
Aku bangun, dan ternyata aku sudah ada di kamar, di samping aku ada Mas Arya, Papa dan mertua aku yang terus menatap aku.
"Pa, mama mana?" tanyaku yang terus mencari mama, karena hanya mama yang gak ada di samping aku. Aku lihat kepalanya Mas Arya di perban.
"Mas, kepalamu kenapa?" tanyaku, yang memang belum ingat.
"Sayang, kamu harus tabah ya dan maafin aku," ujar Mas Arya.
"Apa maksudmu Mas?" tanya ku tak mengerti.
"Mama sudah gak ada, mama meninggal. Kamu sudah 3 hari gak sadar, dan mama sudah di makamkan 3 hari yang lalu," ujar Arya sambil berusaha memelukku.
"Enggak, Mas Arya pasti bohong, iya kan pa. Mas Arya bohong kan pa, jawab aku pa, jawab" teriakku dan papa hanya diam aja menitikkan air mata. Aku lihat mama sama papa mertuaku pun hanya menangis. Tiba tiba aku ingat terakhir kalia sebelum aku pingsan, aku melihat mama gak ada, mama meninggal karena kecelakaan.
"MAMAAAAAAAAAAAAAAA, kenapa mama ninggalin aku. Mas Arya, ini semua gara gara Mas Arya, kenapa Mas Arya tega buat mamaku meninggal, Kenapa mas hiks hiks ...."
"Maafin aku sayang, waktu itu remnya blong dan kayaknya ada yang merusaknya. Sekarang polisi sedang menyelidikinya karena memang mobilku yang aku taruh di parkiran, tidak terjangkau CCTV, namun polisi sudah mencurigai seseorang, maafin aku. Karena aku gak bisa mengaja mama sama papa, aku benar benar minta maaf," ucap Arya merasa bersalah. Farhan pun tak bisa menyalahkan Arya, karena memang Arya di sini juga merupakan seorang korban. Untunglah Arya gak papa, hanya luka di dahinya karena bentukan keras yang mengenai kemudinya.
Arya pun juga sudah menceritakan apa yang terjadi kepada Farhan dan kedua orang taunya. Arya juga memberitahu keteranan polisi saat polisi datang dan menanyakana tetanng peristiwa kecelakaan itu.
"Siapa orang yang tera mencelai mama mas, kenapa dia begitu tega? Apa salah mama, sampai dia dengan teganya membuat mama meniggal mas, siapa?" tanya Lidya, ia benar benar histeris. Ia bersumpah akan membuat orang yang mencelakai mamanya, mendekam penjara seumur hidup
"Aku juga tau sayang, polisi sedang mencari pelakunya. Tapi gak lama lagi, kita akan tau siapa dalang dari kecelakaan itu," jawab Arya sedih. Siapa yang gak sedih, karena saat kecelakaan itu, Arya sendirilah yang menyetir mobilnya. Namun ia pun juga sudah berusaha agar tak ada yang celaka, tapi jika takdir sudah berkata lain, ia pun tak bisa berbuat apa apa.
\===
Seminggu kemudian, polisi pun memberitahu pelaku nya kepada Arya. Dan Arya pun mengajak Lidya untuk melihat pelaku yang telah membuat mamanya Lidya meninggal. Bahkan Lidya ingin melihat penangkapannya secara langsung.
__ADS_1
Arya dan Lidya pun naik mobil hingga akhirnya mereka ada di depan rumah sederhana di sana juga sudah ada mobil yang menangkap seseorang dengan di lihat oleh banyak warga.
"Sayang, ayo turun," ajak Arya melihat Lidya hanya diam seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Mas, benar ini rumahnya?" tanya Lidya.
"Iya, kamu tau rumah ini milik siapa?" tanya Arya penasarann.
"Aku tau mas, rumah ini rumah mantan mertua aku, yang artinya ini rumah milik mantan suami aku juga," jawab Lidya bergetar.
"Apa? jangan jangan ....." Arya pun semakin yakin bahwa mantan suami dari tunangannya itulah yang tega merusak rem mobilnya.
"Ayo mas, kita lihat. Aku gak akan pernah memaafkannya jikam memang dialah pelakunya," ujar Lidya dengan tatapan marah.
Lidya dan Arya pun turun dari mobil, semua menatap ke arah Lidya, namun mereka memilih diam saat melihat Lidya dengan tatapan amarahnya.
"Pak, aku mohon jangan bawa anak saya pak, dia gak bersalah," ucap Desi, sambil berusaha melepaskan anaknya dari polisi.
Lidya jalan mendekati Daswan langsung menampar Daswan dua kali, kanan kiri dengan di saksikan banyak orang. Bahkan merkea sudah mulai banyak yang menyalakan kemareannya. Ya ini adalah dunia modern, ada apa apa, mereka akan langsung sibuk dengan mengambil hp nya dan merekamnya lalu di masukkan ke media sosial.
"Kenapa kamu tampar anakku?" tanya Desi tak terima.
"Kenapa ibu bilang? Dia sudah membunuh mamaku," teriak Lidya hingga semua orang mendengar dengan jelas.
"Itu gak mungkin, anakku bukan seorang pembunuh," ucap Desi dengan nada tinggi, ia gak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Lidya.
"Oh ya? Coba Anda tanya bagaimana anak Anda membunuh mamaku dan juga hampir membuat tunanganku juga kehilangan nyawanya?" tanya Lidya sinis. Semua orang sudah mulai bisik bisik, mereka gak menyangkaa bahwa Daswan tega melakukkan hal sekeji itu setelah sebelumnya ia tega mengkhianati Lidya dengan wanita lain.
