Tespack Di Saku Celana Suamiku

Tespack Di Saku Celana Suamiku
Berduka


__ADS_3

Sehabis makan, ia duduk di samping sang ibu di ruang tamu.


"Bu, ayah mana ya, kog jam segini belum pulang?" tanya Daswan khawatir.


"Entahlah ibu juga gak tau nak, biasanya juga sudah ada di rumah," jawab Desi yang juga menghawatirkan suaminya itu. Setelah sembuh, memang suaminya langsung mencari kerja. Untunglah ada temannya yang baik hati, mau memperkerjakan dirinya. Hanya saja ia selalu di maki dan di hina setiap kali ketemu orang. Bahkan istri dan anak dari teman yang memberikan pekerjaan juga selalu berkata sinis padanya.


Wawan- Ayahnya Daswan hanya bisa berusaha sabar. Mungkin ini akibat ia lalai mendidik anak dan istrinya hingga kini ia pun terkena imbasnya.


Seharusnya ia bisa menegur istrinya, saat istrinya menghina dan mencaki maki menantunya, Lidya yang kini telah menjadi menant menantu sejak Lidya berpisah dengan putrnya, Daswan.


Seharusnya ia juga menasehati putranya, mengarahkan ke jalan yang benar dan memberitahu bagaimana seharusnya tigas sebagai seorang suami, bukan malah diam dan membiarkan putranya jatuh ke dalam jurang yang nista dan hina.

__ADS_1


Sekarang ia sangat menyesal, ia hanya bisa berusahamenahan sabar dengan semua cacian dan makian yang di tunjukkan padanya. Ia gak bisa mengelak ataupun membantah, karena apa yang mereka ucapkan pun benr adanya.


Kini, ia hanya bisa diam dan fokus bekerja untuk anak dan istrinya. Daswan sampai detik ini pun belum juga dapat pekerjaan terlebih kakinya yang masih sakit akibat pukulan dari anak buah mantan besannya itu. Namun ia juga gak bisa menyalahkan papanya Lidya walaupun sudah membuat tubuh putranya penuh luka bahkan sampai lumpuh, untungnya bukan permanen hanya sementara waktu. Entah apa jadinya jika sampai permanen.


Andai ia yang jadi papanya Lidia, mungkin ia akan melakukan sesuatu yang jauh lebih paran kepda laki laki yang mencoba untuk melecehkannya.


Entah sikap Daswan mirip siapa sedangkan dirinya bahkan gak pernah main wanita dan hanya setia sama satu orang yang memang ia cintai.


\===


Daswan dan Desi menunggu kedatangan Wawan sambil mengobrol, namun sampai jam 7 malam, Wawan juga belum datang hingga akhirnya, seseorang yang tak di kenal datang dan mengabarkan tentang kecelakaan yang menimpa Wawan dan kini jenazah Wawan ada di rumah sakit . Daswan tak menyangka bahwa ayahnya akan meninggal secepat ini, begitupun dengan Desi, ia sangat terpukul setelah mengetahui kini suaminya telah tiada. Padahal tadi pagi, Desi mengantarkan suaminya yang berangkat kerja sampai depan rumah namun kini, ia mendapatkan kabar bahwa kini Wawan sudah tiada, ia meninggalkan dirinya dan putranya untuk selama lamanya.

__ADS_1


Desi dan Daswan pun langsung pergi menuju rumah sakit, di sana, ia langsung bertanya kepada seorang dokter yang kebetulan lewat. Dan dokter tersebut langsung mengantarkan Desi dan Daswan ke ruang jenazah. Di sana, Desi dan Daswan pun menangis sejadi jadinya karena pahlawan mereka kini telah menutup mata untuk selama lamanya.


"Sayang, kenapa kamu ninggalin aku secepat ini, kenapa? Aku masih butuh kamu, aku gak bisa hidup tanpa kamu. Hiks ... hiks .... kenapa ujian datang sillih berganti, kenapa ujian yang harus aku hadapi begitu berat. Kenapa? Sekarang keluarga kita benar benar hancur, Kamu meninggal, sedangkan aku sampai sekarang masih terus di hina, di caki maki sama mereka di tambah dengan putra kita yang pincang dan belum dapat pekerjaan alias pengangguran, dan kini sudah jadi duda tanpa anak karena dia mandul. Apa lagi yang bisa aku banggakan. Sedangkan ekonomi keluarga kita sudah seperti ini, kamu yang selalu berusaha memberikan uang kini sudah tiada. Kenapa hidupku jadi seperti ini, apakah ini karena keegoisanku, apakah ini karena aku hanya memikirkan duniawai sehingga Tuhan memberikan aku cobaan yang begitu berat?" gumam Desi dalam hati. Ia terus saja menangis sambil memeluk jenazah suaminya.


Sedangkan Daswan, ia juga menangisi kepergian sang ayah, ayah yang sudah berkorban banyak untuknya. Ayah yang selalu ada untuknya, tapi kini ayah yang ia bangga banggakan sudah tidak ada lagi. Daswan terus saja menangis, ia masih belum siap dengan kenyataan pahit yang ia hadapi saat ini.


Setelah cukup lama menangis, akhirnya dokter datang dan meminta Desi mengurus semua administrasinya. Tapi Desi gak ada uang sedikitpun, tapi untunglah ada orang yang baik hati mau melunasinya karena gak tega melihat kondisi Desi yang begitu mengenaskan.


Setelah jenazah sampai di rumah, tak ada yang mau membantunya memakamkan jenazah Wawan. Hingga akhirnya Pak RT dan Pak RW yang gak tega, langsung turun tangan. Mereka juga meminta warganya untuk membantu memakamkan jenazah Wawan. Orang orang yang merasa sedikit kasihan pun akhirnya ikut membantu.


Desi dan Daswan benar benar merasa sedih dan terpukul sekali terutama Desi, ia gak menyangka dampak keegoisannya akan berdampak besar seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2