
"Daddy, Darimana saja?. " Alex bertanya saat ia baru saja keluar dari kamar nya. Dan langsung melihat Satria yang baru masuk dari arah luar.
Pria paruh baya, Namun tetap terlihat gagah dan tampan itu. Menoleh dan tersenyum smrik pada putranya. Walaupun mereka selalu saja bentrok serta berbeda pendapat setiap kali di dudukan berdua. Apalagi, Alex jug selalu membantah ucapan Daddy nya. Tetapi, Tetap saja Satria juga sebenarnya sangat berharap penuh pada putranya itu. Karena ia adalah penerus bisnisnya. Sebab, Putrinya sama sekali tidak tertarik akan bisnis orang tuanya. Ia telah memilih jalan nya sendiri, Dan meniti karirnya sendiri juga. Walaupun penghasilan nya tak sebanyak keluarganya ataupun kakaknya. Namun, Ara jauh lebih nyaman dengan rutinitas nya yang sekarang.
Satria menghampiri putranya. Saat ini malah terlihat sumringah sekali. Dengan penampilan yang jauh lebih, Karena seperti nya ia baru saja selesai mandi.
"Apa kau baru saja mendapatkan jatahmu lagi? " Ledek pri paruh baya itu sambil tersenyum jahil kearah putranya. Saat ia sudah ada di hadapan Alex.
Alex terkekeh pelan. Lalu mendekatkan bibirnya di depan telinga Daddy nya. "Pilihan Daddy dan Mommy memang yang terbaik. " Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Satria pun hanya mengulum senyum nya saja. lalu berucap. "Sepertinya itu bukan pilihan Daddy dan Mommy. " Satria masih mengulum senyumnya. Yang malah membuat Alex mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
Kini giliran Satria menempelkan bibirnya tepat di depan telinga putranya. "Dia adalah pilihan kamu sendiri. " Bisiknya dengan nada mengejek.
Alex malah terkekeh pelan. Sambil memainkan jari telunjuknya. Ia malah menganggap Daddy nya yang bercanda padanya. Sampai lama-lama kekehan kecilnya, Kini berubah menjadi tawa. Dimana, Satria ikut tersenyum penuh arti.
"Kamu benar-benar belum mengingatnya. " Ujar Satria lagi yang sontak membuat Alex terdiam.
"Mengingat apa, Dad?. Apa maksud Daddy?. " Tanya Alex dengan wajahnya yang penuh kebingungan.
"Saat usiamu masih 10 tahun dulu. Kau pernah mengucapkan apa dengan Daddy?. " Seru Satria sebelum ia benar-benar menghilang dari hadapan putranya.
Kini Alex malah jadi semakin penasaran saja. Karena ia sungguh tidak ingat apapun. Dan belum paham arti ucapan Daddy nya barusan.
__ADS_1
"Usiaku 10 tahun?. " Guman Alex sambil berpikir keras. Lalu kembali menatap punggung Daddy nya. Yang hampir menghilang di balik tembok sana.
"Tunggu Dad!. " Teriak Alex yang ikut mengejar langkah kaki Daddy nya. Karena, Ia tak akan tenang, Sebelum ia tahu apa yang sebenarnya ingin Daddy nya bicarakan itu. Apalagi hal itu menyangkut dirinya sendiri.
Di lain sisi, Jeny yang mendengar suami dan putranya. Yang sejak tadi nampak bersenda gurau dengan pembahasan di luar pekerjaan, Serta bisnis mereka. Merasa sedikit lega, Jika akhirnya Alex bisa bersikap dewasa. Dan juga mulai bisa menerima takdirnya. Untuk hidup berumah tangga dengan gadis pilhan nya sendiri.
Walaupun tidak secara langsung, Mereka mengatur nya sejak awal. Siapa Monica sebenarnya. Namun, Jeny yakin jika semakin lama mereka bersama. Maka, Suatu hari nanti Alex akan sadar siapa istrinya itu.
"Doa Mommy tidak banyak, Sayang. Semoga kalian selalu di liputi kebahagiaan, Dan rumah tangga kalian semakin harmonis!. " Lirih Jeny pelan. Sembari tersenyum lega.
Putranya yang dulunya sangat susah di kendalikan dan juga susah di atur. Bahkan, Selalu bertindak sesuka hatinya saja. Sekarang perlahan mulai mengerti dan paham, Bagaimana menjadi seorang pemimpin. Baik pemimpin perusahaan ataupun pemimpin dalam rumah tangganya. Walaupun, Alex belum sepenuhnya memahami. Tugas seorang suami yang baik itu bagaimana?. Namun, Setidaknya sejauh ini Alex belum pernah membuat kesalahan fatal. Dan apalagi sampai menyakiti perasaan Monica yang bisa membuat nya semakin terpuruk, Akan masalah yang tengah ia hadapi selama ini.
__ADS_1