
Malam harinya, Arya datang ke rumah Lidya. Sangat mudah menemukan rumah Lidya karena memang rumah Lidya ada di sebuah perumahan yang cukup elit. Sesampai di depan rumah Lidya, Arya sedikit merasa gugup. Ia pun menarik nafas beberapa kali dan menghembuskannya dengan perlahan lahan. Setelah merasa mulai tenang, ia pun menekan bel yang ada di samping pintu. Dan gak lama kemudian, keluarlah seorang ibu ibu, yang sangat ia kenal.
"Suster Alia," ucap Arya gugup. Yah, dia adalah Lily, yang kerap di panggil Alia oleh Arya.
"Dokter Arya, ayo masuk," ujar Lily tersenyum. Ia sudah tau jika putrinya itu mengundang Arya di ulang tahun dirinya. Sebenarnya, Lily gak merayakan ulang tahunya, hanya makan kecil kecilan aja, namun Lidya ingin mengundang Arya agar mama sama papanya itu bisa menilai apakah Aryaa cocok jadi calon menantunya apa gak, karena Lidya sudah bilang ke orang tuanya bahwa Arya sudah mengungkapkan perasaannya. Lidya juga sudah bilang, kalau Arya ternyata sudah mencintai Lidya sejak SMP.
"Iya sus," jawab Arya ramah. Ia pun masuk dan duduk di sofa.
"Saya panggilkan Lidya nya dulu ya," ujar Lily yang juga bingung mau manggil apa, bagaimanapun walaupun Arya masih muda, tapi posisi Arya di rumah sakit, jauh berada di atasnya.
"Iya sus," balas Arya. Ia sendiri pun bingung mau manggil Mamanya Lidya dengan sebutan apa, suster, tante atau mama calon mertua hehe.
Lily pun pergi ke dalam dan memanggil Lidya yang ada di dapur.
"Li, ada Arya tuh di ruang tamu," ucap Lily memberitahu putrinya.
"Sudah datang ma?" tanya Lidya.
"Iya, kamu bawa aja minuman yang sudah kamu buat itu," ujar Lily.
"Iya ma."
Lidya pun membawa minuman yang ia buat ke ruang tamu.
"Hai Ar, udah sampai?" sapa Lidya sambil menaruh minuman itu ke atas meja.
"Hehe iya," jawab Arya gugup.
"Gimana sudah gak nemu rumah ku ini?" tanya Lidya.
"Enggak, soalnya kan kamu ngasih nama lengkap banget apalagi ini juga merupakan kawasan elit, jadi mudah nyarinya," balas Arya tersenyum.
"Ayo minum dulu, biar gak grogi. Kayaknya kamu gugup banget ya," ujar Lidya tertawa.
__ADS_1
"Hehe iya, aku minum dulu ya,"
"He'em."
Arya pun meminum teh hangat buatan Lidya. Gak lama kemudian, mama dan papanya Lidya pun datang dan duduk di dekat Lidya. Arya langsung mencium tangan papanya Lidya dengan sangat sopan, tapi tidak dengan mamanya Lidya, karena Arya memang jarang menyentuh lawan jenis, kecuali nanti Lily resmi jadi mertuanya.
"Kamu nak Arya yang sering di ceritakan putri saya?" tanya Farhan yang membuat tatapan tajam dari Lidya, masalahnya ia malu papanya bicara seperti itu di depan Arya.
"Ia om," jawab Arya berusaha untuk tenang.
"Kamu juga dokter di rumah sakit tempat istri saya bekerja?" tanya Farhan.
"Iya om," jawab Arya lagi.
"Dia itu, baik banget loh pa. Sering juga nyapa mama di rumah sakit, gak sombong dan memperlakkukan mama dengan sangat baik," ucap Lili kepada suaminya.
"Hehe suster mah bisa aja, saya gak sebaik yang suster kira," elak Arya merendahkan diri.
"Jangan panggil suster, ini kan bukan di rumah sakit. Panggil tante aja, gak usah terlalu formal," ucap Farhan.
"Kamu sudah lama suka sama putri saya?" tanya Farhan mengintrogasi Arya.
"Iya om, sejak SMP." jawab Arya jujur. Farhan pun bisa membaca ketulusan dan kejujuran di mata Arya.
"Jangan jangan kamu gak mau deket deket sama cewek lain karena kamu nunggu putri saya ya?" goda Lily. Karena memang walaupun di rumah sakit, Arya ramah dengan siapapun, namun ia selalu jaga jarak dengan lawan jenis.
"Hehe iya tante, karena Lidya adalah wanita yang saya cintai, dia orang pertama yang membuat saya tertarik bahkan sampai detik ini," jawab Arya sedangkan Farhan memperhatikan ekspresi wajah Arya. Sebagai seorang dosen tentu, setiap hari ia harus melihat wajah wajah ribuah mahasiswi dan mahasiswanya sehingga ia harus bisa melihat dan mengenal setiap karakter seseorang.
"Jika sampai detik ini Lidya masih sama suaminya, apakah kamu akan tetap menunggu putri saya?" tanya Farhan.
