
6 bulan sudah setelah perceraiannya, membuat Lidya kini berubah drastis. Ia menjadi perempuan seperti kalangan atas, ia juga tak perlu lagi di temani oleh bodyguard kemana mana. Ia juga memakai hijab panjang dan baju tertutup membuat kecantikannya semakin memukau. Apalagi setiap seminggu sekali, ia selalu pergi ke salon untuk merawat wajahnya.
"Bos," panggil Girban.
"Iya Gib, ada apa?" tanya Lidya ramah.
"Ojek yang biasanya ngantar makanan, hari ini dia gak masuk karena istrinya melahirkan. Sedangkan ada beberapa yang harus di antar sekarang," jawab Gibran.
"Oh gitu, ya udah biar aku aja yang antar sendiri,"
"Tapi bos ...." Gibran merasa gak enak karena bos nya harus turun tangan sendiri. Tapi ia juga gak bisa meninggalkan resto, karena pekerjaan di belakang juga banyak.
"Gak papa, lagian pekerjaanku kan juga gak sesibuk kamu. Biar aku aja, ada berapa yang harus aku antar?" tanya Lidya.
"Ini bos catatannya," Gibran memberikan catatan kepada siapa aja penanan itu harus di antar.
"Baiklah, kamu masukkan aja semua pesanan itu ke dalam mobil saya ya, dan ini kuncinya," ujar Lidya sambil memberikan kunci mobil.
"Baik, bos."
Gibran pun langsung mengambil kunci itu lalu pergi ke belakang dan membawa pesanan itu ke dalam mobil Lidya dengan di bantu oleh Dewi.
Setelah selesai, ia pun langsung memberikan kunci itu kepada Lidya.
"Ini bos kuncinya," ucap Gibran.
"Iya udah aku berangkat dulu ya, aku titip resto. Kalau ada apa apa, kamu bisa nelfon aku,"
"Siap bos," jawab Gibran. Yah, semua pegawai yang bekerja di resto tersebut mempunyai nomer Lidya, bahkan Lidya juga membuat grup khusus sehingga kadang, jika ada apa apa, mereka sering berdiskusi di grup.
\========
Lidya pun segera pergi mengantar pesanan menggunakan mobil kesayangannya. Ia menyetir sendiri tanpa pakai sopir, karena baginya menyetir sendiri itu mempunya sensasi yang berbeda.
Ada 7 rumah yang harus ia datangi, dan Lidya pun mengantarkan dari yang terdekat dulu. Setelah selesai semua yang 6, kini tinggal satu yang alamatnya cukup jauh, sekitar 1 jam. Lidya pun menyetir sambil dengerin musik agar gak bosan.
Setelah nempuh waktu satu jam, akhirnya ia sampai juga rumah yang cukup mewah. Bahkan di rumah itu ada dua satpam sekaligus. Sebenarnya Lidya bisa aja, menitipkan makanan itu ke satpman, tapi entah kenapa ia ingin sekali mengantarkan langsung ke tuan rumahnya.
Setelah dapat izin dari satpam, ia pun mengemudikan mobilnya masuk ke dalam rumah. Dan ia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah itu. Setelah it, ia mengambil 10 nasi bungkus kotak dan menentengnya sendiri.
Lidya menekan bel di samping pintu dan tak lama kemudian, seorang laki laki tampan membukakan pintu rumah itu.
"Maaf apa benar ini dengan Tuan Arya Aldebaran?" tanya Lidya dengan senyum manisnya.
"Lidya, kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya laki laki itu, yah dia adalah Arya.
__ADS_1
"Tuan kenal saya?" tanya Lidya heran.
"Ya ampun, kamu lupa sama aku. Aku Arya, teman SMP kamu. Yang sering kamu panggil dengan sebutan Aldebaran? Masak sih gak ingat, padahal dulu kita cukup deket loh," ujar Arya.
"Aldebaran yang tubuhnya gemuk, wajahnya jerawatan pakai kaca mata tebel itukah?" tanya Lidya.
"Iya, tapi gak usah di subutkan sedetail itu juga kali,"
"Ya Ampun ... Kenapa kamu bisa berubah drastis kayak gini. Makin tinggi, tampan dan **** pula," puji Lidya.
"Ah, kamu itu bisa aja. Kamu ke sini ngapain?" tanya Arya.
