
Daswan terpuruk, ia hanya diam di kamar. Saat ini, Daswan sudah resmi bercerai dengan Lidya. Yah, kini Lidya bukanlah istrinya tapi mantan istri. Sungguh, Daswan belum siap menerima kenyataan bahwa dirinya bukan lagi suami dari Lidya Prasmana. Terlebih saat ini, ia tau betul bahwa Lidya, sudah mempunyai usaha yang maju dan berkemang pesat. Ia menyesali apa yang sudah ia lakukan.
Andai dia gak berhianat, mungkin ia akan duduk santai sambil membantu istrinya mengelola resto. Tapi sekarang, ia hanya laki laki pengangguran yang numpang di rumah orang tuanya bahkan untuk makan pun ia tak ada uang, untunglah ibunya mempunyai simpanan hingga akhirnya ia bisa makan sampai sekarang walaupun dngan lauk pauk yang seadaanya. Ayahnya juga belum sembuh malah semakin hari, semakin parah. Namun Daswan dan ibunya tak bisa membawanya ke dokter karena memang mereka tak punya uang, Desi hanya membelikan obat di warung untuk sang suami yang kini terbaring lemah tak berdaya.
Selain Daswan, Desi pun juga tak kalah terpuruknya. Ia menyesal dengan apa yang telah ia lakukan kepada menantunya. Andai ia gak menjadi mertua yang jahat, mungkin sekarang ia bisa hidup enak. Dan suaminya tak sakit seperti ini, ia juga tak mungkin mendengar hinaan dan caki maki orang orang karena ulahnya di masa lalu.
Sekarang, untuk makan pun susah. Sedangkan Daswan sampai kini belum juga ada kerjaan. Dan tak ada yang mau menerima Daswan karena vidio viral itu. Alhasil ia hanya diam di rumah. Daswan juga berusaha untuk bisa bicara dengan Lidya, namun yang ia dapat adalah pukulan keras dari bodyguard Lidya. Sekarang, kehidupan Daswan dan kedua orang tuanya benar benar hancur.
Dulu Desi begitu sangat membangga banggakan putranya yang bisa menjadi sarjana dan bisa menikahi wanita yang ekonominya di atas mereka. Desi juga semakin sombong saat putranya bekerja di sebuah persuahaan sebagai manajer. Setiap hari, ia selalu membicarakan putranya di hadapan semua para tetanggannya.
Bahkan hingga banyak tetangga yang datang membawa beras, buah, makanan, gula dan lainnya hanya agar putra mereka di rekomendasikan bisa bekerja di perusahaan tempat dimana Daswan bekerja. Tapi nyatanya, bahkan Desi ga pernah membicarakan masalah itu dengan Daswan.
Dan kini, setelah vidio itu viral, kini tetangannya mencaci maki Daswan terutama Desi. Mereka semua muak denan keluarga Desi. Apalagi dengan semua omongan dia dulu yang begitu bangga dengan prestasi putranya, padahal kenyatananya Daswan bisa seperti itu berkat Lidya.
__ADS_1
Mungkin sekarang, Desi dan Daswan mendapat karmanya. Tak ada lagi, kesombongan yang ada pada diri mereka. Tak ada lagi wajah bahagia yang ada hanyalah wajah lesu dan keterpurukan.
"Daswan," panggil Desi melihat putranya yang hanya duduk di kamarnya sambil melihat foto Lidya.
"Nak, mau sampai kapan kamu terpuruk seperti ini?" tanya Desi sambil mengelus rambut Daswan yang sudah bau apek karena sudah berhari hari Daswan gak keramas.
"Entahlah bu, sekarang aku merasa hidupku sudah tak berguna lagi. Sekarang aku sudah jadi pengangguran, dan lagi aku adalah laki laki mandul. Aku tak akan bisa punya anak, mungkin aku akan menjadi sebatang kara kalau ayah dan ibu sudah tiada," ucap Daswan menitikkan air mata.
"Kamu gak boleh gitu sayang, kamu harus bangkit. Kamu bisa mencoba mendekati Lidya lagi, ibu yakin kamu dan dia itu berjodoh nak, ibu yakin kamu bisa mengambil hatinya kembali,"
"Kamu gak boleh pesimis gitu nak, dulu juga Lidya mau menerima kamu, walaupun dia tau kamu itu pemalas, bodoh, nakal, miskin dan juga jelek. Tapi dia mau. Ibu yakin dia masih mencintaimu nak," ucap Desi.
"Ah, ibu malah mengucapkan semua kekuranganku semakin membuat aku merasa gak pantas untuk bersanding dengan Lidya,"
__ADS_1
"Bukan begitu maksud ibu nak, ibu hanya ingin kamu lebih giat lagi untuk mendekati Lidya. Bagaimanpaun kini dia sudah kaya nak, seeperti kata kamu, dia sudah punya resto yang maju dan berkembang pesat. Emang kamu rela jika istrimu itu di miliki oleh orang lain dan nanti hartanya dia, juga di kuasai oleh orang lain. Sedangkan selama ini, sejak kelas satu SMA sampai sekrang, kamulah yang menemani dia. Dan setelah dia sukses, dia malah nikah sama pria lain, kamu rela?" tanya Desi.
"Enggak bu, aku gak rela. Karena seharusnya kini akulah yang menjadi pendamping Lidya dan membantunya mengelola resto itu bukan laki laki lain,"
"Untuk itu, dekatilah dia nak. Dan setelah berhasil, kamu jangan lukai lagi perasaannya, kamu jangan sampai bermain api lagi. Ibu juga berjanji gak akan menyia nyiakan dia lagi. Jika kamu rujuk lagi dngannya, maka ekomoni kita bisa membaik. Ibu gak mau hidup seperti ini terus menerus, makan apa adanya dan kini tabungan ibu pun juga menipis, sedangkan kamu masih belum dapat pekerjaan apalagi ayahmu juga sakit, dia butuh obat, dia juga harus ke dokter untuk periksa. Kita butuh uang nak dan hanya Lidya yang bisa bantu kita," ujar Desi menjelaskan.
"Baiklah bu, aku berjanji. Apapun halangannya, aku akan mendapatkan hati Lidya kembali. Doakan aku bu, agar aku bisa bersatu lagi dengan Lidya,"
"Pasti sayang, ibu akan selalu doakan kamu. Semoga kamu dan Lidya bisa bersatu kembali. Sekarang, kamu gak boleh terpuruk lagi, kamu gak boleh hanya diam di kamar dan melihat foto Lidya. Kamu harus mandi, dandan yang rapi dan setelah itu, kejarlah cintamu, karena dia sangat berharga sayang,"
"Baik, bu. Sekarang aku mau mandi dulu, apakah ibu masak, aku lapar,"
"Ya, ibu masak. Hari ini ibu masak nasi sama kangkung, tadi pagi ibu mengambil kangkung dari belakang rumah. Lumanyanlah buat di makan sama nasi,"
__ADS_1
"Baiklah gak papa, yang penting ada lauknya. Aku mandi dulu ya bu, setelah itu, aku akan berpakaian rapi, makan lalu berangkat,"
"Semangat sayang," ujar Desi tersenyum, ia berharap usaha putranya untuk bisa rujuk kembali dengan Lidya bisa berhasil.