That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Jangan Salahkan Aku


__ADS_3

Cleire bersedekap kesal di pinggir ranjang. Matanya terus menatap tajam pintu kamar mandi dimana pria mesum sedang ada disana. Gadis itu menyentuh bibirnya yang sedikit bengkak, wajahnya memerah mengingat kejadian bodoh yang menurutnya gila.


Diriku sudah ternoda ....


Gadis itu bangkit dan berlari kearah meja rias yang entah sejak kapan ada disana, bahkan ada banyak perlengkapan wanita.


Cih! Casanova.


Cleire tercengang melihat begitu banyak tanda-tanda percintaan yang ditinggalkan Chris. Dia tidak mungkin pulang malam ini atau ibunya akan mengomel sepanjang waktu. Melihat alat-alat make up diatas meja, Cleire ragu untuk menyentuhnya karena memang tak pernah berurusan dengan benda seperti itu, kecuali bedak tipis dan pelembab bibir.


Aku bahkan tidak tahu kegunaannya.


Padahal adiknya, Casey selalu memintanya untuk mencoba atau setidaknya belajar sedikit untuk berjaga-jaga. Namun, apalah daya jika sang empu tetap enggan meski sudah di peringati berkali-kali. Keras kepala, itulah gambaran yang cocok untuk Cleire.


"Akhh ... sialan!" umpatnya memukul meja rias.


Tiba-tiba ....


Sepasang tangan kokoh sudah mengukungnya dari belakang. Tangan Chris mengurung gadis itu dengan menumpukan kedua tangannya di meja rias dan menikmati wajah cantik Cleire yang alami dari cermin kaca. Wajah cantik itu terkesiap hingga lagi-lagi lupa bernafas. Chris terkekeh dan ....


Pletak


Cleire mengaduh sambil mengusap keningnya yang di sentil oleh Chris. Gadis itu menatapnya nyalang, membuat Chris lagi-lagi terkekeh geli. Pria itu akhirnya melingkarkan tangannya di perut Cleire, menyangga dagunya di atas kepala gadis itu.

__ADS_1


Perbedaan tinggi badan membuat Chris sangat nyaman memeluk gadis ini. Namun, berbeda jika itu gadis lainnya, hanya Cleire nya yang mampu membuatnya nyaman. Pria itu berharap jika ibunya bersedia menerima gadis pilihannya ini, mengingat temperamen ibunya yang sedikit keras dan pemilih, bahkan ayahnya tidak berani menentangnya.


"Biarkan seperti ini sebentar, please." Mohonnya pada Cleire yang mulai memberontak.


Cleire terpaku ketika Chris mencium puncak kepalanya dari belakang. Eh ... kenapa perlakuan pria ini tiba-tiba melembut? Raut wajahnya berubah sedikit lebih sendu. Apa dia sedang sedih? Tidak mungkin!


Cleire menurut tanpa sadar, dia memperhatikan lekat wajah tampan itu dari balik cermin yang memantulkan siluet mereka. Chris menampilkan senyum tampan nya ketika menyadari jika gadisnya sedang menatapnya juga.


"Aku tahu aku tampan dan mungkin saja kau tidak akan tahan jika menunggu terlalu lama." Chris berbisik di telinga Cleire sambil menatapnya di cermin.


"Hah?" Polos tetap saja polos, gadis itu tentu tidak mengerti kecuali kata 'tampan' yang dianggapnya narsis.


Chris terkekeh geli. Ah ... apa seperti ini rasanya mencintai gadis yang masih baru? Berterima kasih pada Tuhan yang berbaik hati membuka hati dan matanya untuk gadis cantik ini.


"Chris!" Cleire memekik kaget ketika Chris lagi-lagi mengangkatnya dan menghimpit tubuhnya disana.


"Chris, kau—" Sekali lagi, baj*ngan itu mengambil ciuman di bibirnya.


Lembut. Chris menciumnya dengan lembut, seakan bibirnya adalah sesuatu yang rapuh dan harus berhati-hati. Cleire terbuai, lagi. Pria ini seperti tahu kelemahan dirinya, tanganya terulur menyentuh bahu Chris dan membalas.


Chris sontak melepas pangutannya, sesuatu berdiri di bawah sana karena mendapat respon. Rahangnya mengeras dengan nafas menggebu. Cleire pun sama, gadis itu juga mengatur nafasnya, membuat Chris tidak tahan melihat wajah itu.


Dia tidak sama, Chris. Jangan merusaknya. Chris memperingati diri sendiri.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Cleire. Tidak ada yang boleh memiliki mu selain aku. Jika kau berani mencintai pria lain, maka jangan salahkan aku jika ia lenyap." Chris beranjak keluar, meninggalkan Cleire yang membeku.


-


-


Chris menegak kasar wine ditangannya. Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi tanpa menoleh. Masuk dan duduk di meja bar miliknya.


Dia pria perfeksionis yang tidak pernah memikirkan cinta, yang dia lakukan hanyalah bekerja dan menghilangkan stress dengan bercinta. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk menjalani hubungan serius dengan wanita. Kedatangannya ke Indonesia siapa sangka akan menjadi perantara pertemuannya dengan gadis cantik nan licik itu. Gadis unik dan polos, namun tak sepolos itu.


Meskipun saat itu adalah pertemuan pertama mereka, namun hati tahu siapa yang ia pilih. Chris tahu jika ini bukan hanya sekedar suka ataupun kagum, melainkan cinta.


Yes. This is love!


Tidak peduli jika dia akan dikatakan egois atau pemaksa, dia tidak akan pernah melepaskan Cleire. Bahkan jika keluarganya menentang, dia akan membawa kabur gadis itu hingga hanya ada mereka berdua disana. Bagaimana dengan istilah 'cinta tak harus memiliki?' Omong kosong! Tidak ada hal seperti itu di dalam kamusnya.


Sudah bisa melihat betapa egoisnya pria itu? Terkadang cinta memang harus berlebihan karena tidak ada logika di dalamnya. Mencintai dengan sewajarnya merupakan perkara yang sulit. Jadi, jangan paksa dia untuk mencintai seperti kebanyakan orang karena dia punya cara sendiri untuk memberikan cintanya.


Chris sudah memesan makan malam untuk mereka berdua dan menyusunnya diatas meja. Tak terasa sudah seharian mereka bersama, cukup membuktikan jika gadis itu memang bisa membuatnya nyaman.


Pria ini sedang menunggu gadisnya selesai mandi. Meski sudah malam, Chris tidak berniat mengantarnya pulang. Ardrich sebenernya sudah menghubunginya sejak tadi, bukan untuk menanyakan Cleire, tapi untuk menginterogasi dirinya pasal gosip unfaedah Seno dan Clark.


Bagaimana dia tahu? Dua pria itu sendiri yang memberitahunya agar berhati-hati dengan kemarahan Ardrich yang mengetahui dirinya bersama wanita lain. Beginilah jadinya jika hanya mendengar informasi dari satu pihak saja. Chris malas meladeninya, diaturnya ponselnya dalam mode silent. Biarlah Ar kesal sendiri karena telponnya diabaikan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2