Tespack Di Saku Celana Suamiku

Tespack Di Saku Celana Suamiku
Berhasil


__ADS_3

Pov Lidya


Di jalan aku tersenyum puas dengan apa yang aku lakukan barusan. Yah, aku sadar, aku sedikit keterlalua. Membuka kedua aib mereka di depan orang orang, tapi mereka juga yang buat aku sekesal dan semarah ini. Berbulan bulan mereka melakukan hubungan istri sedangkan aku di rumah kesepian sendirian. Di saat aku butuh belaian suamiku, dia malah asyik mendesah bersama dengan wanita lain. Dia anggap aku apa? Bahkan semua gajinya juga ia berikan buat perempuan itu. Bahkan kalung yang dulua ia berikan pun juga ia berikan kepada wanita yang bahkan sudah membodohinya dengan berpura pura hamil buah hatinya. Nyatanya ia malah hamil dengan pria lain.


Aku juga sudah puas membuat mertuaku hilang muka, dia dulu menghinaku. Padahal anaknya sendiri yang mandul. Dulu aku menghormatinya karena selain dia kedua orang tua yang sudah melahirkan suamiku, aku juga sudah menganggap mereka sebagai kedua orang tuaku sendiri. Tapi apa yang aku dapat, mereka menghinaku, memaki maki aku. Padahal kedua orang tua aku sendiri belum pernah membentakku, menghinaku apalagi memaki maki aku dengan kata kata yang begitu menyakitkan. Bukan salah ku, bukan. Jika aku melampiaskan semua kekesalanku sama mereka.


"Sayang, kenapa kamu diam aja?" tanya Lily, Mamaku.


"Gak papa, ma," jawabku tersenyum.


"Apakah kamu sudah puas dengan apa yang kamu lakukan berusan?" tanya papa.


"Ya, aku sangat puas pa. Apakah papa tadi sudah melakukan acara live,"


"Ya dong sayang, biar mereka jera. Biar semua orang tau, siapa mereka," jawab papaku bangga.


"Hehe, bagus. Pasti semua orang akan menghina mereka karena mereka sudah melakukan kesalahan besar dan mencoba bermain main denganku. Aku gak akan biarkan siapapun menyakitikku lagi, mulai sekarang," ucapku tersenyum manis.


"Yah, papa juga gak akan membiarkan putri papa menjalani hal yang menyakitkan lagi, maafkan mama sama papa karena sudah gagal jadi orang tua, kami gak ada saat kamu menjalani hari hari kamu yang begitu menyakitkan," ujar papakku.


"Papa, jangan merasa bersalah. Justru di sini akulah yang salah, karena aku gak mendengar apa kata papa. Andai dulu aku menuruti apa kata papa, mungkin aku gak akan mengalami hal yang menyakitkan," jawabku.


"Sudahlah, buat ini pelajaran agar kita ke depannya lebih hati hati lagi," ujar mama.

__ADS_1


"Iya ma,"


"Terus kamu mulai kapan mau buka usaha?" tanya papa.


"Kalau bisa secepatnya, pa,"


"Baiklah, kalau gitu. Besok papa akan belikan ruko itu buat kamu. Dan setelah itu, kamu bisa mendekor ulang agar Ruko itu bisa sesuai keinginan kamu. Kamu lebih tau, apa yang terbaik buat tempat usahamu,"


"Makasih ya pa, makasih karena papa selalu ada buat aku, makasih papa sama mama selalu memperlakukan aku dengan baik dan memaafkan aku walaupun aku sudah membuat mama dan papa kecewa. Tapi mulai sekarang, aku akan menurut apapun perkataan mama sama papa, aku janji," ujarku sambil memeluk mereka berdua.


"Kami juga sangat menyayangi mu nak, kamu itu permata hati kami. Mama sama papa akan melakukan apapun buat kebahagiaan kamu," ujar mama sambil membalas pelukanku dan mencium keningku.


Aku beryukur di saat aku seperti ini, ada mama sama papa yang selalu ada buat aku. Mereka selalu memberikan aku support dan selalu membuat aku kuat menghadapi semua kenyataan yang begitu pahit. Tapi kini aku akan bangkit, ya aku akan membuktikan kepada penghianat itu, bahwa aku bisa menjadi orang sukses. Dan aku baik baik aja, tanpa mereka.


Pov Daswan


Aku bodoh ... sangat bodoh ...


Aku gak menyangka, bahwa wanita yang selama ini aku puja puja adalah wanita murahan. Dia melakukan hubungan badan di saat dia masih kelas dua SMA bahkan entah sudah berapa orang yang menikmati tubuhnya itu.


Bahkan aku begitu bahagia saat tau dia hamil, dan ternyata dia bukan anakku.


