
......................
Makan siang yang begitu ditunggu hingga saat ini bisa dikatakan baru masuk sedikit di perut para pria tampan yang sedang memandang Chris dengan terheran-heran. Pasalnya, pria itulah yang makan paling banyak, seolah enggan untuk berbagi dan tak ingin mereka mencicipi.
"Kau kelaparan?" Seno, Clark, Ardrich, bahkan Cleire hanya sibuk memandangi Chris yang makan begitu lahapnya.
"Ini terakhir kalinya kalian memakan masakan Cleire," ucapnya tiba-tiba, membuat mereka melongo dibuatnya.
"Sebelum bertemu kau, aku memakan masakannya setiap hari," jawab Ardrich mengangkat sebelah alisnya.
Memangnya siapa lagi yang memasak di apartemennya jika bukan adik nakalnya? Jangan tanya ia karena barang dapur adalah haram baginya! Memasak mie saja ia tidak bisa!
"Maka itu terakhir kalinya!" putus Chris sepihak.
Ardrich langsung terkekeh kesal, tangannya refleks mengambil bantal sofa dan melemparnya pada Chris yang menatap tajam dirinya.
"Seumur hidup baru kali ini ada yang melarangku memakan masakan adikku sendiri!" cercanya.
"BERANINYA KAU!" Chris berteriak, melempar kembali bantal itu pada Ardrich.
Cleire menghela nafas sabar, cobaan hari ini begitu berat. Tak ingin ambil pusing, ia meraih sumpit, lalu mengisi satu persatu piring milik Seno dan Clark dengan bermacam-macam menu tanpa memperdulikan dua orang yang tengah berdebat konyol.
"Makan yang kenyang, abaikan dua orang hutan itu." Ucapan lembut nan ramah itu mengundang senyum tampan mereka. Keduanya mengacungkan jempol.
"Kau yang terbaik." Clark dan Seno memandang dengan penuh takjub yang dibuat-buat, membuat Cleire mengangkat dagunya sombong.
-
__ADS_1
-
-
Cleire terdiam dengan pandangan keluar jendela. Sesekali matanya melirik ke sampingnya dimana Chris tengah menyetir dengan raut datar bercampur kesal.
Sejak ia dekat dengan pria itu, Cleire merasa jika Chris maupun Ardrich sering sekali bertengkar karena hal-hal kecil. Ia ibarat pengganggu kecil yang menjadi penyebab pertengkaran mereka.
Bukan tanpa alasan. Ardrich seorang kakak yang menyayangi adiknya, begitupun Chris yang mencintai gadisnya. Keduanya hanya sama-sama tak rela harus berbagi perhatian dan kasih sayang Cleire.
Setelah ditenangkan oleh Cleire, keduanya akhirnya sama-sama diam, hingga Chris memutuskan pulang. Tak lupa ia menyeret Cleire agar ikut dengannya, dan disinilah mereka sekarang, berdiam diri di dalam mobil yang berjalan.
"Setelah kupikir-pikir, kehadiranku sepertinya–"
"Merusak," potong Chris.
"Kau ingin bilang begitu, kan? Ck, kau pikir ini novel? Merasa menjadi benalu, lalu kau mau pergi menjauhi kami, kan. Dengan begitu hubungan kami akan baik-baik saja setelah dirimu pergi."
"Jangan harap kau bisa pergi selagi aku masih hidup. Jangan coba-coba ingkar janji!" sambungnya Chris lagi, membuat bibir Cleire mengerucut sebal.
"Berpikir negatif saja terus, memangnya siapa yang melakukannya," gerutu gadis itu.
"Belum, tapi akan!" ketus Chris.
Cleire semakin cemberut, untuk kesekian kalinya harus merasa kalah jika bersinggungan dengan pria mesum itu. Apa mereka memang jodoh? Buktinya Chris selalu berhasil menjadi pawangnya.
Menyebalkan sekali! umpat Cleire dalam hati.
"Jangan mengumpat!" Tak. Sentilan jari Chris membuat Cleire terkejut.
__ADS_1
"Sakit!" Mengelus-elus keningnya yang sedikit perih.
"Sakit di fisik tidak seberapa dibanding sakit di hati. Kau sudah sangat sering melukai hatiku, tidak merasa bersalah sama sekali?" ucap Chris setelah menghentikan mobilnya, lalu memiringkan tubuhnya menghadap gadis cantik itu. Sepertinya perdebatan ini akan sedikit panjang.
"Really? Apa kau sedang balas dendam karena aku sering melukai hatimu. Jadi, kau juga ingin membalas dengan menyakiti fisikku!" serunya.
"Yes." Jawabannya sontak membuat mata Cleire melebar kesal. Wajahnya memerah karena amarah.
"Pria macam apa kau yang menyakiti wanita? Akan ku laporkan kau pada pihak–"
"Diranjangku. Aku tak yakin jika kau akan baik-baik saja setelah milikku menembus pertahananmu." Chris tersenyum menyeringai seraya melirik bagian bawah Cleire.
Wajah Cleire tidak bisa tidak memerah. Ia memang polos, namun tidak sepolos itu hingga tak mengerti arah pembicaraan Chris. Cleire tanpa pikir panjang langsung menutup bagian pahanya yang dilapisi rok pendek itu dengan tasnya.
"Dasar cabul!" teriak Cleire, seraya memberi pukulan beruntun pada dada bidang itu. Chris terkekeh geli, berhasil mengerjai gadis ini berulang kali.
Ia menahan tangan Cleire, lalu melingkarkan tangannya di tubuh tegapnya hingga posisi mereka berpelukan.
"Lepas!"
"Tidak mau," jawab Chris tanpa dosa.
"Pria mesum lepaskan aku atau aku berteriak," ancam Cleire dengan wajah garang namun sangat lucu di mata Chris.
"Sejak tadi kau sudah berteriak," ucapnya santai, membuat Cleire semakin kesal. "Menyebalkan!"
Cup. Tidak tahan lagi, Chris mendaratkan bibirnya pada gadis itu. Cup, cup, cup. Gadis itu tak punya kesempatan untuk menolak, hingga Chris benar-benar membenamkan bibirnya, menyesap lidahnya serta seluruh bagian bibirnya yang terasa manis.
"Aku mencintaimu."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Dan kita tutup dengan yang manis-manis 😆...