
"Melamun?"
Casey tersentak kaget dengan kedatangan Cleire yang tiba-tiba. Ia seperti tertangkap basah telah mengawasi Elle hingga wanita paruh baya itu menghilang dari balik pintu utama.
"Kau tidak bekerja?" Bukannya menjawab, Casey justru malah bertanya kembali.
Cleire merotasikan matanya, mengalihkan pembicaraan. "Jangan canggung seperti itu dengan mom. Bersikaplah seperti sebelumnya, semua sudah berlalu."
Casey tahu Cleire tidak mudah dialihkan perhatiannya pun menyerah. "Aku sedang berusaha."
"Terserah kau saja." Malas melanjutkan pembicaraan, Cleire hendak turun untuk pergi, namun Casey lebih dulu berbicara. "Kau tidak membenciku, kan Cleire?" Membuatnya terdiam.
Bohong jika ia tidak pernah membenci. Karena kehadiran gadis muda itu, ibu dan ayahnya hampir berpisah dan menjadi orang asing.
"Dasar bodoh. Tentu saja tidak! Mau sampai kapan kau terus bertanya? Telingaku sakit mendengarnya. Kau tetap adikku hingga saat ini." Mendorong bahu Casey pelan, membuat gadis itu tersenyum malu.
"Pergi sana. Bekerja yang benar, dasar tuan putri pemalas!" ejek Casey segera masuk ke kamar saat melihat Cleire seperti hendak mencekiknya.
"Awas kau ya! Jangan coba-coba meminta uang padaku!" teriak Cleire dari luar. "Aku akan minta pada Ardrich, haha," jawabnya tertawa.
Adik sialan!
.
.
.
.
Esoknya, Cleire mulai berkutat dengan peralatan dapurnya. Sangat jarang ia mau melakukan hal seperti ini di sela-sela istirahatnya. Berhubung ini permintaan Ardrich yang tak ingin dibantah, Cleire terpaksa datang ke perusahaan dengan membawa makan siang pria itu.
Cleire gadis mandiri yang terbiasa mengurus dirinya sendiri. Hanya memasak bukanlah masalah untuknya. Para pelayan tidak berani mengganggu. Setelah selesai, Cleire memasukkannya ke tempat makan khusus. Aroma khas masakan Cleire tercium jelas di sekitaran dapur, membuat siapa saja tergoda oleh baunya.
__ADS_1
Bukan hal aneh lagi jika melihat nona muda mereka berada di dapur. Cleire gadis unik yang tidak bisa ditebak sifat dan prilakunya. Selain paras dan keahlian yang menjadi kelebihan, satu hal yang cukup disayangkan oleh orang terdekat Cleire, yaitu sangat sulit dekat dengan laki-laki.
"Kau mau kemana?" Pergerakan Cleire yang hendak memasukkan bekalnya terhenti kala Cedric yang baru turun dari kamar mendekatinya.
"Mengantar makan siang Ardrich."
"Sebanyak itu?" Heran dengan porsi makannya yang terbilang cukup besar untuk ukuran satu orang.
Eh? Benar juga. Cleire baru sadar jika porsi yang dipesan Ardrich tidak seperti biasanya. Ia seperti sedang membuat makanan untuk orang-orang rapat. Yang benar saja!
"Mungkin dia sedang ada tamu." Cedric berpikir positif. Cleire mengangguk saja, tidak peduli. Perhatian justru tertuju pada adiknya yang sudah rapi untuk kuliah.
"Kuliah siang?" tanyanya. "Hm." Cedric mengangguk seraya meneguk segelas air untuk menghilangkan dahaganya.
"Kalau begitu bawa makan siang juga," putus Cleire sepihak, membuat Cedric tidak sengaja tersedak air yang diteguknya.
"Tidak mau! Kau tahu aku tidak suka membawa bekal, kan?" protes Cedric tidak suka. Baginya itu cukup memalukan untuk dirinya yang terlihat dingin dan introvert itu.
Cleire berbalik dengan berkacak pinggang. Menatap Cedric dengan pandangan tajam yang cukup menakutkan bagi remaja muda ini. "Katakan sekali lagi, aku tidak dengar," pintanya dengan wajah datar.
Menyebalkan sekali gadis ini. Jika sudah memasang wajah datar plus serius, jangan harap bisa membantah. Cleire punya seribu cara untuk membuat lawannya bertekuk lutut.
"Anak pintar. Ini baru adikku." Tersenyum lebar, lalu memberi cubitan di kedua pipi Cedric layaknya anak kecil. Remaja ini berdecak, hanya bisa mengeluh dalam hati.
Aku bukan anak kecil!
.......
...--- o0o ---...
.......
"Kenapa lama sekali!" Seno sudah menunggu tidak sabar.
__ADS_1
"Kau pikir adikku pembantu," jawab Ardrich tidak suka.
"Kapan Chris kembali?" tanya Ardrich lagi. Sudah dua hari ini pria itu pergi untuk urusan bisnis di luar negeri. Merepotkan dirinya yang tidak ingin ketinggalan kabar Cleire.
"Kenapa? Dia mengganggumu terus ya." Seno terbahak.
"Dia sudah jadi budak cintanya Cleire," ucap Clark.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika Chris akan jatuh cinta pada gadis menyebalkan itu." Seno menggeleng heran.
"Tidak ada yang tahu masa depan," celetuk Clark lagi dan diangguki oleh Seno.
"Kau sungguh tidak keberatan, Ar?" Keduanya melirik Ardrich yang sibuk dengan dokumen di meja kerjanya.
"Lihat saja kedepannya," jawab Ardrich singkat. Meski begitu, ia banyak berpikir. Selama Chris tidak menyakiti adiknya, maka selama itu juga ia takkan mengganggu.
Ditengah percakapan mereka, ketiganya dibuat menoleh ketika pintu ruangan terbuka. Menampilkan sosok cantik yang tersenyum manis tanpa beban apapun ditangannya. Mereka dibuat heran dengan sikap gadis ini.
"Dimana makan siangnya."
Senyum manis itu langsung lenyap kala pertanyaan Seno menjawab kebingungan yang sempat melandanya tadi.
"Aku membuatnya untuk Ardrich, bukan untukmu!" ketus Cleire.
"Sama saja!" seru Seno.
"Apanya yang sama!"
"Sudah hentikan!" tegur Ardrich ikut jengah, membuat keduanya terdiam dengan mata saling melotot.
Ditengah-tengah suasana, ketiga pria itu dibuat kembali terkejut dengan kedatangan pria yang sangat mereka kenal sedang menenteng banyak paperbag yang dipastikan merupakan makan siang milik Ardrich yang dibuat oleh Cleire.
"Chris?!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Maaf ya jarang Up. Aku udah sebisa mungkin untuk up cepat, tapi berhubung aku sibuk kerja jadi kurang bisa up cepet....