That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Tunangan Chris


__ADS_3

Kedatangannya Cleire yang tiba-tiba di perusahaan membuat Chris benar-benar terkejut. Aneh sekali gadis itu datang dengan kemauan sendiri. Tidak ada telpon atau pesan perihal kedatangannya.


Kebetulan ia sedang berbicara dengan Daniel mengenai kepergiannya ke kota Sevilla, Spanyol. Ya, tempat gadis itu tumbuh dari kecil hingga remaja. Ia akan mengurus salah satu proyeknya disana, dan sialnya Cleire mendengar pembicaraan tersebut.


Gadis itu gila bukan main. Ia sampai memohon-mohon untuk ikut. Chris bukannya menolak. Ia tahu Cleire gadis nakal yang mungkin akan mengganggu fokusnya disana jika ikut. Jika disini ada Ardrich yang akan menjaganya, tapi disana? Ia akan sulit mengawasi gadis itu.


Namun, terlepas dari itu, Taylor! Pria itu juga tinggal disana, kan? Bisa dipastikan ia akan kesulitan menjaga gadisnya.


Cleire yang sudah terkurung selama berbulan-bulan di kota kelahirannya ini tentu merindukan hobi lamanya. Sejak sang kakak menutup akses bepergiannya, ia tak punya pilihan lain selain diam disini. Andai Cleire tahu jika Chris juga terlibat.


"Bawa aku juga," rengeknya memeluk kaki panjang pria itu. Daniel menggeleng melihatnya. Nona ini, apa tidak peduli reputasinya?


"Lepas!" hardik Chris, kesulitan bergerak. "Tidak mau!" Cleire menolak. Ia semakin erat memeluk kaki itu.


Chris menghela nafas kasar. Ia membungkuk untuk melepas kaitan tangan Cleire. Bukan berhasil, Cleire justru ikut mengaitkan kakinya hingga bergelantung.


"Cleire ..."


"Aku tidak akan mengganggumu, aku janji," ujarnya memelas.


Bukan itu masalahnya. Jika mengganggu seperti biasa tak masalah. Tapi mengganggu dengan berkeliaran itu tidak benar!


"Aku akan membawamu lain kali. Aku hanya pergi kerja." Chris melembutkan suaranya.


"Apa bedanya. Kau hanya perlu membawaku dan urus pekerjaanmu setelah itu. Jangan pedulikan aku."


Dan membiarkan orang lain menikmati kecantikanmu tanpa diriku disana. Big no! Ini yang membuatku menolak!


Ia seperti melepas mangsa gratis jika seperti itu.


Melihat Chris hanya diam saja, Cleire tidak menyerah. "Hal kecil seperti ini saja kau tidak bisa memberikannya, bagaimana dengan hal lain!" Entah pikiran licik apa yang ada di kepalanya.


"Kalau begitu coba minta hal lain," tantang Chris.


"Aku ingin tinggal di apartemenku sendiri!"


"Cleire ...!"


"See? Kau tak bisa, kan."

__ADS_1


"Sudahlah! Memang sejak dulu tidak ada yang peduli padaku." Wajah gadis itu berubah sedih, kemudian melepas kaitannya dan berdiri.


"Kau bicara apa?" Chris memijat pangkal hidungnya pusing. Ada saja tingkah gadis ini.


Sebuah ketukan pintu kemudian terdengar. Wanita yang menjadi sekretaris Chris mengatakan jika rapat untuk proyek di Sevilla tinggal lima menit lagi. Chris dibuat bingung dengan keadaan.


"Duduklah. Tunggu aku kembali," perintahnya pada Cleire.


"Ya pergilah! Pekerjaan memang lebih penting," sahutan ketus itu membuat Chris menghentikan langkahnya.


"Berhenti bicara omong kosong. Kita bicara nanti." Cup. Satu kecupan ia berikan pada gadis yang masih cemberut.


Setelah kepergian Chris, Cleire menghentak-hentakkan kakinya kesal. Rencana membuat Chris iba gagal total akibat rapat sialan itu.


Daripada dimakan kesal berada disini, ia lebih memilih pergi untuk menenangkan pikiran. Menyesal ia datang jika endingnya seperti ini. Cleire juga merutuki dirinya karena tiba-tiba berkeinginan bertemu pria itu.


