
"Ayah... " Mirna terkejut saat ia melihat. Untuk pertama kalinya Ayahnya sendiri menampar ibunya tepat di depan matanya.
Selama hidupnya, Ia tak pernah melihat Ayahnya berlaku kasar pada ibunya. Ataupun dirinya dan juga adiknya, Ayahnya selalu bersikap sabar serta tak ingin memicu keributan apapun dengan ibunya. Walaupun sering kali ibunya bertindak semena-mena, Ataupun memanfaatkan Monica. Untuk menjadi tulang punggung keluarga nya.
Bahkan, Tak hanya itu saja. Ayahnya juga tak pernah mau membela siapapun. Ia bersikap adil dan tak ingin memojokkan istrinya. Meskipun istrinya melakukan kesalahan. Namun, Kali ini mungkin kesabaran pria paruh baya itu sudah di ambang batas. Karena ia tak tahan lagi dengan sikap istrinya.
"Jaga ucapan mu itu, Ratna!. Kau tahu apa yang kau lakukan selama ini salah. Tapi, Kau malah bersikap seolah kau itu benar. " Tegas pak Husein dengan tatapan penuh amarah nya. Namun, Masih ia tahan sebisa mungkin.
"Ayah, Cukup!. Kenapa Ayah jadi kasar begini dengan Ibu?" Mirna berusaha ikut melerai kedua orang tuanya. Yang pastinya akan terlibat keributan serius.
"Kamu dan ibumu ini, Sama saja. Sama-sama tidak tahu diri dan tidak tahu terimakasih. " Bentak Pak Husein yang sudah habis kesabaran nya.
"Kalau bukan karena uang asuransi yang di tinggal kan oleh mereka. Kamu Mirna, Tidak akan bisa menyelesaikan sekolah dan kuliah mu itu. "
__ADS_1
"Ayah... !, "
"Seharusnya kalian berterimakasih pada Monica. Karena uang itu seharusnya untuk biaya pendidikan nya. Bukan untuk kamu, Mirna. Tapi, Dengan keserakahan Ibumu itu. Ayah terpaksa menyetujui nya tanpa sepengetahuan Monica. "
"CUKUP,,,!? "
"Kalian adalah manusia yang tidak pernah bisa dengan namanya balas budi. Mulai sekarang, Ayah tidak akan memihak kalian lagi. Ayah juga akan katakan semuanya dengan Monica. Apa yang sebenarnya terjadi, Termasuk penyebab kematian kedua orang tuanya dulu. "
"Husein... Tunggu!. Kau tidak boleh mengatakan nya!. " Ibu Ratna berusaha mengejar suaminya. Yang saat ini tak lagi perduli padanya. Karena, Pria itu sepertinya sudah muak akan sikap istri nya sendiri. Yang semakin hari sikapnya semakin keterlaluan saja.
Ia diam selama ini karena ingin melindungi keluarga nya sendiri. Bukan, Karena apa-apa. Sebab sebagai kepala rumah tangga. Ia hanya berusaha sebaik mungkin, Menjaga nama baik keluarga nya. Namun, Sikap istrinya yang selalu ingin berbuat semena-mena. Membuat pria paruh baya itu mulai risau. Jika selalu dibiarkan maka, Tak menutup kemungkinan. Istrinya akan selalu bersikap semaunya sendiri. Dan tak akan pernah memikirkan nasib orang lain. Yang sudah banyak berkorban untuknya dan juga hidupnya.
"Tuan Satria... " Pak Husein terkejut. Ketika saat ia ingin keluar dari rumah. Ternyata disana sudah ada Daddy nya Alex. Tepat di depan pintu rumah nya.
__ADS_1
"Aya... " Teriakan Ibu Ratna dan Mirna pun langsung terhenti. Ketika mereka juga melihat kedatangan orang tua Alex kerumah mereka saat ini.
"Jangan panik begitu, Pak Husein!. Saya kemari, Hanya ingin memastikan saja. Jika kalian telah berubah atau tidaknya. " Ujar Daddy satria dengan nada santainya. Namun, Di setiap katanya terdengar penuh penekanan nya.
Ibu Ratna langsung terpundur beberapa langkah kebelakang. Dan ia pun tak berani untuk menatap wajah Satria. Yang baginya selalu saja terlihat menyeramkan itu.
"Benar begitu, Ibu Ratna?. " Tanya Satria sambil menatap wajah Ibu Ratna yang malah semakin terlihat ketakutan.
Mirna hanya menatap bingung akan sikap kedua orang tuanya saat ini. Namun, Ia juga tak paham apa yang sebenarnya telah terjadi. Sehingga kedua orang tuanya pun. Langsung bersikap canggung dengan wajah takut seperti itu.
"Saya tunggu kalian di mobil!. Ada yang perlu kita bicarakan sebentar. " Ujar Daddy Satria dengan suara yang penuh dengan perintah nya.
Deg,,,!!!
__ADS_1