That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Inti Dari Awal Permasalahan


__ADS_3

"Kau sungguh menerima pria itu?" Lagi-lagi suara Elle menyentak Cleire yang bahkan baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya.


"Mom!" Menegur ibunya yang selalu muncul tiba-tiba.


"Cepat pakai bajumu," perintah Elle.


Cleire berdecak. "Kau bilang mau menunggu di kamar."


"Memangnya aku mengatakan di kamar siapa?"


Yayaya, kau yang benar! batin Cleire jengah. Tak ingin berdebat, ia pergi ke ruang ganti untuk berpakaian. Setelah selesai, ia kembali menemui ibunya di luar.


"Jadi, kau serius?" tanya Elle lagi.


"Aku bahkan tidak pernah mengatakan iya. Kau tahu Chris pria pemaksa."


"Tapi kau masih bertahan dengannya hingga sekarang." Sudah berbulan-bulan berlalu, meski belum ada kejelasan salah satu pihak, keduanya sudah seperti berada pada fase kekasih.


"Dia yang menahanku," ujar Cleire mulai mengeringkan rambutnya.


"Atau kau yang ingin bertahan." Elle melanjutkan.


Cleire terkekeh. "Mom ... kau tahu aku, kan? Hubungan seperti ini–"


"Tidak berarti untukmu, membosankan dan penuh drama!" tekan Elle memotong perkataan Cleire. Gadis itu mendelik menatap ibunya di cermin.


"Memang seperti itu, kan? Pria itu akan mundur dengan sendirinya saat menyadari hubungan ini takkan mungkin bertahan," sergah Cleire, masih mencoba membantah perasaannya.


"Jangan membohongi dirimu sendiri, Cleire. Jika kau tidak ingin bersamanya, tinggalkan dia!" ucap Elle tegas. Cleire membeku dibuatnya.

__ADS_1


"Aku akan membantumu pergi menjauh dari pria itu. Kupastikan dia takkan pernah mengganggu hidupmu lagi. Lebih baik seperti itu, lalu suatu saat kau akan melihatnya bahagia dengan wanita lain. Menikah dan memiliki anak. Dan saat itu kau melihat betapa Chris begitu mencintai istrinya dibandingkan dirimu!" Elle mulai lelah dengan sikap Cleire. Ia mengatakan semua isi kepalanya untuk membuat gadis itu ketakutan dengan bayangan bahagia itu.


"MOM!" bentak Cleire sarkas. Dadanya berpacu cepat, matanya memerah disertai kabut. Kenapa begitu menyakitkan, ia bahkan tak ingin membayangkan.


"Kau mencintainya Cleire dan dia mencintaimu. Aku tahu sifatmu. Kau takkan diam saat sesuatu mengusikmu, lalu kenapa kau biarkan dia terus berada disisimu? Karena kau takut kehilangannya!"


Tes. Air matanya meleleh begitu saja, mengalir keluar dari sudut matanya. Bahunya mulai bergetar. Ia menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangan, menangis.


"Kau keterlaluan, Mom. Bagaimana bisa kau bicara begitu pada putrimu." Cleire sesugukan. Elle menarik nafas kasar, ia lantas menarik Cleire agar berpindah tempat di sampingnya.


"Aku masih wanita karier sebelum bertemu ayahmu." Elle mulai bercerita, Cleire menatap ibunya.


"Aku tak ingin bicara banyak. Intinya kami bertemu dan jatuh cinta, lalu menikah. Saat itu aku menghentikan karirku, fokus pada rumah tangga kami. Namun, setelah melahirkan Ardrich dan dirimu, aku mulai jenuh. Aku merindukan pekerjaanku, jadi meminta izin Markus dan dia tidak keberatan asal aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai istri dan juga ibu."


"Namun, aku lalai. Aku sibuk membangun kembali karir ku yang tertunda dan meninggalkan tanggung jawabku. Markus berusaha sabar, tapi aku selalu menyulut emosinya. Saat itulah hubungan kami mulai renggang dan kami sering bertengkar untuk hal kecil. Puncaknya, ayahmu mengkhianatiku, membawa pulang dua bayi kecil yang merupakan anaknya dengan wanita itu."


Elle terus bercerita tentang masa lalunya. Cleire yang mendengarkan sejak awal mulai memahami satu hal. Satu hal yang menjadi inti sekaligus poin penting yang hendak disampaikan ibunya.


Memang siapa yang tahan hidup bersama seseorang yang menjadikan karir sebagai prioritas utama?


Sekarang ia pun ikut merasa bersalah. Hanya karena mempercayai penglihatannya, ia membenci Markus yang menjadi ayahnya. Mungkin inilah maksudnya agar mendengar dari dua belah pihak, agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Dad bilang wanita itu sudah meninggal, tapi dia berbohong. Aku pernah mendapati mereka berdua sedang bersama. Saat itu aku mengantar Casey kuliah." Cleire berujar lirih seraya menghapus air matanya.


Elle mengkerut, ia tidak tahu soal ini. Apa artinya baru-baru saja?


-


-

__ADS_1


-


"Semua baik-baik saja?" Chris masuk terburu-buru ketika melihat wajah sembab Cleire. Gadis itu masih duduk merenung di dalam kamar.


"Cleire," tegur Chris sekali lagi. Cleire akhirnya menoleh, bibirnya mencebik lucu menahan tangis.


"Kau tidak boleh mengkhianatiku ya." Gadis itu memeluk erat tubuh kekar Chris. Pria ini merasa aneh dengan sikap Cleire yang baru ia lihat.


"Apa yang dikatakan Elle padamu?" Chris mengusap punggung Cleire lembut, memberi kehangatan pada gadis kecilnya.


Cleire menggeleng. "Apa kau sungguh mencintaiku?" Cleire membalas dengan pertanyaan. "Tentu saja," jawab Chris datar. Ia benar-benar merasa janggal.


"Bagaimana jika kau berubah?" tanyanya lagi.


"Tidak akan ada yang berubah." Chris mendongakkan wajah Cleire agar menatapnya.


"Sekarang beritahu aku apa yang yang dikatakan Elle."


Mata Cleire kembali basah. Kenapa ia menjadi cengeng seperti ini? Perkataan Elle tentang Chris yang lebih mencintai wanita lain daripada dirinya membuatnya takut. Padahal ia sendiri yang ingin pria ini menjauh.


"Cleire ...."


Detik itu juga tangis Cleire pecah. Ia memeluk erat leher Chris serta membawa tubuhnya duduk di atas pangkuannya. Seperti bocah nakal yang memerlukan perlindungan karena nyatanya Cleire memang gadis nakalnya Chris.


"Aku mencintaimu ... kau hanya boleh bahagia bersamaku," rengeknya.


Chris yang awalnya curiga ada yang tidak beres mulai tidak peduli lagi. Yang terpenting sekarang gadis ini sudah mengakui dirinya. Ya, setelah berbulan-bulan akhirnya penantiannya tidak sia-sia. Ia tersenyum bahagia seraya memeluk erat gadis yang bergelayut padanya itu.


Diluar, semua orang menahan senyum sekaligus kekehan. Cleire yang keras kepala akhirnya luluh juga.

__ADS_1


"Mari kita rayakan!" sorak Casey namun hanya berupa suara kecil yang hanya di dengar oleh mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2