Tespack Di Saku Celana Suamiku

Tespack Di Saku Celana Suamiku
Pov Daswan


__ADS_3

Pov Daswan


Kehidupanku rasanya sangat indah sejak hadirnya Lisa yang menemani hari hariku. Aku merasa menjadi laki laki sempurna.


Aku juga semakin semangat bekerja karena di tempat kerja, aku bisa bertemu dengan Lisa. Lebih semangat lagi saat pulang kerja, karena aku bisa menghabiskan waktu berdua dengannya.


Aku seperti melupakan Lidya karena hati dan fikiranku hanya tertuju sama Lisa, Lisa dan Lisa.


Satu bulan lalu, aku sempat pergi ke luar kota. Dan selama satu minggu itu, aku terpaksa hubungan jarak jauh dengan Lisa. Dan aku merasa sangat tersiksa sekali. Bahkan seminggu aku di sana seperti satu bulan lamanya.


Padahal setiap malam, aku sering vidio call dengan Lisa namun tetap saja, aku merindukannya. Aku ingin memeluknya dan mencumbunya sesuka hatiku.


Sedangkan Lidya, aku bahkan tak menghubunginya sama sekali, aku tak perduli bagaimana perasaannya. Bagiku dia itu sangatlah memuakkan.


Kalau bukan karena papanya yang sudah berjasa mencarikan aku pekerjaan hingga aku bisa menempati posisi manajer ini. Pasti sudah aku cerai dia dari dulu. Karena bagiku, dia seperti benalu.


Beda dengan Lisa, dia itu wanita yang sangat istimewa, bak berlian.


Dengan bersama Lisa, aku merasa dunia begitu indah. Bahkan andai saja aku memilih, rasanya 24 jam, aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Lisa. Tapi aku tidak bisa melakukan itu karena aku harus bekerja, aku gak mau kehilangan posisiku sebagai Manajer dan menjadi pengangguran lagi.


Ah iya, aku juga sudah berhenti memberikan uang kepada Lidya, bahkan aku juga tak lagi menyentuhnya. Aku juga jarang pulang, jika pun pulang. Ya hanya ganti baju lalu pergi lagi.


Dan anehnya sikap Lidya biasa aja. Bahkan dia tak memberontak sama sekali, kadang aku merasa dia makin hari makin bodoh.


Padahal dulunya dia selalu rangking satu, otaknya begitu cerdas. Tapi sekarang, ia hanya menjadi istri yang lugu dan bodoh.


\====


Hari ini aku sibuk dengan rapat, ya Pak Bos meminta semua manajer berkumpul jadi satu di ruang rapat. Dan mau gak mau aku pun harus ikut.


Di sana aku hanya menjadi pendengar setia, sedangkan Pak Bos ceramah panjang lebar. Bahkan beberapa kali menyindirku karena aku sering cuti dan ada beberapa pekerjaanku yang salah dan aku abaikan.


Aku mah hanya diam aja tanpa menjawabnya, karena aku juga sadar bahwa apa yang di ucapkan Pak Bos seratus persen benar.


Setelah dua jam, akhirnya rapat membosankan itu pun selesai dan aku kembali ke ruanganku. Dan di sana aku melihat Lisa yang duduk manis di ruang kerjaku.


"Sayang ... dari mana sih?" tanyanya manja dan aku langsung menghampirinya dan memeluknya.


"Ada rapat tadi sayang," jawabku sambil mengelus rambutnya yang wangi.

__ADS_1


"Hemm gitu. Oh ya aku punya kejutan buat Mas Daswan,"


"Apa?"


"Tutup mata dulu dong," ujarnya dan aku pun menurutinya.


"Sekarang buka," kata Lisa dan aku pun membuka kedua mataku. Dan aku melihat dia memegang testpack. Aku bukan orang bodoh, aku tau itu adalah tes kehamilan.


"Apa maksudnya sayang?" tanyaku. Ya, aku memang tau itu alas tes kehamilan. Hanya saja aku gak tau apa maksudnya.


"Mas, aku hamil," jawabnya dan aku langsung membelalakkan kedua mataku.


