That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Cinta Itu Sungguh Ada (Diantara Kita)


__ADS_3

Beberapa bulan telah terlewat, Chris akhirnya memutuskan datang ke mansion Melden sebagai kekasih Cleire. Keluarga Melden seperti biasa menerima kedatangan Chris yang memang bukan pertama kalinya. Mengingat ia adalah sahabat Ardrich, tidak heran jika sering berkunjung.


Kedatangannya sebagai kekasih itu mengundang keterkejutan pada beberapa orang, terutama Markus yang tidak tahu harus berkata apa. Putri kecilnya sudah baik-baik saja? Bukankah Cleire begitu menentang hubungan antar pasangan?


Namun, diluar itu, Markus ikut bahagia. Rasa bersalahku pada Cleire sedikit terobati. Bisa dikatakan hubungannya dengan Cleire tidak begitu dekat. Putrinya itu terlihat menjaga jarak walau tidak kentara. Cleire sebenarnya belum bisa melupakan kesalahannya begitu saja.


Ia beralih menatap kedua anak kembarnya, Cedric dan Casey. Ada rasa bersalah yang sama pada kedua anak itu. Setidaknya ia tenang karena Elle sudah memaafkan serta menerima kedua anaknya dengan wanita itu. Ia sudah bertekad tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


"Bagaimana dengan keluargamu?" tanya Markus pada Chris yang menempel pada Cleire.


"Jangan khawatir. Mereka tidak ikut campur dengan keinginanku," jawabnya.


"Seharusnya memang begitu," celetuk Elle jengah. Ia teringat kejadian bulan lalu dimana Kara mendatanginya, lalu dengan bodohnya memohon dan meminta maaf karena Chris merebut kekasih Ardrich.


"Dia putriku bodoh!"


"Apa!" Kara langsung berdiri dari tempatnya, terkejut.


"Dia anak perempuanku yang suka berpergian itu," jelas Elle lagi.


"Tapi kau bilang dia ... asisten mu." Kara tergagap tidak percaya.


"Karena kau banyak bertanya! Sudahlah, biarkan saja mereka. Kita tidak perlu ikut campur."


Tanpa aba-aba, Kara tiba-tiba berteriak kegirangan seraya memeluk Elle dengan bahagia, membuat Elle begitu terkejut. Kara tidak perlu merasa bersalah atau serba salah lagi jika kebenarannya memang seperti ini.

__ADS_1


Lebih bahagia lagi jika itu putri Elle yang selama ini ingin ia lihat dan jodohkan pada Chris. Namun, karena gadis itu tidak bisa diam di satu tempat, Kara hanya bisa menelan kepahitan.


Melihat Cleire hanya diam saja tanpa membantah membuat Markus percaya jika pernyataan Chris memang benar. Ia menghela nafas, lalu mengangguk. Ia takkan mencoba ikut campur tentang masalah percintaan mereka asal Chris mau berjanji untuk tidak menyakiti Cleire.


"Itu artinya, pembalut yang saat itu kau beli memang untuk Cleire?" Pertanyaan itu sukses membuat banyak mata membulat tidak percaya.


"Yes," jawab Chris santai. Tawa Markus, Elle, serta Casey langsung pecah.


Ardrich tanpa sadar memerah malu. Malu karena sahabatnya benar-benar sudah menjadi budak cintanya Cleire. Dimana image mu sebagai pria, heh!


"Shit! Memalukan," umpat Ardrich.


Sedangkan Cedric sendiri ingin menenggelamkan dirinya saat ini juga. Pasalnya, ia juga sering menjadi korban Cleire termasuk membeli pembalut jika dalam keadaan darurat. Ia hanya berharap Cleire tidak mengatakannya hingga membuat dirinya malu.


"Tidak usah sok polos, aku tahu daddy sering melakukannya pada mommy dulu. Kau juga Ar, memangnya siapa yang memenuhi lemariku dengan pembalut agar bisa selamat!" gerutu Cleire, membuat dua pria itu tidak berkutik. Cedric terus memejamkan matanya takut, terus berdoa agar Cleire tidak ikut melibatkannya.


"Untuk apa malu, toh kita melakukannya untuk orang yang kita cintai," celetuk Chris santai. Ucapan itu membuat Casey takjub dan langsung bertepuk tangan heboh.


"Benar! Itu luar biasa," kata Casey gembira.


"Sudahlah, untuk apa membahas hal seperti ini. Kalian semua kembalilah ke kamar, bersihkan diri kalian," perintah Elle tegas.


Cleire, Ardrich, Cedric maupun Casey hanya mampu menurut. Jangan coba-coba melawan wanita itu. Ingat, ia Ratu di rumah ini! Elle ikut pergi setelah melihat anak-anaknya pergi.


Tinggalkan dua orang yang diliputi keheningan. Markus yang tidak banyak bicara akhirnya membuka suara kembali. " Aku pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal hingga anak-anakku membenciku. Aku–"

__ADS_1


"Berselingkuh," sambung Chris, memotong ucapan Markus.


Pria paruh baya itu tersenyum lirih, tidak terkejut dengan ucapannya. Chris seharusnya memang sudah tahu mengenai putrinya jika cinta itu sungguh ada.


"Aku juga tahu jika Casey dan Cedric merupakan anak kembarmu dengan wanita itu," ungkap Chris tanpa beban.


Markus hanya bisa diam menatap Chris. Berapa banyak rahasia yang diketahuinya?


"Aku tidak ingin melakukan kesalahan sepertimu, Markus. Aku takkan mengecewakan Cleire."


Markus bisa melihat keseriusan di mata Chris. Pria itu tidak main-main. "Aku tidak meragukanmu, Chris. Tapi, jika suatu hari kau bosan atau tidak mencintainya lagi, jangan sakiti dia, kembalikan saja pada kami."


Rasa sayangnya sebagai ayah tidak ada bandingannya. Cleire dan semua anaknya adalah sama. Cukup sekali saja ia melihat Cleire menangis karena dirinya.


"Itu takkan terjadi," jawab Chris yakin.


Disisi lain, Cleire mampu mendengar semuanya. Ia berdiri menyandar pada tembok saat tanpa sengaja mendengar Markus mulai bicara serius. Dua kali! Dua kali ayahnya berbohong padanya, menyakiti hati seorang anak yang menjadikan ayah sebagai panutan dan cinta pertama.


"Cleire ..." Suara Elle menyentak lamunan Cleire. Gadis itu terkejut melihat ibunya ternyata sudah berdiri sejak tadi mengawasinya.


"Mom–"


"Aku ingin bicara. Bersihkan dirimu, aku menunggu di kamar," ucap Elle singkat, meninggalkan Cleire yang terheran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2