"Mungkin. Tapi jika saya melihat Lidya bahagia bersama pasangannya, maka saya selalu berusaha belajar ikhlas, walaupun itu berat. Karena bagaimanapun Lidya adalah wanita pertama yang berhasil mencuri hati saya dan membuat saya sampai detik ini gak bisa melupakannya. Dan saya juga akan mencari wanita yang mungkin wajah dan sikapnya hampir sama dengan Lidya, baik dan juga sholehah, gak sombong, ramah dan juga sopan. Ada banyak hal yang membuat saya tertarik sama Lidya, yang gak bisa saya sebutkan satu persatu. Namun jika Tuhan berkehendak menyatukan saya dengan Lidya, wanita yang selalu ada di hati saya selama kurang lebih 10 tahun lamanya, maka saya berjanji akan membahagiakannya sebisa dan semampu saya, akan memperlakukan dengan sangat baik sebagaiman saya memperlakukan mama, karena Lidya adalah wanita yang saya cintai setelah mama," jawab Arya tulus dari hati.
"Kamu tau kan, bagaimana masa lalu putri saya, mungkin kamu bisa menerima dengan semua masa lalu Lidya, lalu bagaimana dengan kedua orang tua kamu dan keluarga kamu?" tanya Farhan lagi.
__ADS_1
"Mama sama papa menerima Lidya om, jika memang Lidya adalah jodoh saya, karena mereka tau betul bahwa saya mencintai Lidya dari dulu. Begitupun keluarga besar saya, malah mereka berharap kelak, saya bisa bersatu dengan Lidya. Sedangkan masa lalu Lidya, itu hanya masa lalu dan itu bukan salah Lidya. Lidya di sini hanya lah korban dan saya berjanji, akan berusaha menyembuhkan luka hati itu dan menggantikanya dengan kebahagiaan, InsyaAlah," jawab Arya lagi. Jujur, ia gugup namun ia harus menguasai rasa gugupnya karena saat ini, ia merasa bahwa papanya Lidya sedang mengintrogasi dirinya.
Andai Lidya jujur dari awal, mungkin ia harus menyiapkan mental dulu saat di rumah tapi nasi sudah jadi bubur, ia akan menjawab semua pertanyaan papanya Lidya.
"Jika seandainya kamu menikah dengan Lidya, kamu akan tinggal di mana?" tanya Farhan lagi.
"Sebenarnya saya sudah punya rumah om, baru selesai 1 tahun yang lalu sih. Dan itu rumah akan saya tempati jika saya sudah menikah, gak terlalu mewah karena memang itu rumah asli hasil jerih payah saya sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Selain saya seorang dokter, saya juga merupakan seorang Investor. Dan saya pastikan, setelah saya menikah, Lidya gak akan merasa kekurangan. Saya akan mememunhi semua keinginan dan kebutuhannya. Saya akan bekerja keras untuk Lidya dan anak anak saya nanti," jawab Arya.
"Jika suatu saat putri saya gak hamil hamil gimana?" tanya Farhan lagi.
"Sekarang jaman modern, kami bisa pakai melakukan program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) atau In Vitro Maturation (IVM)
atau Intrauterine Insemination (IUI) atau Injeksi ****** Intrasitoplasma (ICSI) atau GIFT dan ZIFT atau Tubal Embryo Transfer (TET). Ada banyak hal yang bisa di lakukan. InsyaAllah selagi kita mau berusaha dan berdoa, Allah pasti akan mengijabahnya. Jika pun Allah gak memberikan kami amanah seorang anak, aku bisa mengangkat anak yang ada di panti asuhan," jawab Arya yang membuat Farhan tersenyumm.
"Jika begitu, kamu bisa membawa kedua orang tua kamu untuk melamar putri saya," ujar Farhan yang membuat Arya membelalakkakn kedua mata. Ini seperti mimpi indah baginya.
"Om serius?" tanya Arya senang.
"Iya saya serius," jawab Farhan tersenyum.
"Kami merestui hubungan kamu dan Lidya," tutur Lily, mamanya Lidya.
"Tapi gimana dengan Lidya?" tanya Arya sambil menoleh ke arah Lidya.
"Aku menerima mu mas, aku panggil mas aja ya, kan kamu calon suami aku," goda Lidya yang memang ingin memberikan kesempatan kepada laki laki yang tulus menyayangi dan mencintainya.
"Terima kasih Li, terima kasih sudah memberikan aku kesempatan buat bisa menjadi pendamping hidup kamu, gimana kalau aku langsung nelfon mama sama papa agar suruh ke sini melamar Lidya?" tanya Arya sangking semangatnya.
"Ya gak malam ini juga kali, lagian kedua orang tua kamu sudah pulang dari luar kota?" tanya Lidya.
"Sudah tadi pagi, iya udah kalau gitu besok malam, saya dan kedua orang tua saya akan ke sini buat melamar Lidya," ujar Arya yang membuat Farhan dan Lily hanya geleng geleng kepala melihat Arya yang begitu sangat antusias untuk melamar putrinya.
"Iya, besok gak papa, itu lebih baik dari pada malam ini kamu nelfon kedua orang tua kamu buat melamar putri saya," jawab Farhan tersenyum.
__ADS_1
Setelah pembicaraan yang begitu menegangkan akhirnya Lily mengajak Arya untuk makan malam bersama dengan Lidya dan juga putrinya. Makan malam yang istimewa karena selain ini adalah hari kelahiran Lily, hari ini juga, Lidya menemukan laki laki yang akan menggantikan posisi Daswan.