
Chris duduk menyandar di bawah sofa, memperhatikan lekat gadis cantik yang tertidur disana. Tangannya senantiasa mengelus kepala Cleire. Sesekali ia mengelus wajah polos yang sangat damai dengan tidurnya itu.
"Dulu kita sama, Cleire. Tidak percaya pada cinta. Tidak sampai takdir mempertemukan kita. Meski begitu, aku tak pernah menutup hatiku. Jika kau begitu, mungkin kau bisa mencintaiku juga," gumam Chris.
Cleire seolah tidak terusik. Gadis itu tetap pada mimpi indahnya.
Tok tok
"Masuk." Chris menyahut tanpa mengubah posisi. Pandangan matanya tidak beralih, seolah hanya mereka berdua disana.
Daniel tahu jika Chris sudah jatuh dalam pesona Cleire tanpa syarat. Satu-satunya wanita yang membuat seorang Chris rela bertekuk lutut dihapannya.
"Tuan ..."
"Hm." Pria itu belum mengalihkan pandangannya.
"Tuan ada rapat lima menit lagi." Daniel menunduk, seakan tahu reaksi Chris selanjutnya.
Benar saja, pria itu langsung menyorot dirinya tajam. Tidak suka jika waktu dengan gadisnya terganggu.
"Saya sudah memberitahu anda sebelumnya, Tuan," katanya cepat sebelum Chris membuka mulut.
Bukan salahnya, oke? Dia memang sudah memberitahu sejak awal! Berjaga-jaga jika tuannya hendak protes.
"Kau–"
"Maaf, Tuan." Menunduk cepat.
Chris menghela nafas kasar seraya mendengus. Pria itu bangkit dengan terpaksa setelah memberi ciuman di kening sang pujaan, lalu berjalan melewati Daniel menuju ruang rapat.
"Jaga dia, jangan biarkan orang lain masuk," perintah Chris pada Sekretaris yang berjaga diluar.
"Ba– baik, Tuan."
Siapa wanita itu?
Semua orang di kantor tahu siapa Chris. Sudah termasuk beruntung walau hanya menjadi jal*ngnya. Tapi wanita itu? Chris menatapnya dengan penuh cinta, siapapun bisa melihatnya dengan jelas.
**
Cleire membuka matanya perlahan, mengerjap kala matanya terasa berat. Bangkit dari tidurnya, gadis itu bangkit perlahan. Suasana ruangan sudah berbeda tanpa kehadiran pria itu disini.
Ceklek. Menoleh.
Wanita yang diketahui sebagai Sekretaris Chris itu masuk membawa segelas jus. Dilihatnya gadis milik tuannya sudah terbangun dengan linglung. Wajah itu cukup menggemaskan untuk gadis dewasa seukuran Cleire.
Dia cantik dan manis. batin sekretaris itu.
"Dimana Chris?"
__ADS_1
"Tuan pergi rapat, Miss."
Aku iri dengan wajahnya!
Mendengar kata rapat, wajah linglung itu seketika berubah menjadi binar kebahagiaan. Ia refleks berdiri hingga sekretaris itu terkejut.
"Sejak kapan?" Mendekati sekretaris seraya tersenyum lebar.
"Ba– baru saja, Miss."
"Good!" sentaknya, membuat wanita di depannya lagi-lagi terkejut.
Ada apa dengannya?
Cleire bergerak cepat mengambil tasnya, lalu berlari keluar menuju pintu. Namun, tak lama ia kembali lagi untuk mengambil jus dan menegak habis isinya.
"Thanks!" Menepuk-nepuk bahu sekretaris itu, kemudian benar-benar pergi.
Sekretaris itu tercengang menatap Cleire yang sudah menghilang. Memang setiap orang memiliki kekurangan masing-masing, contohnya seperti gadis cantik yang ternyata aneh dan sedikit ....
Sebenarnya dia siapa?
