Tespack Di Saku Celana Suamiku

Tespack Di Saku Celana Suamiku
Pov Leni (Ibunya Lisa)


__ADS_3

Pov Leni (Ibunya Lisa)


Aku menyesal, kenapa dulu aku tidak sekolah sehingga aku bisa kecolongan seperti ini. Andai dulu aku sekolah tinggi tinggi, mungkin aku bisa menjadi orang tua yang bisa mengendalikan buah hatinya.


Selama ini aku hanya sibuk membantu suamiku bekerja agar bisa menyekolahkan Lisa tinggi tinggi, aku ingin dia menjadi anak yang hebat, menjadi wanita yang bisa membanggakan aku dan suamiku suatu hari nanti. Yang bisa mengangkat derajat orang tua.


Aku selalu berdoa setiap waktu, agar Tuhan selalu menjaga dan melindunginya, aku selalu berharap putriku satu satunya itu, bisa terus berada di jalan yang benar. Aku tak ingin dia salah pergaulan yang akhirnya merugikan diri sendiri.


Dari kecil sampai ia remaja, dia selalu diam di rumah. Bangun pagi, ia sholat lalu membantuku bersih bersih rumah dan memasak, ia juga selalu nurut apa kataku. Gak pernah membantah dan selalu berkata iya. Aku begitu bangga padanya, di saat yang lain sibuk memain, tapi tidak dengan putriku. Sepulang sekolah, ia langsung ganti baju, makan lalul membantukku berjualan. Yah, aku seorang pedagang kecil yang hanya jualan keperluan dapur, keuntungannya gak terlalu banyak hanya 10 ribu sampai 30 ribu perhari. Sedangkan suamiku, ia hanya kuli panggul di pasar, kadang ia juga bisa menjadi kuli bangunan. Apapun ia kerjakan selagi halal.


Pendapatannya pun juga tak menentu, jika jadi kuli panggul di pasar, kadang sehari cuma dapat 20 ribu kadang cuma 8 ribu, gak nentu. Tapi jika jadi kuli bangunan, setiap hari, ia di gaji 60 ribu sampai 70 ribu. Namun menjadi kuli bangungan, kadang ada, kadang gak ada. Sehingga untuk mencukupi sehari hari, ia pergi ke pasar dan menjadi kuli panggul.


Aku dan suamiku gak pernah mengeluh dengan apa yang terjadi, yang penting kami gak kelaparan dan Lisa bisa belajar dan sekolah dengan baik, itu sudah lebih dari kata cukup. Kebutuhan rumah pun juga tercukupi tanpa harus menghutang sana sini,

__ADS_1


Setiap malam hari, Lisa selalu belajar, belajar sampai ketiduran, kadang aku gak tega melihatnya, dia seperti belajar keras karena ingin mengejar cita citanya menjadi seorang dokter. Aku selalu mengaminkan apa yang ia minta, semoga Allah mengabulkan keinginannya.


Namun saat kelas Dua SMA, aku melihat dia berubah. Sebagai seorang ibu, aku merasa ada yang berbeda. Dia yang biasanya bangun pagi untuk sholat, tapi sejak kelas dua SMA, dia sering bangun kesiangan. Ia gak pernah lagi sholat shubuh seperti biasanya, ia juga tak lagi membantuku bersih bersih rumah dan memasak. Ia selalu berangkat sekolah pagi pagi sekali dan pulang sore kadang malam hari. Padahal biasanya ia pulang jam 1 siang, paling lambat jam 2 siang. Tapi sejak kelas 2 SMA, ia pulang jam 5 sore kadang pulang jam 8 malam. Entah apa yang dia lakukan di luar sana, setiap aku bertanya, ia sedang belajar kelompok karena dirinya bukan anak SD lagi. Ia sudah anak SMA, dia memintaku untuk tidak mengurus dirinya. Aku hanya bisa bersabar, ia sekarang berubah.


Jika dulu, ia selalu menghormatiku, tapi sekarang, ia sering marah marah gak jelas, bahkan tak jarang ia membentakku dan melontarkan kata kata kasar. Ia benar benar berubah 180 derajat. Suamiku hanya bisa sabar menghadapi putri satu satunya itu, sedangkan aku, ingin rasanya aku meluapkan amarahku tapi suamiku berusaha menenangkanku.


