
Jam 4 sore, Arya pun mulai membuka jasnya dan langsung menghampiri mama mertuanya di ruanganny.
"Ma?" panggolil Arya
"Iya Ar, bentar ya. Mama mau beres beres dulu," jawab Lily.
"Iya ma," ucap Arya.
Sambil nunggu mamanya, Arya pun mengambil Hp di saku celananya dan membuka aplikasi WA. Dan mengirim pesan kepada wanitanya.
"Sayang, ntar lagi aku pulang," ketik Arya setelah pesan terkirim, gak lama kemudiam langaung centang biru.
"Iya, hati hati ya mas. Firasat ku gak enak soalnya," balas Lidya.
"Iya sayang, doakan aku sama mama agar bisa sampai dengan selamat,"
"Aku selalu doakan yang terbaik buat orang orang yang aku cintai,"
"Iya sudah aku mau pulang tunggu, mama sudah selesai nih. Tunggu aku di saya,"
"Siap bos,"
"Love you,"
"Love you toon."
Setelah selesai chatan dengan Lidya, Arya pun menaruh Hp nya kembali ke dalam saku.
"Chatan sama siapa Ar? Serius banget," goda Lily.
"Siapa lagi, anak mama dong yang cantik jelita dan suka bikin hati aku klepek klepek," jawab Arya yang membuat Lily terkekeh.
__ADS_1
"Bucin banget kamu Ar sama anak mama," ucap Lily samvil berjalan ke parkiran begitupun dengan Arya. Sekarang Lili dan Arya terlihat sangat akrab. Dan tak ada lagi panggilan suster dokter kecuali jika ada orang lain.
"Hehe mau gimana lagi ma, dia sudah berhasil curi hati aku dan menguasai fikiranku," jawab Arya jujur.
"Hemm jaga dia baik baik ya Ar. Jangan sakiti anak mama. Sudah cukup dulu ia menderita dengan mantan suaminya. Mama gak mau dia di sakitin lagi untuk kedua kalinya," ujar Lily.
"Iya ma. Aku akan jaga Lidya sebaik mungkin. Aku akan melindunginya dengan nyawaku,"
"Makasih ya Ar. Mama percaya, kamu laki laki terbaik yang lantas buat mendampingi Lidya,"
"Makasih ma. Sudah mempercayai aku."
Setelah itu mereka pun masuk ke dalam mobil dan Arya pun mengendarainya dengan kecepatan sedang.
Namun saat jalan agak menurun, saat Arya mau ngerem. Tiba tinlba rem mobil gak berfungsi. Aliaa Rem blong.
"Ar, kenapa?" tanya Lily panik saat melihat menanunya berusaha mengendalikan mobilnya.
"Astaga kenapa bisa bloh?" tanya Lily panik.
"Gak tau ma. Padahal kemarin baru di servis. Kayaknya ada yang sengaja deh ma, piston rem nya di rusak. Kalau gaknada orang iseng, gak mungkin sampai gini," ujar Arya
"Astaga, gimana ini. Arya Awas di depan ada tru melaju dengan kecepatan tinggi," teriak Lily.
Arya pun segera membanting stirnya ke samping sehingga menabrak pembatas jalan. Arya yang sempat sadar melihat mamanya yang berdarah, namun saat Arya mau menolongnya, ia pun kehilangan kesadarannya.
\===
Lidya lagi asyik membantu karyawannya hingga akhirnya tiba tiba saja, Hp nya berbunyi. Ia pun segera mengangkatnya. Ternyata Arya lah yang nelfon. Lidya pun segera mengangkatnya.
"Halllo Mas, sudah sampai mana?" tanya Lidya.
__ADS_1
"Maaf apa ini benar dengan Ibu Lidya?" tanya sesseorang yang membuat Lidya bingung. Ia pun melihat ke layarnya dan benar, itu nomer tunangannya.
"Iya benar, Maaf Anda siapa ya? Mas Arya mana?" tanya Lidya.
