Tespack Di Saku Celana Suamiku

Tespack Di Saku Celana Suamiku
Penyesalan Daswan


__ADS_3

Aku memutuskan pulang bersama kedua orang tuaku, berlama lama di sini juga percuam karena rencana liburanku setelah menikah dengan Lisa, sudah tak ada lagi. Bahkan aku jijik rasanya mengingat namanya, aku jijik pernah dekat dengannya dan menjalani hubungan dengannya.


Saat aku pulang bersama kedua orang tuaku, semua orang menatap aku penuh dengan kebencian. Ya, aku tidak perlu tanya, kenapa dan ada apa. Aku sudah tau semuanya, bahkan kini sosial mediaku ramai dengan chat dari semua teman temanku, keluargaku, dan orang orang yang gak aku kenal. Aku yakin 100%, mereka pasti kini menghinaku, mencaci maki aku setelah apa yang terjadi. Apalagi Lidya mengungkapkan semua kebusukanku membuat semua aibku tersebar luar. Tapi aku tak menyalahkan Lidya, ini sepenuhnya salahku, dan aku akan memohon ampunan darinya dan akan berusaha mempertahankan pernikahanku dengannya.


Hari ini aku terpaksa pulang ke rumah ayah dan ibuku, kemana lagi aku harus pulang sedangkan rumah yang aku tempati bersama Lidya, kini sudah menjadi milik orang lain. Ah ... andai saja, Lidya jujur dari awal, aku gak mungkin sampai melakukan hubungan istri dengan wanita lain. Andai saja, Lidya tak mencintaiku sebesar itu, mungkin ia tak akan memikirkan bagaimana perasaanku dan memilih untuk jujur. Tapi nasi sudah jadi bubur.


Aku sudah melukai hatinya, aku sudah mencampakkan dirinya demi wanita yang aku puja puja dan ternyata dia adalah wanita bermuka dua dan aku sangat menyesal.


Kini, aku harus melakukan sesuatu agar Lidya mau memaafkan diriku, aku yakin masih ada cinta di hati dia untuk aku.


"Wan," panggil ibu.

__ADS_1


"Iya, bu," jawabku.


"Kenapa kamu bengong?" tanya ibuku sambil duduk di samping aku. Sedangkan ayahku, dia sakit. Yah mungkin dia sok karena semua orang kini menghinaku dan kedua orang tuaku. Bahkan semua tetangga kanan kiriku dan keluarga besarku juga mencemoh aku dan kedua orang tuakku. Mereka menghina dan mencaki maki kami dengan kata kata menyakitkan. Dan aku pun tak bisa membela diri, karena apa yang mereka ucapkan semuanya benar.


Aku dan ibuku masih bisa bertahan tapi tidak dengan ayahku, dia adalah orang yang sedikit pemalu sehingga apa yang di katakan orang lain, selalu di fikirkan. Bahkan ayahku hanya melamun di kamar dan gak mau makan.


"Aku menyesal, bu. Aku sangat menyesal sudah menghianati istriku. Aku menyesal bu, atas apa yang sudah aku lakukan padanya," ujarku jujur.


"Yah, ibu pun juga menyesal, nak. Dulu ibu menghina dia karena ia tak kunjung hamil bahkan menuduhnya mandul. Ibu tak menyangka bahwa ternyata anaknya ibu sendirilah yang bermasalah. Namun walaupun ibu sudah menghinanya, ia masih tetap bungkam tentang fakta yang sebenarnya. Hanya karena ia gak mau, menyakiti hati dan perasaan kamu," balas ibu menitikkan air mata.


"Ya, apapaun yang kamu lakukan ibu akan dukung nak, ibu setuju jika kamu dan dia balikan lagi. Hanya dia pantas menjadi menatnu ibu. Tapi lebih baik, kamu beri waktu buat dia nenangin diri, jika kamu pergi sekarang atau besok. Dia pasti akan sangat emosi, lebih baik kamu datangi dia setelah satu Minggu," saran ibuku.

__ADS_1


"Tapi bu, jika nunggu waktu satu minggu, aku dan Lidya pasti sudah resmi bercerai. Karena Lidya sudah menggugat aku lewat pengacaranya, dan jika aku gak hadir di persidangan itu, maka proses perceraian akan semakin di percepat. Jika pun aku hadir, juga percuma. Karena pasti mereka sudah memberikan bukti yang cukup kuat, sehingga permohonan Lidya untuk cerai denganku terkabulkan," ujarku memberitahu.


"Kalau gitu, lusa kamu pergilah ke rumahnya. Ibu akan mendoakan kamu, semoga kamu dan Lidya bisa bersatu kembali seperti dulu,"


"Makasih ya bu, terima kasih sudah selalu mendukung apapun keputusan aku. Dan maaf sudah membuat ayah dan ibu malu sampai seperti ini,"


"Kamu gak perlu minta maaf nak, karena ibu juga turut andil menyakiti Lidya, ibu juga turut andil menghancurkan pernikahan kamu. Seharusnya, saat Lidya gak hamil, ibu menasehatinya bukan malah memaki dirinya. Sekarang ibu sangat malu setelah tau fakta yang sebenarnya,"


"Kita sangat berdosa ibu, terlebih aku yang gak pernah lagi menafkahi dirinya lahir batin. Aku selalu cuek padanya, aku selalu bersikap dingin padanya, aku selalu membentaknya, mencaci maki dia, dan mengatakan hal hal yang menyakitkan untuknya. Bahkan aku juga pernah bersikap kasar padanya dengan menyakiti fisiknya. Aku juga setiap malam sering menghabisksan waktuku bersama wanita laknat itu dari pada bersama istriku. Dosaku terlalu banyak ibu, aku harap. Dia mau memaafkan kesalahanku,"


"Semoga aja nak. Dan setelah dia mau kembali sama kamu, berubahlah menjadi suami yang bisa menyenangkan hati istrimu,"

__ADS_1


"Tentu bu, tentu aku akan berubah dan membuat istriku bahagia," ujarku.


Jujur hatiku sakit, mengingat sikap aku yang sudah keterlaluan sama Lidya, aku berharap dia mau memberikan aku kesempatan kedua.


__ADS_2