
Clara kembali keluar setelah mengantar segelas jus untuk Cleire. Clara berusaha agar terlihat biasa saja ketika melihat interaksi keduanya. Saat keluar, ia duduk kembali di kursinya yang menghadap langsung ke ruangan CEO.
Wanita itu berusaha memfokuskan pikirannya pada pekerjaan, tetapi matanya selalu melirik ke arah pintu. Ia mengatur nafasnya, mengatakan pada dirinya sendiri agar tidak peduli. Ia memutuskan untuk tidak menjaga jarak dengan pria itu agar perasaannya tetap terjaga. Clara sadar jika mereka sangat berbeda.
"Apa yang kau lamunkan?" Clara kembali pada kesadarannya saat seseorang menegur dirinya. Ia lantas berdiri saat melihat orang itu adalah Elle.
"Selamat pagi, Mrs. Melden." Kening Elle mengkerut. Wanita di depannya ini terlihat banyak pikiran. Ia kurang menyukai wanita yang tidak kompeten atau tidak bisa memilah masalahnya.
Clara yang di perhatikan seperti itu pun merasa kurang nyaman. Elle adalah wanita berkarisma tinggi dan sangat di segani oleh orang-orang. Sikapnya juga cukup dingin dan sedikit bicara sehingga orang lain enggan menyinggung nya. Bisa dilihat jika Ardrich menuruni sifat ibunya.
"Usahakan jangan mencampur urusan pribadi dan pekerjaan saat bekerja," kata Elle. Wanita paruh baya itu menuju ruangan Ardrich tanpa mendengar jawaban Clara.
Hal ini semakin meyakinkan Clara agar tidak lagi merespon Ardrich. Bagaimana jika Elle tahu? Elle pasti tidak akan menyetujui hubungan mereka. Tak berapa lama ia tertegun. Elle berdiri diam di ambang pintu dengan pintu sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua orang di dalam dengan posisi yang ambigu.
Ardrich dengan posisi menindih Cleire di atas sofa cukup membuat dada Clara seperti teriris. Ia memalingkan wajahnya segera. Ia melihat reaksi Elle yang biasa saja, seperti terbiasa. Hubungan mereka pasti sudah sangat dekat. Mungkin dirinya hanya akan menjadi orang ketiga.
"Apa tidak bisa sedikit lebih dewasa?" ujar Elle setelah menutup pintu. Ruangan kedap suara sehingga orang lain tak dapat mendengar dari luar.
"Momm! Bajing*n ini ingin membunuhku!" pekik Cleire dibawah Ar. Tangannya memukul-mukul punggung kekar sang kakak yang menindihnya hingga sesak nafas.
"Lihat, lihat? Mulutnya sangat menyebalkan! Sifatmu ini mengikuti siapa sebenarnya."
"Aku akan mati!" pekik Cleire semakin menjadi.
Elle menghela nafas kasar melihat tingkah kekanakan putra putrinya. Semua anaknya kenapa sulit sekali berdamai. Bertengkar dan adu mulut sudah seperti asupan sehari-hari.
"Ar, lepaskan adikmu," tegur Elle sembari duduk di sofa dengan menyesap jus milik Cleire di atas meja.
"Aku selalu kehilangan wibawa jika bertemu dia."
"Hidupmu akan datar saja tanpa diriku. Bersyukurlah aku ada sehingga hidupmu sedikit berwarna."
"Berwarna matamu!" Namun ucapan Cleire ada benarnya juga. Hanya gadis ini yang bisa mengubah suasana dengan cepat.
"Casey bilang kau bertengkar," ucap Elle tiba-tiba. Ardrich langsung menatap Cleire yang masih memperbaiki rambutnya.
"Jawab!" Ardrich menarik tangan Cleire.
"Aku tidak, hanya wanita itu. Aku sudah sebisa mungkin untuk tidak membuat masalah," jawab Cleire dengan wajah meyakinkan. Lupakan jika ia sudah membuat orang pingsan.
"Aku tidak yakin. Mustahil jika kau tidak membalas." Ardrich memincing, membuat Elle ikut berpikir.
"Siapa?" tanya Elle kemudian.
"Tunangan Chris."
"Mantan!" koreksi Elle dan Ar bersamaan.
__ADS_1
Cleire berdecak, "Sama saja."
"Beda!"
"Terserah!"
"Tumben sekali Mom kemari. Mencari selingkuhan ya?" Bukk. Lemparan bantal mengenai kepala Cleire. "Asal saja!" Ck. Kenapa Cleire berbeda dari yang lain.
"Aku mendengar gosip yang menganggu telinga saat masuk. Apa yang kau sembunyikan?" Elle menatap Ardrich.
Cleire mengambil ponselnya, berpura-pura tidak mendengar. Jangan libatkan ia dalam masalah, ok.
"Ar ..." panggil Elle saat melihat Ardrich hanya diam.
"Jangan pikir aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak suka anakku bermain rahasia padaku." Kali ini pandangan nya beralih ke Cleire yang berpura-pura sibuk.