Ya Tuhan ... apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku begitu bodoh. Aku membuat permata demi baru kerikil. Dan lagi, kenapa Engkau uji aku seberat ini. Kenapa aku harus mandul, lalu bagaimana nasib ke depanku. Apakah masih ada harapan aku akan punya keturuanan suatu saat nanti.

__ADS_1


Ya Rob, aku sudah menghina istriku dan mengira dialah yang mandul, dan ternyata diriku sendiri yang bermasalah. Betapa malunya aku, aku menghina dia, memaki dia namun dia diam saja. Kenapa? Kenapa ia gak jujur dari awal, kenapa ia begitu mencintaiku hingga memilih untuk berbohong. Kenapa cinta dia begitu besar, hingga ia rela di hina agar aku tak mengetahui fakta yang sebenarnya.


Aku emang laki laki bodoh ... aku malu ... aku malu sama diriku sendiri. Sekarang semuanya sudah berakhir, dia sudah menggugat ceraiku. Tapi aku gak mau kehilangan dia, aku masih mencintainya. Aku gak mau jika dia meninggalkan aku, tapi apa yang harus aku lakukan. Bahkan saat aku menatapnya, tak ada lagi tatapan cinta seperti biasanya, yang ada hanya kebencian yang begitu mendalam.


Tapi wajar jika di membenciku setelah apa yang aku lakukan. Bahkan kedua orang tuaku juga pernah beberapa kali menghina dan mencaci maki dia.


"Mas," ucap seseorang wanita yang kini sudah sah menjadi istriku.


"Jangan panggil aku, aku jijik sama kamu. Mulai detik ini, aku ceraikan kamu. Aku ceraikan kamu Lisa Arsila. Aku ceraikan kamu, dan mulai sekarang kamu bukan lagi istriku," bentakku hingga semua orang menatap ke arahku. Tapi aku tak perduli lagi.


Gara gara Lisa, hidupku hancur. Gara gara dia, aku menduakan istriku dan menghianatinya. Wajahnya memang cantik, tapi hatinya ternyata tak secantik wajahnya. Seharusnya dari awal aku sadar, dia bukan wanita baik baik. Dari awal dia sudah berusaha menggodaku dan berusaha merayuku. Bahkan dia sendiri mengundang aku ke apartemennya hingga akhirnya aku melakukan sesuatu yang gak seharusnya aku lakukan.


Aku memang bodoh dalam menilai seseorang. Seharusnya aku tau dari awal, dia bukan wanita yang baik baik. Karena gak ada wanita baik baik yang mau menggoda dan merayu laki laki yang sudah beristri bahkan menawarkan aku pergi ke apartemennya. Bahkan saat pertama kali aku ke sana, ia memakai pakaian **** hingga gairahku tak terkendali.


Aku bodoh.


"Mas, kenapa kamu tega mas. Kita baru aja menikah. Kenapa kamu sudah menceraikan aku hiks ... hiks ...." ucapnya menangis sambil menarik narik tanganku namun aku langsung menepisnya.


"Kamu tanya kenapa? Astaga, apa kamu sudah tak punya rasa malu. Aku gak mungkin menikahi wanita yang sudah menjual dirinya ke orang lain. Lagian kamu bukan hamil anakku melainkan anak orang lain. Jadi buat apa aku menikahimu dan mempertahankan pernikahan ini? Aku gak mau bersama wanita yang bahkan kamu sendiri gak akan ingat, sudah berapa laki laki yang merasasakan tubuhmu itu," ujarku murka. Dia benar benar wanita yang tak pantas untuk aku pertahankan. Bahkan aku menyesal karena mengenalnya. Aku menyesal karena sudah melakukan hubungan badan dengannya. Bahkan kini aku merasa jijik sama tubuhku sendiri.


"Kamu jahat mas, kamu tega ngomng gitu ke aku," teriaknya. Namun gak aku gubri. Aku langsung pergi dari tempat itu dan mengabaikan semua orang. Fikiranku benar benar kacau. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Lidya sudah menggugat cerai aku, kedua orang tua Lidya sudah membenciku. Dan kini rumah yang aku tempati berasma Lidya, sudah ia jual. Bahkan aku sudah menjadi pengangguran seperti dulu. Di tambah, kini aku hanya laki laki miskin, pengangguran dan mandul.


Ya Tuhan ... dulu hidupku sempurna dan hanya sekejab semuanya berubah, ampuni aku, Ya Tuhan. Aku bersalah, tapi jangan kau uji aku seberat ini. Kembalikan Lidya untukku, aku janji akan berubah, aku janji Ya Rab ...

__ADS_1


__ADS_2