambil terus tersenyum. "Tidak ada luka ataupun rasa marah sedikitpun, Bukan?. " Sambungnya lagi sembari mengangkat kedua bahunya santai.
"Mereka tidak melakukan apapun kemari?, " Tanya Alex lagi masih saja khawatir akan istrinya.
"Pamitan? " Ulang Alex mulai tak paham.
Monica menganggukkan kepalanya, "Mereka ingin pindah ke luar kota. Dan kemungkinan akan menetap disana. Sebab, Kak Mirna juga sudah mendapatkan pekerjaan baru juga disana. " Jelas Monica lagi. Hingga Alex mulai bernafas dengan lega.
"Syukur lah kalau begitu. Aku pikir mereka akan menyakitimu lagi. " Alex benar-benar lega sekarang, Karena keluarga palsu istrinya itu tidak akan pernah, Menganggu Monica istrinya kembali.
"Sejak kapal mas tahu?. Kalau... "
__ADS_1
"Aduh, Perutku tiba-tiba sakit. Wait sayang!. Aku ke kamar mandi dulu. " Potong Alex yang langsung ingin menuju arah kamar mandinya.
"Aku memberikan mereka sejumlah uang tadi. " Seru Monica.
"Itu wajar sayang, Karena anggap saja sebagai balas budi kepada mereka. " Jawab Alex sedikit acuh. Dan terus melangkah menuju arah kamar mandinya. Membuka handel pintu tanpa ingin menoleh lagi pada istrinya.
"Tapi uang yang aku berikan adalah uang yang ada di dalam ATM kamu mas. "
Ceklek!
"What?. Alex kembali membuka pintu kamar mandinya lagi, Lalu menatap dengan mata yang membulat sempurna pada istrinya.
" Maksud kamu?. ATM ma.. mana, Sayang?. " Tanya Alex dengan sedikit tercekat karena ia tak bisa membayangkan jika itu adalah black card nya. Yang pernah ia berikan pada istrinya.
"Bukan ATM yang aku berikan beberapa hari lalu kan, Sayang?. " Tanya Alex lagi dengan rasa jauh lebih cemas lagi.
"Tentu saja yang itu, Memang nya yang mana lagi?. "
"Apa?, "
__ADS_1
Monica langsung masuk kedalam ruangan walk in closet, Saat melihat wajah panik suaminya. Hingga pria itu mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar mandi sana. Alex malah mengejar istrinya, Dan ikutan masuk kedalam ruangan walk in closet sana.