__ADS_1
"Daswan, bilang sama ibu kalau itu gak benar," ujar Desi sambil memegang tangan Daswan.
"Maaf ibu tapi apa yang di katakan Lidya benar," ucap Daswan dengan rasa bersalahnya. Tadinya ia ingin melenyapkan Arya agar dirinya bisa bersatu lagi dengan Lidya, ia gak tau kalau ternyata mamanya Lidya juga ikuut masuk ke mobil Arya. Dan sialnya malah mamanya Lidya yang meninggal.
"Astaga, kenapa kamu tega nak, kenapa?" tanya Desi gak menyangka bahwan anaknya benar benar seorang pembunuh.
"Maaf, aku hanya ingin melenyapkan Arya bu, karena dia seudah merebut Lidya dari aku, aku gak tau kalau mamanya juga masuk ke mobil itu," ujar Daswan yang membuat Lidya maraah.
Lagi lagi Lidya menampar Daswan.
"Kamu bilang, Mas Arya merebut aku dari kamu. Apakah kamu lupa Mas, saat kita menikah dulu. Kamu gak memberikan aku uang speserpun karena kamu memberikan uang itu untuk selingkuhanmu. Apa kau juga lupa berapa bulan kamu gak memberikan aku nafkah lahir batiin, dan berapa bulan kamu menikmati tubuh wanita itu di sebuah apartemen. Jika aku mengguggat cerai kamu dan setelah kita pisah, aku menjalin hubungan dengan orang lain, apa itu salah. Apakah kamu menginginkan selamanya aku menjadi seorang janda, itu kah mau mu mas?" tanya Lidya dengan linangan air mata, semua orang yang mendengarnya bahkan begitu geram dengan apa yang di lakukan oleh Daswan.
"Aku ingin kita bersatu kembali, apa itu salah?" tanya Daswan.
"Ya itu salah, setelah penghianatan kamu berbulan bulan, setelah kamu mencampakkakn aku, setelah kamu menghianati aku, setelah kamu menyakitiku berkali kali. Apakah pantas kamu bicara seperti itu? Apakah masih ada rasa cinta setelah apa yang kamu lakukan mas? Kenapa kamu begitu egois?! Bahkan kamu tega membunuh mamaku mas, kamu gak cukup menyakitiku tapi sekarang kamu juga membunuh mamaku, mama yang sudah mengandung aku selama 9 bulan, mama yang sudah melahirkan aku dengan bertaruh nyawa, mama yang sudah menyayangi dan mencintai aku sedari aku kecil. Kenapa mas, apa salah mama?" tanya Lidya dengan suara bergetar. Arya berusaha menenangkannya.
"Aku gak bermaksud membunuh mama, aku hanya ingin melenyapkan penghalang yang membuat kita gak bisa bersatu," ujar Daswan.
"Mas, andai katapun aku gak bertunangan dengan Mas Arya, aku juga tak akan kembali kepada laki laki yang sudah mempermainkan sebuah pernikahan. Bertahun tahun ibumu menghinaku, dan mengatakan aku mandul, aku terima mas, walaupun kenyataannya, kamulah yang mandul. Ibumu maki maki aku sesuka hati bahkan dengan kata kata menyakitkan, aku juga terima mas. Kamu campakkan aku, kamu cuekin aku, kamu bersikap dingin sama aku, bahkan kamu gak menafkahi aku lahir batin, aku juga terima mas, tapi jika kamu selingkuh bahkan melakukan hubungan badan tiap hari selama berbulan bulan dengan wanita lain, itu yang gak aku terima. Apakah pantas kamu menjadi suami aku setelah apa yang kamu lakukan? Apakah saat kamu lagi menikmati hubungan badan dengan wanita lain, kamu ingat aku mas, apakah kamu ingat aku di rumah yang menangisi sikap kamu yang begitu dingin sama aku?" tanya Lidya dan Daswan pun hanya diam aja. Sedangkan Desi ia hanay bisa menangis, karena ia begitu menyesal. Ia sudah membuat hidup anaknya menderita juga karena ulahnya sendiri, karena keegoisannya.
"Maaf," ucap Daswan menunduk.
"Apa kata maaf bisa membuat hatiku yang terluka bisa sembuh. Apakah kata maaf darimu bisa membuat mamaku hidupp kembali?" tanya Lidya yang juga menangis namun ia bersuaha tegar.
"Kamu membuat papaku kehilangan wanita yang sangat ia cintai, papaku jadi duda karena kamu membunuh mamaku. Aku juga jadi anak yatim karena ulahmu mas. Terus setelah ini, apa lagi yang ingin kamu lakukan mas buat menghancurkan aku? Apakah kamu akan membunuhku biar gak ada satupun yang bisa memiliku?" tanya Lidya.
"Maaf, aku gak bermaksud ...."
__ADS_1
"Sudahlah, pak polisi. Cepat bawa dia dan hukum dia seberat beratnya karena ini sudah menyangkut kasus percobaan pembunuhan," ucap Lidya sambil menghapus air matanya. Pak polisi pun mengangguk lalu membawa Daswan ke mobil tahanan. Sedangkan Desi ia teriak teriak berusaha melepaskan anaknya bahkan ia juga memohons ama Lidya untuk membebaskan anaknya. Namun Lidya tak menghiraukannya dan ia pun juga pergi dari sana bersama Arya. Arya memilih diam, karena ia membiarkan Lidya mengungkapkan semua isi hatinya. Ingin rasanya Lidya membunuh Daswan sebagaimana Daswan membunuh mamanya tapi Lidya gak mau melakukan hal hal yang malah merugikan dirinya sendiri.