Cleire berlari seperti gadis yang ketahuan mencuri, tidak menyadari jika semua orang sudah menatap aneh dirinya. Bagi gadis ini, selama bisa lepas dari jeratan pria mesum, malu pun tidak apa-apa.
Aku bebas! Melihat gedung besar di belakangnya.
"Tunggu! Bagaimana aku pulang?" Ia kan tidak bawa mobil.
"Hehe ... berguna juga kau disini." Menekan salah satu nomor.
.......
...--- o0o ---...
.......
Setelah satu hari penuh dilalui Cleire dengan banyak drama, akhirnya lepas juga ia dari jeratan tuan muda yang arogan ditambah mesum yang berkepanjangan!
"Kau tidak berubah sama sekali, sama bodohnya seperti dulu," cibir seseorang di depannya.
Cleire jelas hanya melirik malas. Mau pintar, mau bodoh, yang terpenting ia masih manusia yang bisa berpikir.
Benar tidak? Biarlah orang lain mengatakan kita bodoh karena yang lebih tahu seperti apa kita adalah diri sendiri. Bodoh bukan berarti tidak pintar!
"Bagaimana bisa kau berada disana?"
Setahunya, Cleire paling malas berurusan dengan orang lain apalagi menyangkut pekerjaan. Jadi, tidak mungkin itu klien nya, kan? Hebat sekali gadis itu jika benar-benar pergi untuk berjumpa klien.
"Aku diculik." Menompang kepala di atas meja.
__ADS_1
"Bahkan bisa diculik?" goda pria itu.
"Taylor Jared! Jangan menggodaku. Aku bisa memakanmu tahu!" Cleire cemberut, membuat pria itu langsung terbahak disana.
"Yakin ingin memakanku? Dengan senang hati, Baby," godanya semakin menjadi.
"TAYLOR! Ku laporkan Ardrich ya!" Semakin terbahak saja pria ini.
"Masih suka mengadu juga," katanya tertawa.
"TAYLOR!"
"Haha ... baiklah."
Menyebalkan!
"Astaga ... jangan cemberut seperti itu, Baby. Kemari, tunjukkan wajahmu." Merangkul bahu dan mencubit pipi Cleire dari belakang.
Cekrek
Dengan santainya Taylor mengambil foto gadis itu bersamanya, tapi gadis itu tampak biasa saja.
"Lihat. Cantik, kan? Kau cocok menjadi model."
Cleire mengangguk. "Ya, aku memang sangat cantik, tapi Ardrich akan membunuhku jika benar-benar menjadi model," katanya percaya diri.
"Aku juga tidak setuju sebenarnya." Ikut mengangguk-angguk setuju.
"Karena kau takut aku tidak menganggapmu lagi, kan? Jika aku terkenal, aku takkan mau lagi menjadi temanmu," ujar Cleire seraya mengibas rambutnya sombong.
Anak ini! Taylor menatap gemas gadis itu.
"Aku pemilik perusahaan tambang emas yang menjadi incaran wanita! Dilupakan satu gadis sepertimu bukan masalah." Menepuk dadanya bangga.
"Ck! Incaran wanita. Buktinya kau terus menempel padaku." Cleire mencibir.
"Bukan menempel, aku mengikuti jejakmu!"
"Wah ... aku memang pantas menjadi teladan ya."
Percakapan keduanya jelas sedikit tidak normal dari percakapan yang biasa terdengar. Tapi, begitulah mereka, nyaman dengan cara masing-masing. Tidak ada masalah meski berbeda pendapat.
Di satu sisi, seseorang memutar matanya jengah. Keduanya merupakan sahabat gila, dimana yang satu terlalu sombong dan percaya diri dan yang satu mengikuti dengan sukarela, lalu akhirnya tertular kegilaannya.
Sahabat gila!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Lama ya? Emang😂...
__ADS_1
...Aku pengen libur nulis dulu setelah menamatkan TPC sampai tuntas, makanya baru Up....