Aku juga dia selalu sibuk degnan HP nya, entah apa yang ia lakukan. Aku gak tau apa apa, karena memang aku gak bisa baca dan tulis. Bahkan di saat Hp nya di taruh di meja, ingin rasanya aku tau, dia chatan sama siapa, tapi apalah daya, aku taunya hanya Hp biasa, itu pun cuma nerima panggilan aja, karena tinggal pencet tombol hijau kalau ada yang manggil. Selebihnya aku gak tau apa apa.


Begitupun dengan suamiku, walaupun ia bisa baca dan nulis, tapi jika sudah menyangkut sosial media, ia sama bodohnya denganku. Ia juga taunya hanya Hp nenot nenot, yang bisanya cuma nelfon dan ngirim sms.


\====


Setelah lulus sekolah SMA, dia semakin berubah menjadi wanita yang liar. Ia selalu pergi ke salon, setiap pulang, ia membawa berbagai macam baju **** dan peralatan make up yang mungkin sangat mahal. Karena aku sering lihat make up itu di tivi tivi.

__ADS_1


Ia juga sering pulang tengah malam, kadang juga pulang pagi. Setiap aku tanya, ia malah marah dan mengatakan bahwa ia menginap di rumah temannya. Aku gak tau, kenapa putriku semakin hari semakin berubah. Bahkan aku sampai tak mengenali watak putriku sendiri. Dulu dia yang baik, lembut, penurut, kini berubah menjadi wanita liar, pakai pakaian terbuka bahkan tergolong sangat **** dan menjadi wanita yang pembangkang.


Suamiku juga sudah berusaha menasehatinya beberapa kali, namun tak pernah di hiraukannya. Kadang pernah sangking emosinya, suamiku ingin menampar dia, namun aku mencegahnya dan menyuruhnya untuk mengucap istigfar berulang ulang.


Entah apa dosaku dan dosa suamiku di masa lalu, hingga Tuhan membeirkan ujian seberat ini. Putri yang aku harap harapkan kelak bisa mengangkat derajat orang tua, yang bisa menjadi wanita karir dan bisa membahagiakan orang tua, namun kini seakan harapanku itu lenyap. Aku gak yakin, putriku bisa membuat aku bangga karena melihat sikap dan perilakkukanya yang semakin hari semakin liar.


Aku dan suamiku berusaha bangung tengah malam, memohon pada Tuhan agar membukakan mata hati putriku agar dia bisa kembali ke jalan yang benar. Yah, jalan itu yang aku tempuh. Karena aku dan suamiku juga sudah lelah menasehatinya namun bukannya dia menuruti dan mendengarkan nasihatku, ia malah membentakku dan memaki maki aku seperti ia memaki maki temannya, padahal aku ini adalah ibunya, ibu yang sudah mengandugnnya selama 9 bulan lamanya dan melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawaku.


Jangan di tanya bagaimana perasaanku? Karena pastinya sangat sakit, bahkan sangking sakitnya sampai sulit untuk di ungkapkan dengan kata kata, sangat sulit untuk di gambarkan dengan apapun.


Selama 4 tahun dia kuliah, dia benar benar berubah. Aku sudah tak lagi melihat dia sholat, selalu pakai baju sampai lutut bahkan kadang juga pernah sampai di atas lutut, memakai baju **** yang sangat terbuka hingga belahan dadanya kelihatan. Aku dan suamiku hanya bisa pasrah, bahkan aku dan suamiku sudah tak tau lagi bagaimana cara menghadapi dia.


Aku dan suamiku akhirnya memilih diam, diam dan diam.

__ADS_1


Hingga akhirnya, setelah lulus kuliah, ia memutuskan untuk tinggal di apartemen. Jujur, aku gak tau, di mana ia dapat uang sehingga bisa tinggal di apartemen, beli pakai pakaian mewah dan lainnya. Tapi aku malas untuk bertanya, sehingga aku memilih diam.


Buat apa bertanya, toh gak bakal di jawab.. Yang ada malah ia akan mengatakan aku kepo. Entah singkapatan apa itu kepo, dan kenapa bisa di namakan kepo. Aku gak tau, tapi yang jelas setiap aku tanya, dia selalu bilang aku jangan terlalu kepo. Dan aku mengartikan kepo itu, jangan ikut campur.


__ADS_2