"Aku tidak ikut campur." Cleire menggeleng.
"Mom, aku tahu apa yang ku lakukan. Kami sudah dewasa. Apapun pilihanku, aku juga yang akan menjalani." Ardrich bicara.
Ardrich yakin jika ibunya sudah mengetahui perihal Clara. Tujuannya datang adalah untuk menilai sendiri wanita itu. Elle bahkan sudah siap dengan berbagai pertanyaan yang mungkin akan menyulitkan Clara. Tapi melihat keberadaan Cleire mengurungkan niat Elle untuk melakukannya.
-
-
-
"Wanita itu pernah memiliki rumor buruk saat kuliah. Aku hanya ingin memastikan jika dia wanita baik-baik," ucap Elle dan didengar oleh Cleire.
"Aku tahu. Ini pertama kalinya Ar terlihat serius, jadi khawatir pria br*ngsek itu salah memilih. Tapi justru aku takut dia tidak serius." Cleire mengecilkan suaranya di kalimat terakhir.
"Itu sebabnya aku ingin memastikan. Jika wanita itu bukan wanita baik, apa peduliku jika Ardrich mempermainkannya. Tapi jika baik-baik, sayang sekali bertemu Ar. Pria itu tidak ada baiknya."
Cleire mencibir dalam hati. Hanya Elle yang menganggap anaknya sendiri buruk. Ibu lain pasti ingin anaknya mendapat yang terbaik terlepas bagaimanapun kondisi anak mereka. Kara saja ingin yang terbaik padahal putranya adalah bajing*an wanita.
Mengingat bajing*n, ia jadi terpikir Chris. Sudah seharian tidak ada kabar. Sekedar pesan pun tidak ada. Ia sekali lagi mengecek ponselnya. Tidak ada! Jangan-jangan Chris sungguh bersenang-senang dengan wanita Spanyol
"Kenapa? Chris tidak memberi kabar?" Elle menyadari wajah terkekuk Cleire. Emosinya gadis ini sangat mudah sekali dibaca.
Cleire mendelik sinis. "Persetan dengannya."
"Cih! Masih jual mahal. Pria mana yang akan tahan dengan sikapmu."
"Tentu saja ada."
"Siapa?"
__ADS_1
"Chris."
"Iya. Dia bodoh karena tertarik padamu."
"Momm!!"
**
Setelah seharian berdiam diri di kamar, Cleire kebosanan. Ia semakin sadar jika pengaruh Chris sangat besar dalam hidupnya. Ia sudah terlanjur terbiasa dengan kehadiran pria yang begitu posesif itu.
Saat matanya hampir kembali terpejam, dering ponsel langsung terdengar. Cleire dengan malas mengambil ponselnya di atas nakas. Akhirnya, setelah seharian menghilang, pria itu muncul juga!
"Apa?!" Wajah tak ramah langsung tercetak jelas di layar ponsel. Panggilan video dari Chris yang sudah merindukan gadisnya.
Terdengar kekehan sebagai balasan. Jadwalnya benar-benar padat. Ia bahkan belum sempat memberi kabar.
"Padahal aku sudah berharap akan mendengar kata rindu." Chris berpura-pura sedih.
"Mimpi!"
"Aku bahkan belum tidur, Sayang. Belum bermimpi sama sekali."
"Aku merindukanmu. Kau harus melayaniku dengan baik saat aku pulang ya."
"Tidak usah pulang! Kau pasti sangat bahagia disana, kan?" Cleire memberenggut.
"Kebahagiaanku ada di LA, tidak ada disini." Chris bersikap seolah mencari sesuatu. "Ah! ini dia. Sedang cemberut di dalam sini." Pria itu mendekatkan wajahnya di layar, Cleire menahan senyumnya.
"Lihat, Bebe. Ada banyak orang diluar." Chris mengarahkan kameranya ke luar jendela hotel dimana banyak orang yang bersenang-senang. "Tapi aku lebih suka berdiam diri disini sambil menatapmu."
Shitt! Bermulut manis. Mungkin pipi Cleire sudah semerah tomat sekarang.
"Jika kau membawaku. Kau tidak perlu merindukanku, kan?" Chris langsung menggeleng.
"Aku akan membawamu saat kita bulan madu," ujarnya santai tanpa beban.
Pikirannya memang tidak jauh dari hal mesum!
"Kalau begitu merindu saja sendiri karena aku tidak merindukanmu!" ketus Cleire.
"Tapi wajahmu berkata lain." Chris menelisik.
"Kenapa dengan wajahku?"
"Cantik!"
Sialan Chris! Godaan seperti ini seharusnya tidak mempan untuknya. Tapi setiap kata yang keluar dari mulut Chris mampu membuatnya memerah malu.
__ADS_1
"Aku akan pulang besok. Jadi kutunggu pelayanan darimu, Mrs. Nelson." Chris mengakhiri panggilannya. Cleire langsung melempar ponselnya asal dan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...