
Pov Daswan Pramuji
Perkenalkan namaku Daswan Pramuji, kini umurku sudah 25 tahun. Aku menikah dengan wanita cantik bernama Lidya Pratama.
Dia adalah pacarku sejak kelas 1 SMA. Aku sangat menyayanginya dan aku termasuk laki laki beruntung karena bisa mendapatkan hatinya.
Bahkan banyak yang iri dengan posisiku saat ini, sebagai kekasih Lidya Pratama. Wanita cantik, pintar, idola para laki laki dan juga orang yang cukup berada.
Aku juga sebenarnya tak menyangka bahwa Lidya akan menerimaku, sedangkan aku tau betul banyak laki laki yang sangat tampan, pintar dan juga kaya yang ingin menjadi kekasihnya namun ia tolak mentah mentah.
Entah apa kelebihan yang aku punya sampai bisa meluluhkan wanita cantik seperti Lidya.
Namun aku bersyukur akan hal itu. Dia juga selalu membantuku mengerjakan tugas tugas sekolah. Betaoa beruntungnya aku, mempunya kekasih seperti Lidya.
Saat lulus sekolah, aku sebenarnya memilih untuk mencari kerja karena walaupun aku ingin kuliah, tapi aku sadar. Aku bukan orang kayak, ayah dan ibuku hanya pedagang biasa. Yang hasilnya pun hanya cukup buay makan sehari hari.
Namun pacarku, Lidya. Dia memintaku kuliah di kampus yang sama dan dia berjanji untuk membiayai kuliahku sampai aku lulus.
__ADS_1
Awalnya aku menolak, tapi karena dia memaksa, aku pun mengiyakan. Lumayan, aku bisa kuliah gratis tanpa bingung masalah biaya. Swmua tugas tugas kampus pun, juga Lidya yang mengerjakan. Sedangkan aku, aku hanya sibuk main sama teman temanku.
Namun satu hal yang buat aku kesal, banyak laki laki yang diam diam menaruh rasa sama Lidya. Bahkan tak jarang banyak yang memberikan surat cinta, coklat, makanan, bunga, boneka dan lain sebagainya.
Awalnya sih aku marah, tapi karena Lidya berkata, ia gak akan berpaling dariku. Aku pun tak mempermasalahkannya. Toh aku yakin, cinta Lidya hanya untukku seorang.
Tak terasa 4 tahun berlalu. Kini aku sudah lulus sarjana. Gak nyangka, hubungan aku dan Lidya sudah bertahan selama 7 tahun lamanya. Dan Lidya memintaku untuk melamarnya dan menikahinya, awalnya sih aku menolak karena aku belum dapat pekerjaan. Tapi karena Lidya sedikit memaksa akhirnya aku pun mengiyakan.
Tapi melamar Lidya tak semudah yang aku bayangkan, karena papa Lidya tidak menyetujui hubungan kami bahkan ia sangat menentang saat aku ingin melamar putrinya.
Namun Lidya berusaha membujuk papanya hingga akhirnya restu pun aku dapatkan.
Aku pun bersyukur sekali, bisa menikah dengan pesta yang sangat meriah tanpa harua mengeluarkan uang sama sekali
\===
Setelah aku menikah, aku menjadi pengangguran. Karena memang mencari pekerjaan itu tidaklah mudah.
__ADS_1
Bahkan papa mertuaku sampai murka, karena aku gak bisa menghidupi putrinya dengan baik. Bahkan untuk makan aja, istriku dapat uang dari mamanya.
Malu sih, tapi mau gimana lagi. Aku kan juga sudah berusaha mencari pekerjaan hanya saja belum rezekinya, mungkin.
Dan setelah beberapa bulan, akhirnya papa mertuaku sendiri yang turun tangan mencari pekerjaan untukku.
Dan betapa kagetnya aku saat seseorang menghubungiku dan menyuruhku bekerja keesokan harinya dengan membawa berkas lamaran kerja.
Aku pun dengan semangat 45, keesokan harinya, aku pergi dengan baju yang rapi. Dan sesampai di sana, aku langsung di terima kerja dan mendapatkan posisi jabatan yang tak semua orang bisa mendapatkannya.
Aku bekerja sebagai Manajer HRD. Coba bayangkan? Kalau bukan karena papa mertuaku, aku gak mungkin bisa menduduki jabatan setinggi ini.
Aku pun bersyukur bisa kenal sama Lidya, bahkan bisa menjadikan dia sebagai istriku. Karena berkat dia juga, aku bisa bekerja sebagai seorang manajer. Bahkan ayah sama ibuku sangat babgga sekali padaku dan mereka juga sangat berterima kasih kepada papanya Lidya.
Kini aku bukan lagi suami yang pengangguran, tapi aku adalah laki laki dengan mempunyai pekerjaan sebagai manajer dan gaji yang cukup tinggi.
Karena aku merasa gajiku terlalu banyak, jadi aku hanya memberikan setengahnya saja untuk istriku. Setengahnya lagi, aku kasihkan ke ayah dan ibuku. Aku juga mengambil sedikit buat senang senang bersama teman temanku.
__ADS_1
Tahun pertama pernikahanku, baik baik saja. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang kurang.
Ya, aku ingin punya seorang anak sama seperti teman teman di kantorku. Mereka setiap hari selalu membahas anak, sedangkan aku hanya bisa diam karena memang aku belum punya buah hati untuk aku ceritakan kepada mereka.