"Kamu yakin sayang?" tanyaku bahagia. Siapa yang gak bahagia jika bentar lagi aku akan menjadi seorang ayah.


"Iya dong, mas."


Aku pun langsung memeluknya. Namun tiba tiba seseorang mengetok pintu. Aku pun reflek menaruh testpack itu ke dalam saku celanaku. Dan aku langsung duduk di tempatku. Sedangkan Lisa, ia berdiri di sampingku sambil memegang Map.


Gak lama kemudian, Pak Bos masuk ke ruanganku.


"Ada apa pak?" tanyaku gugup.


"Baik pa," jawabku. Lalu Pak Gunawan pun keluar dari ruanganku.


"Sayang, kamu keluar dulu ya. Aku takut ada yang curiga sama hubungan kita,"


"Baiklah, tapi mas nanti malam ke apartemen kan?" tanyanya.


"Iya, tapi aku pulang dulu bentar ya, ganti baju. Baru setelah itu ke apartemen kamu, sekalian aku mau ambil sesuatu buat kamu,"


"Apa?"


"Nanti deh, kamu pasti tau,"


"Okey, aku tunggu ya."


"Sip."


Setelah itu, Lisa pun keluar dari ruanganku dan aku mulai fokus kembali dengan pekerjaanku.

__ADS_1


\====


Sore hari aku pulang ke rumah. Di sana aku hanya mandi dan mengganti baju. Baju kotor, aku taruh di tempat seperti biasa.


Setelah selesai, aku menghampiri Lidya.


"Lid, emas yang dulu pernah aku berikan mana?" tanyaku. Yah dulu awal awal nikah, aku pernah membelikan dia kalung seharga 3 juta. Karena waktu itu, ia ulang tahun dan aku juga kan baru saja menempati posisi sebagai manajer. Dan sebagai hadiah dan tanda terima kasih, aku memberikan di emas seharga 3 juta.


Tapi gak pernah ia pakai dan hanya di taruh saja. Alasannya, ia takut kalau di pakai, nanti malah jatuh dan hilang.


"Buat apa mas?" tanyanya.


"Kamu jangan banyak tanya. Mending kamu kasih tau dimana!!" bentakku membuat di kaget.


"Iya bentar."


Ia pun langsung masuk ke kamar dan buka lemari baju dan mengambil emas kalung.


"Ini," ujarnya sambil memberikan kalung itu padaku.


"Mas, kalungnya mau di buat apa?" tanyanya penasaran.


"Kamu gak perlu tau. Itu bukan urusan kamu!"


"Tapi mas, itu kan emas milik aku,"


"Yang beli siapa?" tanyaku.


"Mas Daswan,"


"Nah itu kamu tau, wajar kan jika aku mengambilnya kembali,"


"Tapi bukannya Mas Daswan dulu memberikannya ke aku. Kenapa mau di ambil lagi?"


"Terserah aku dong. Aku yang beli, dan jika aku mau mengambilnya lagi, kamu gak berhak melarangnya. Lagian kamu itu gak cocok pakai emas mahal. Kamu tuh dekil, jelek, dan kamu itu gak cocok pakai emas mahal. Kamu tih cocoknya pakai emas kw yang seharga 5 ribuan," ucapku menghinanya Dan dia hanya diam aja sambil menitikkan air mata.


Aku gak perduli kata kataku menyakitinya. Aku langsung pergi aja, meninggalkannya dan pergi ke apartemen Lisa, sang pemilik hatiku. Dan emas ini, akan aku berikan buat Lisa. Karena dia lebih cocok pakai kalung itu.


Aku akan melakukan apapun, demi kebahagiaannya. Karena bagiku, dia itu adalah wanita yang berharga. Yang pantas mendapatkan barang mewah dariku.

__ADS_1


Sedangkan Lidya. Hah!! Dia mah jangan di perdulikan. Wanita seperti itu, gak pantas untuk bahagia. Bahkan matipun, aku tak akan perduli. Karena sedikitpun tak ada lagi cintaku untuknya.


__ADS_2