Saat lift menuju lantai dasar terbuka, ternyata sudah terjadi sedikit kebisingan. Banyak para karyawan yang berbisik-bisik setelah melihat kedatangan seorang wanita rupawan bersama ayahnya.


Rambut panjang blonde dan tampilan yang anggun, memang seperti gadis terpandang yang diminati banyak penjilat.


Cleire gadis dengan yang memilik keingintahuan besar tentu tak sungkan-sungkan untuk mendengar. Tak lama ia menutup mulutnya yang menganga terkejut akibat telinganya yang menguping itu.


Ia menelisik wanita yang tersenyum elegan itu sekali lagi. Tampak sekali ada banyak sandiwara di wajahnya. Cih! Cleire tak bisa tidak mencibir.


Pantas saja keberadaannya di dekat Chris menjadi bahan gunjingan satu perusahaan. Mereka pasti mengira Cleire adalah gadis perusak yang sengaja menggoda Chris.


Kau berani mendekatiku disaat sudah memiliki tunangan. Awas saja!


**


Brakk ...


Suara bantingan tas membuat dua orang disana tersentak bahkan salah satunya sudah tersedak. Cleire tidak peduli hal itu. Ia duduk tanpa diminta dan menarik asal salah satu hidangan yang masih utuh, kemudian memakannya tanpa pikir panjang.


Dua orang itu melongo menatapnya. Kesurupan apa lagi gadis ini?


"Air!" Seno langsung bergerak cepat memberikan gadis itu segelas jus di atas meja. Cleire tidak langsung meminumnya, ia menatap sang pemberi lebih dulu.


"Belum ku sentuh." Seno menggeleng dan langsung diminum oleh Cleire.

__ADS_1


Setelah beberapa saat. "Sudah selesai?" tanya Clark. "Sudah," jawabnya.


"Tahu darimana kami disini?" Seno mulai melontarkan pertanyaan.


Cleire mengkerut. "Aku hanya kebetulan melihat kalian." Setelah pergi dari perusahaan, ia mampir untuk mengisi perutnya di salah satu restoran terdekat, tapi siapa sangka bertemu mereka.


"Wah ... keberuntungan apa yang kau dapat. Langsung duduk tanpa memesan, enak sekali hidupmu ya."


"Itu bagus, kan?"


"Bagus?! Kau tahu aku sudah menunggu sangat lama untuk semua hidangan ini, tapi kau ... ah sudahlah. Percuma saja bicara denganmu."


"Daripada kau mengomel tidak jelas dan membuatmu semakin keriput di usia 29 tahun. Lebih baik pesan lagi makanan agar aku bisa meluapkan emosiku."


"Whatt! Kau belum kenyang?!" Wanita seperti apa sih yang ditemukan Chris. "Dan apa tadi? Keriput! Kau bahkan mengatakan aku begitu. Tidak bisa dibiarkan." Harga dirinya sudah sering jatuh di hadapan manusia ini.


"Sudahlah, lebih baik turuti dia. Kau lihat wajahnya itu, sepertinya dia punya masalah," kata Clark melihat wajah tak bersemangat Cleire yang kini menatap jendela luar.


"Jika bukan wanita sudah ku lempar dia keluar." Seno kembali duduk di tempatnya dan memanggil pelayan.


"Kau kenapa?" Clark mengabaikan Seno.


"Katakan dengan jujur. Apa Chris sudah bertunangan?"


"Ya."


"Tidak."


Dua jawaban berbeda keluar. Clark menendang kaki Seno di bawah meja karena berkata iya.


"Apa sih kau. Memang benar, kan! Dia sudah bertunangan dengan wanita pilihan Kara. Sudah sangat la–" Perkataan nya terhenti kala melihat Clark melotot kesal.


Ia kemudian baru menyadari situasi. Ia pelan-pelan mengalihkan pandangan pada Cleire. Wajah gadis itu sudah memerah marah. Habislah ... jika Chris tahu, maka tamat riwayatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Komen dan Like nya Say biar rajin Up😛...


...Jangan lupa bagi hadiah dan Vote nya juga....

__ADS_1


__ADS_2