
Daniel membawa mobil dengan kecepatan tinggi sesuai instruksi tuannya. Pria yang memerintah itu hanya duduk diam dengan wajah datar andalannya.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, keduanya akhirnya sampai di Venice Beach. Lokasi terakhir yang di datangi oleh Cleire menggunakan mobil Elle. Ardrich memang sudah curiga jika ibunya ada kaitannya, jadi melacak gps milik mobil ibunya itu.
Saat masuk, mereka langsung disambut keramaian tempat wisata tersebut. Melihat suasana tempat itu, kemungkinan besar Cleire memang ada disana. Apalagi tempat itu memiliki banyak tempat-tempat yang bagus untuk dikunjungi.
Chris tanpa peduli yang lainnya langsung menuju hotel tempat Cleire menginap. Tempat elite ini pasti Elle yang memesannya. Calon mertuanya itu rupanya sudah merencanakan sejak awal.
Hari sudah hampir malam, gadisnya itu mungkin sudah berada di kamar hotel. Tapi Daniel secara mendadak menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran saat melihat orang yang tak asing sedang tertawa bersama seorang pria.
Astaga, Nona! Tuan hampir gila karena mu, tapi kau malah tertawa senang disini. Habislah kau, batin Daniel sedikit iba.
Belum ia bicara, Chris rupanya sudah menghilang dari kursi penumpang. Daniel terkejut ketika melihat pria itu sudah berjalan masuk dengan wajah memerah marah.
**
Chris PoV
Aku memikirkannya seharian! Apa kiranya yang diperbuat disana. Gadis keras kepala itu rupanya
sangat bersenang-senang tanpa aku! Marah, kesal, bercampur menjadi satu. Aku tidak marah padanya, tapi marah pada diriku yang sulit mengontrol gadis itu.
Aku tahu ia hidup bebas sejak dulu, jadi begitu sulit menerima aturanku. Ku akui aku salah karena mengurungnya di sangkar emasku, tapi kulakukan itu karena mencintainya.
Memang benar orang yang tidak pernah jatuh cinta seperti diriku, sekali jatuh maka akan menjadi pria gila yang menahan gadisnya. Aku tidak tahu bersikap romantis, tapi aku tahu cara mencintai. Meski gadis itu telah menyatakan perasaannya, tapi entah mengapa aku merasa ia masih begitu jauh dari genggamanku.
Tanpa pikir panjang aku langsung keluar dari mobil. Mendekat ke arah gadis yang sedang tertawa puas disana.
Cleire! Siapa lagi pria yang bersamanya itu. Mereka terlihat sangat akrab. Gadis itu bahkan tak pernah tertawa seperti itu padaku.
"Katakan dimana kamarmu. Biar ku antar kau kesana." Kudengar laki-laki itu bersuara.
Kurang ajar! Pikirannya aku akan biarkan!
"Haha ... kau tidak boleh kesana. Noo! Hanya kekasihku yang boleh."
Tunggu! Gadis itu mabuk? Tapi aku suka kata terakhirnya.
__ADS_1
"Aku hanya membantumu saja. Lagipula kekasih mu tidak ada disini." Hendak menyentuh Cleire.
Sebelum laki-laki itu berhasil, aku menepis tangannya. Ia terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba.
"Chris?"
"Ck! Sean." Ternyata sepupuku sendiri.
"Oh my Chris. Kau datang? Hehe ... aku sudah menunggu mu." Gadis itu berdiri sempoyongan, hendak meraihku. Dengan sigap ku rengkuh tubuh mungilnya.
Lihat? Dia sangat berbahaya ketika mabuk. Wajahnya seperti mengajak seseorang untuk menikmatinya. ****! Tanpa sadar dia menggoda orang untuk mendekat.
Gadis ini!!
"Jadi kau kekasihnya?" Sean masih penasaran.
"Ya."
"Sungguh?!" Wajahnya menatapku tak percaya. Jangan bilang dia tertarik pada gadisku.
"Kita pulang." Ku gendong tubuhnya.
"Kau rumahku, jadi harus pulang kemana?" rengeknya sesekali cegukan. Aku menatapnya dan dia tersenyum.
Rumahnya? Itu artinya aku sudah menjadi tujuannya kembali? Senang, ya. Jika begitu, bukankah aku harus memberinya hadiah?
"Chris, jelaskan sesuatu," teriak Sean saat kami menjauh.
"Sean, sampai ketemu lagi." Cleire melambaikan tangan.
**
Author PoV
"Chris, kita mau kemana?" Cleire bersandar lemah di bahu Chris ketika mereka memasuki lift.
"Ke neraka," datar Chris.
__ADS_1
Cup!
Cleire tiba-tiba mengecup singkat rahang tegas pria itu. Chris berusaha kuat agar tidak menerkam gadis itu sekarang.
"Neraka ya? Dosaku pasti begitu banyak. Itu sebabnya Tuhan tidak membiarkan aku bahagia." Setitik air mata Cleire menetes di tengah lanturannya.
"Siapa bilang?! Aku yang akan membuatmu bahagia." Chris tidak suka perkataan bodoh gadis itu.
"Tapi aku tidak ingin punya anak tiri. Aku tidak ingin berbagi suami."
"Tidak akan!"
"Daddy juga bilang begitu, tapi dia mengkhianati mommy."
"Aku bukan daddy mu!"
"Ah benar! Kau kan sudah bertunangan. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Turunkan aku!" Cleire mulai memberontak.
Chris heran dengan kekuatan gadis ini. Tubuhnya sedang lemah akibat alkohol, tapi masih kuat untuk memberontak. Memang bukan perempuan pada umumnya.
"Diamlah! Aku tidak akan menikahi siapapun kecuali kau." Chris mempererat gendongannya.
Chris meletakkan pelan Cleire diatas ranjang kamar yang dipesan Daniel. Ia mulai menutup tubuh itu dengan selimut agar segera tidur. Tapi Cleire gadis cerewet yang tidak bisa diam.
"Kau baj*ngan, pria pemaksa! Aku membencimu," pekik Cleire.
Deg! Chris terdiam menatapnya.
"Aku tidak mau mencintai pria sepertimu ... tapi sekarang aku mencintaimu. Hehe ... cinta itu merepotkan dan menyakiti banyak orang."
"Aku– emhp ..." Sebelum Cleire melanjutkan kata-katanya lagi, Chris segera mencium rakus bibir cerewet itu. Ia marah, kesal, tapi menghilang setelah kata cinta dari Cleire keluar.
Bibir keduanya beradu. Chris tak ingin melepaskan Cleire malam ini. Hasrat yang sejak lama ia tahan pun akan ia lepaskan. Salah satu cara untuk mengikat gadis ini disisinya adalah memiliki seutuhnya. Dengan begitu Cleire tak akan mencoba lari lagi darinya.
Mari kita pikirkan kemarahan gadis ini nanti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Maaf banget untuk keterlambatan Up nya ya Say🙏 Belakangan ini aku sibuk banget dan udah gak enak badan sejak beberapa hari lalu. Bawaannya jadi males, gak ada ide buat lanjut....
...Hari ini aku Up seadanya dulu. Harap maklum ya....