
^^^
...^^^
...----------------...
Fitness/Gym Gold's
Bug bug bug!
Suara pukulan beruntun menggema memenuhi ruangan. Seorang gadis terlihat memukul samsak dengan tangan lentiknya sekuat tenaga. Peluh beberapa kali menetes dari pelipis hingga rahangnya.
Sesaat ia berhenti, mengatur nafasnya yang terengah-engah. Pikirannya kembali menerawang. Tergiang - giang di kepalanya perkataan pria paruh baya yang sejak tadi mengganggu dirinya.
"Belajarlah memahami situasi dan dirimu sendiri. Jangan termakan dengan pandangan pribadi yang membuat dirimu sendiri tersesat. Jika kau bingung, maka dengarkan penjelasan orang-orang di sekitarmu."
"Apa aku sungguh tersesat?"
bug!
"Apa mataku salah?"
bug!
"Apa yang harus kupahami? Akhhh ..." Cleire terus bergumam hingga berteriak.
bug bug bug! Kembali memukul samsak beruntun.
Cinta membuat orang gila! Apa itu cinta? Katakan padaku apa itu cinta!
Dulu ia tak seperti ini, hidupnya tenang. Meski masa lalu terkadang menghantui, ia bisa melupakan dengan cepat. Ia tak peduli. Tinggalkan apa yang membuatmu sedih dan tertekan.
Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan?
**
"Maafkan aku." Dua kata penyesalan keluar dari mulut seorang pria.
"Kenapa baru sekarang?" Suara wanita bernada lirih terdengar sangat menyakitkan di telinga gadis kecil yang mengintip di balik dinding.
"Aku– maaf."
"Aku kecewa padamu, Markus."
Hubungan keduanya sudah terjalin bertahun-tahun. Dari masih sepasang kekasih hingga menikah dan me
__ADS_1
"Ini kesalahanku."
Elleona menarik nafasnya sesak. Mengetahui anak yang selama ini ia besarkan ternyata adalah anak hasil perselingkuhan suaminya? Padahal kala itu, Markus mengatakan jika ia mendapatkannya di jalanan, terlantar.
"Mereka tidak berdosa, Elle. Aku tak ingin melibatkan mereka."
Tapi kau melukai perasaanku, batin Elle sesak.
"Elle–"
"Dimana ibunya?"
"Meninggal saat melahirkan." Menunduk.
Elle mengangguk, berusaha tegar dengan keadaan yang menimpa rumah tangganya. Meski kedua anak itu bukanlah anak kandungnya, tak bisa dipungkiri jika ia terlanjur menyayangi mereka.
"Beri aku waktu," putus Elle akhirnya.
Markus segera mendongak, menatap manik mata sendu itu. Percayalah, ia tak pernah berniat untuk mengkhianati Elle. Entah setan apa yang merasuki dirinya hingga berbuat hal tercela seperti ini. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Hanya menerima satu-satunya jalan.
Saat Elle berbalik untuk pergi, keduanya dikejutkan dengan sosok gadis kecil yang memandang mereka tanpa ekspresi. Cleire yang masih berusia tujuh tahun harus menyaksikan pengkhianatan ayahnya sendiri.
"Cleire ...."
"Aku ingin tinggal bersama Granny," datarnya, lalu berbalik pergi.
Dulu kalian begitu mengagung-agungkan cinta, lalu dimana cinta itu sekarang?
**
"Disini rupanya gadis nakal?"
Oh God! Tidak bisa ya lepas sebentar saja?
"Berpura-pura tuli?"
Chris! Pria yang berhasil menganggu pikirannya mengenai hal bodoh yang dinamakan cinta!
"Bagus sekali. Setelah kabur, malah pergi ke tempat seperti ini? Kau memang berani." Datar penuh ancaman.
"Hell! Untuk apa takut pergi kemari? Ini hanya tempat olahraga umum. Apa yang perlu ditakuti?" ketus Cleire tanpa sadar.
Mungkin gadis itu tidak menyadari jika dirinya sejak tadi sudah menjadi pusat lirikan mata para pria. Seorang gadis yang mengenakan tanktop serta legging hitam membuatnya begitu menggoda. Belum lagi hanya sendirian?
"Tidak takut, heh? Sekarang pulang!" geram Chris, lalu menggendong Cleire dimana gadis itu langsung memekik.
"Kau mau menculikku lagi ya!" Memberontak dari gondongannya.
__ADS_1
Chris terkekeh. "Jadi kau ingin diculik? Baiklah." Mencuri satu ciuman di bibir.
"Hei!"
"What?" Betah sekali tampang datar itu.
"Turunkan aku, Chris!" desis Cleire kesal.
"Kau sudah melakukan kesalahan. Tidak mau mengaku?"
"Mengaku apa– aw!" Chris tiba-tiba memberi gigitan kecil pada bahu terbuka Cleire.
"Kau ya! Ingin jadi vampire?
Gigit saja terus!
Buk!
Chris menghempaskan Cleire ke kursi belakang, lalu menyusul duduk disana juga. Daniel di kursi kemudi hanya menghela nafas. Sekarang tugasnya sudah berganti mengawasi gadis yang akan menjadi calon nyonya mudanya.
Ada-ada saja pria itu, terlalu memaksa kehendak seseorang. Cleire jelas menunjukkan penolakan, lalu mengapa masih mengejar-ngejar seperti orang gila?
Mungkin kau bisa jadi yang selanjutnya Daniel ಥ‿ಥ.
"Mulutmu suka sekali mengoceh, hm." Chris menyudutkan gadis itu, mendekatkan wajahnya hingga hidung keduanya bersentuhan.
"Chris, menyingkir!" desis Cleire. Ada desiran aneh merangsang dirinya.
"Why?" Semakin merapatkan tubuhnya. Cleire bisa merasakan deru nafas hangat Chris di sekitar ceruk dan telinganya.
"Chris! Menyingkir atau– "
"Atau?" tanya Chris lagi, mulai menyapu pipi hingga sudut bibir Cleire dengan bibirnya.
"Atau aku– hmph!" Dilahap kasar bibir ceri itu sebelum kalimat lain sempat keluar.
Daniel menulikan telinga, mengabaikan suara decapan di kursi belakang. Melihat keduanya tak kunjung selesai, Daniel akhirnya menekan tombol pembatas antara jok depan dan belakang.
Persetan dengan mereka!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Maaf ya. Aku sibuk kerja, jadi update mau tidak mau terganggu....
...Aku ngetik jika memang senggang, sambillah maksudnya. Jadi klo pendek atau lama, ampuni daku. Tapi ini lumayan panjang kok....
...😚...
__ADS_1