Tespack Di Saku Celana Suamiku

Tespack Di Saku Celana Suamiku
Rintu Itu Berat


__ADS_3

Setelah pertunangan, Arya sering antar jemput Lidya. ia akan berangkat pagi pagi ke rumah Lidya dan mengantarkannya ke resto. Arya tak membiarkan Lidya mengendarai mobil sendirian, takut jika Lidya kenapa napa di jalan.


Lidya sendiri pun tak menolaknya, karena ia tau apa yang di lakukan oleh Arya adalah bentuk perhatiannya. Lidya pun menikmati apa yang di lakukan oleh Arya.


"Sayang, nanti jam makan siang aku gak ke sini ya. Aku ada janji sama temen, sudah lama aku gak ngobrol sama dia. Biasanya setiap jam istirahat, dia akan mengajak aku di kafe rumah sakit untuk sekedar ngobrol sambil makan siang. Tenang aja kog, temenku itu laki laki," ucap Arya saat ia sudah sampai di depan resto.


"Iya mas gak papa, santai aja. Nanti pulangnya kalau kamu sibuk, aku bisa naik tadi. Jangan terlalu memikirkan aku, aku baik baik saja," jawab Lidya tersenyum.


"Emm aku tetap akan jemput kamu seperti biasanya. Aku gak mau kamu pulang naik taxi,"


"Baiklah, jika itu maunya Mas Arya. Aku turun dulu ya," ujar Lidya. Yah, Lidya dan Arya masih berada dalam mobil.


"Iya, kamu hati hati ya sayang. Kalau ada apa apa, cepet telfon aku,"


"Iya mas, pasti," ucap Lidya. Ia pun segera keliar dari mobil tunangannya itu.


"Aku berangkat dulu ya, nanti kalau aku sudah sampai di rumah sakit, aku telfon kamu,"


"Iya mas, siap."


Dan setelah itu, Arya pun berangkat menuju rumah sakit. Sedangkan Lidya ia segera masuk ke dalam resto. Dimana yang lain sudah mulai membersihkan resto sebelum di buka.

__ADS_1


Lidya memberikan kunci buat Bagas dan juga Citra agar mereka bisa buka resto terlebih dahulu dan tak perlu menunggu dirinya.


Lidya rencana akan membuka cabang 3 bulan lagi karena bangunan yang ia dirikan sudah jadi 60%. Lidya kadang sesekali ke sana untuk memantaunya secara langsung.


Jika Lidya di sibukkan dengan aktivitasnya, Arya sendiri di sibukkan dengan memeriksa pasien yang datang untuk periksa. Tak lupa Arya sering nelfon Lidya jika ada waktu. Entah kenapa, Arya selalu ingin berada di dekat wanita itu terus.


"Sayang lagi apa?" tanya Arya lewat sebuah chat wa di sela sela pekerjaannya.


"Ini lagi bantu bantu di dapur. Ada apa mas?" balas Lidya yang memang sibuk membantu karyawannya buat menata makanan ke dalam dus kotak karena ada yang mesen cukup banyak untuk hari ini.


"Gak ada hehe. Kangen aja," ketik Arya sambil senyam senyum.


"Hemm tiap hari ketemu, kog masih kangen," balas Lidya. Ia kadang merasa geli, mendapatkan perhatian lebih dari tunangannya yang bentar lagi jadi calon imamnya. Namun ia pun juga merasakan betapa Arya begitu sangat menyayangi dan mencintainya.


"Jangan mencintaiku aku terlalu berlebihan mas, gak baik," pesan Lidya. Yah, mencintai orang itu boleh, tapi jika terlalu berlebihan juga gak baik.


"Hehe iya aku tau, tapi entahlah. Hari ini aku ingin cepat cepat pulang dan ketemu kamu,"


"Sabar aja. Beberapa jam lagi, juga kan pasti ketemu. Coba cari kesibukan lain, biar gak keinget aku terus,"


"Sudah. Bahkan sat memeriksa pasien pun, aku keingt kamu, aku juga gak tau. Kenapa bisa sampai seperti ini,"

__ADS_1


"Apa perlu aku ke sana buat nyamperin Mas Arya?"


"Emang kamu gak sibuk?" tanya Arya.


"Enggak terlalu."


"Hemm tapi jangan deh, aku takut kamu kenapa napa di jalan,"


"Emang Mas Arya tahan gak ketemu sampai sore?"


"Gak tahan sih. Tapi mau gimana lagi, aku harus bisa belajar sabar kan? Oh ya nanti Mama Lily, mau ikut aku ke resto kamu," ketik Arya. Ia tak lagi memanggil suster atau tante melainkan mama, sama seperti Lidya.


"Loh terus mobil mama gimana?" tanya Lidya, dia emang gak tau kalau mamanya hari ini gak bawa mobil karena ia berangkat lebih dulu ke resto dengan di jemput oleh Arya.


"Mama gak bawa mobil, tadi pagi dia di antar papa ke rumah sakit,"


"Oh gitu, iya udah hati hati ya,"


"Iya sayang, I love you,"


"I love you tou," balas Lidya.

__ADS_1


Setelah selesai chatan, barulah mereka berdua senyam senyum sendiri di tempat yang berbeda. Dan kembali melakukan aktivitasnya.


__ADS_2