"Ini lagi antar makanan pesanan kamu," jawab Lidya.
"Kamu ngantar pesanan itu pakai mobil mewah?" tanya balik Arya, saat ia melihat di depan rumahnya ada mobil berwarna merah.
"Hehe iya, kebetulan ojek yang biasanya antar pesanan gak masuk, katanya sih istrinya melahirkan. Jadi aku turun tangan langsung untuk mengatarkan makanan ini,"
"Loh emang kamu kerja di sana?"
"Iya, tapi lebih tepatnya aku pemilik resto tersebut."
"Ya ampun benarkah? Tau gak, aku tuh suka banget loh pesan di tempat kamu, tapi kenapa baru kali ini kita bertemu. Aku juga kadang sering mampir ke sana saat pulang kerja,"
"Ya udah, kamu masuk rumah dulu aja yuk, kita bisa ngobrol ngobrol bentar,"
"Beneran bentar ya? Soalnya aku gak bisa lama lama ninggalin restoranku,"
"Iya, 15 menit deh,"
"Okey."
Arya mengambil pesanan Lidya dan menaruhnya di meja. Sedangkan Lidya, ia duduk di sofa, Arya sendiri meminta bibi untuk membuatkan minuman buat dirinya dan juga teman lamanya itu.
"Kamu sukses ya sekarang?" tanya Lidya.
"Haha gak juga, ini mah rumah orang tua aku. Aku mah belum punya rumah,"
"Terus orang tua kamu di manaa sekarang?" tanya Lidya.
"Mereka lagi keluar kota, ada urusan," jawab Arya tersenyum.
Tak lama kemudian, bibi datang membawa minuman buat tamu majikannya dan juga ada cemilan ringan.
"Minum dulu Li," ujar Arya setelah bibi pergi menuju dapur.
__ADS_1
"Iya," Lidya pun minum juz yang di buat oleh bibi barusan.
"Kamu kerja di mana sekarang?" tanya Lidya setelah ia selesai minumm.
"Di rumah sakit DR. Ramlan," jawab Arya.
"Wah mamaku juga kerja di sana loh sebagai perawat,"
"Iya kah siapa nama mamamu?" tanya Arya.
"Lily, Lily Pratama," jawab Lidya.
"Wah, aku kebetulan kenal sama beliau. Aku sering memanggilnya Suster Alia, aku gak nyangka dia itu mamamu,"
"Haha padahal dulu kamu pernah bertemu mamaku saat mamaku ngambil rapot aku saat SMP,"
"Hehe mungkin aku lupa, kan ketemuanya juga sebentar dan setelah itu bertahun tahun gak ketemu, jadi lupa,"
"Hehe juga ya,"
"Aku tau resto kamu itu, juga dari Suster Lily, mama kamu. Awalnya sih aku nyoba mampir gitu karena kata Suster Lili harganya murah tapi rasanya enak banget, makanya aku nyoba pas pulang kerja. Eh kog malah beneran, enak. Jadi aku sering mampir ke sana pulang kerja. Tapi anehnya aku baru ketemu kamu sekarang, itupun karena kamu yang anter makanan ke sini,"
"Itu karena aku sering ada di belakang bantu bantu karyawan aku, kadang juga aku sering di ruanganku mengurus laporan keuangan. Aku jarang melayani langsung pelanggan yang datang, karna kan sudah ada yang melayani,"
"Hemm gitu ya. Aku besok pulang kerja mampir ke resto kamu, boleh gak?" tanya Arya.
"Boleh dong," jawab Lidya tersenyumm.
"Tapi aku ingin kamu yang melayani aku, gimana?" tanya Arya.
"Baiklah, buat kamu. Besok aku sendiri yang masak dan antar langsung ke kamu,"
"Okey, jadi gak sabar nunggu besok," ujar Arya tersenyumm.
"Iya udah aku pulang dulu ya, gak enak lama lama ninggalin resto,"
"Boleh aku minta nomermu?" tanya Arya.
"Loh bukannya kamu sudah punya ya?"
"Itu kan nomer resto, bukan nomer mu pribadi," ujar Arya.
"Haha oke oke,"
Dan akkhirnya Arya dan Lidya pun bertukar nomer Hp dan setelah itu, Lidya langsung pamit pulang.
__ADS_1