"Saya cuma mau bilang, yang punya HP ini kecelakaan bersama wanita yang ada bersamanya. Dan kini mereka di bawa ke rumah sakit," ucap seseorang yang gak aku kenal.
"Rumah sakit mana?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Rumah Sakit DR. Ramlan," jawabnya.
"Baiklah, terima kasih." Aku pun segera mematikannya, dan langsung nelfon Papa, sama mama mertua aku. Kami janjian akan bertemu di rumah sakit aja, karena aku gak bisa jemput mereka satu persatu. Aku segera mengambil tas dan pergi, aku gak memperdulikan karyawanku yang bertnya kenapa aku menangis. Yah, entah kenapa air mata ini keluar begitu saja, mungkin karena aku takut dia kenapa napa. Apalagi Mas Arya pergi bersama Mama.
Aku segera naik ojek yang kebetulan mangkal di depan resto aku. Aku pun meminta tukang ojeknya untuk lebih cepat. Aku ingin segera menemui Mas Arya dan Mama. Aku takut mereka kenapa napa.
Sesampai di rumah sakit, aku langsung bertanya ke resepsionis rumah sakit. Dan aku pun di tujukkan ke kamar di mana kini Mas Arya dan Mama di rawat. Namun betapa kagetnya aku ketika di sana ada beberapa dokter dan suster yang menangis. Yah, aku sedikit banyak tau mereka itu siapa, mereka adalah teman teman mama sama Mas Arya. Karena rumah sakit ini adalah tempat Mama dan Mas Arya bekerja.
"Mana mama sama Mas Arya?" tanyaku ke mereka. Dan mereka pun langsung menoleh ke arahku. Mereka kenal siapa aku, karena saat aku bertunangan dengan Mas Arya, semua suster dan dokter di undang semua.
"Lidya, Suster Alia ... Dia ... Dia sudah meniggal," ucapnya sambil mendekati aku. Yah, dia memanggil mama dengan sebutan Suseter Alia.
"Enggak, kalian pasti berbohong kan? Aku tau, kalian bercanda, iya kan?" teriakku .
"Enggak Li, mamamu meninggal, dia meninggal saat perjalanan ke rumah sakit," jawabnya dengan mencoba mendekati aku dan berusaha meraihku namun aku menepis tangannya. Aku langsung pergi ke kamar di mana mama berada. Dan benar saja di sana mama sudah menutup mata untuk selamanya. Aku menggoyang goyangkan tubuh mama berusaha membuat mama sadar.
"Ma, bangun. Ini Lidya ma, aku mohon ma, bangun ma. Aku sayang mama, aku gak mau mama ninggalin aku hiks ... hiks ...." Aku teru saja menangis sambil terus berusaha membangungkan mama. Gak lama kemudian papa pun datang dan langsung memelukku.
"Pa, mama pa. Mama ninggalin aku hiks ... hiks ... Pa, coba papa yang bangunin, siapa tau mama sadar, aku gak mau mama ninggalin akku pa. Aku sayang mama," ucapkua sambil memeluk papa. Papa pun hanya bisa memelukku dan mencium puncuk kepalaku. Aku tau papa juga menangis, karena ia pun juga bergetar sama kayak aku. Aku terus saja menangis, rasanya aku benar benar gak percaya, mama tega ninggalin aku.
"Sabar ya sayang, mama pergi karena Allah lebih sayang sama mama," ucap papa berusaha menasehati aku.
"Enggak pa, mama gak boleh pergi. Aku belum bisa bahagiain mama, pa. Mama gak boleh pergi, mama harus sama aku. Aku akan memberikan cucu buat mama, pa. Aku janji, aku gak akan lagi membantah omongan mama, aku akan nurutin apapun kemauan mama, tapi aku mohon pa, tolong bangunin mama buat aku pa, aku mohon ...." pintaku dengan wajah memelas rasanya ini benar benar menyakitkan. Bagaimana mungkin mama bisa pergi dengan secepat itu. Ini benar benar gak adil buat aku.
__ADS_1
Gak lama kemudian, aku merasa kepalaku benar benar sakit dan semuanya pun terasa gelap.