That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Realistis Bukan Materialistis


__ADS_3

Setelah kepergian dua pria itu, tinggallah Cleire dan Kara yang dilanda keheningan. Cleire merasa sudah kawin lari saja dengan Chris dan sedang di interogasi oleh mertuanya. Belum lagi sikap Kara seperti tidak menyukainya.


"Apa yang kau inginkan? Uang, jabatan, atau harta?" tanya Kara bersedekap.


Sahabatmu sangat berbeda seperti yang kau ceritakan, mom! jerit Cleire dalam hati.


Kara sepertinya memandang dirinya seperti wanita lainnya. Memandang harta dan kekayaan. But, sorry ... i'm different!


"Wanita itu realistis, Mrs–"


"Kara!" potong Kara tiba-tiba.


"Baiklah, Kara. Wanita itu realistis. Contohnya, dalam sebuah hubungan membutuhkan uang adalah sebuah realitas yang tidak bisa ditolak." Kara mengerjit.


"Jadi kau membutuhkan uang?"


"Siapa saja membutuhkan uang, tapi bukan berarti aku materialistis!"


"Cih! Apa bedanya." Kara tersenyum remeh.


"Materialistis itu tentang pilihan, tapi menjadi realistis itu adalah sebuah keharusan ...."


".... Materialistis itu menuntut, sedangkan realistis itu tentang kecukupan dan mencukupkan. Sederhananya, wanita materialistis lebih menuntut, tetapi wanita realistis lebih ke mencari cukup."


Tidak tahu mengapa ia harus susah-susah memberi penjelasan, tapi harga dirinya sebagai wanita realistis yang membutuhkan uang sedikit tersentil. Mungkin tak masalah saat Chris mengatakannya matre karena pria terkadang tidak bisa membedakan, tapi Kara? Kami sesama wanita, oke! Seharusnya tahu maksudnya.


Kara terdiam, mungkin sedang berpikir. "Berapa kali?" tanyanya yang lain lagi.


"Berapa kali kalian tidur bersama?" Cleire membola. Bukankah itu cukup vulgar? Tapi Kara sangat biasa saja?


"Sorry, but i'm still virgin."


"Mustahil!" jawabnya cepat, menatap Cleire tidak percaya.


Apanya yang mustahil? Kau belum pernah bertemu yang masih segel, kan? Anakmu saja sudah tidak perjaka, hehe.


"Gadis seperti dirimu masih virgin! Apa saja yang kau lakukan diluar sana?" Masih tidak menyangka. Sangat jarang gadis seusia Cleire masih mampu menjaga diri. Anak remaja dibawah 17 tahun saja kebanyakan sudah tidak terjaga!


"Bekerja." Seperlunya, batinnya melanjutkan.


.......


.......


...--- o0o ---...

__ADS_1


.......


.......


Cleire sedang makan siang kala itu, sampai Elle yang baru pulang dari butik miliknya masuk tiba-tiba tanpa mengetuk pintu kamarnya.


"Makan yang benar!" Memukul kaki Cleire yang diposisikan di atas meja, membuat gadis itu tersentak kaget.


"Apa sih, Mom! Bikin kaget saja!" Menurunkan kakinya, kemudian melanjutkan makan siangnya.


Elle duduk di sampingnya, menatap putrinya itu terus-menerus, membuat Cleire risih dan meletakkan sendoknya hingga berbunyi. "Apa, Mom, apa?" Membalas tatapan ibunya.


"Tidak apa-apa, lanjutkan makanmu!" Elle meraih kembali sendok Cleire dan memberikannya pada gadis itu.


"Tidak jelas!" sarkasnya, melanjutkan makan.


"Punya hubungan apa kau dengan putra Kara?"


Uhuk ... uhuk. Cleire memukul dadanya, tersedak. Dasar orang tua tidak tahu kondisi! Elle dengan cepat mengambilkan air di atas meja, lalu membiarkan Cleire meneguknya hingga tandas.


"Apa tidak bisa pelan-pelan?!" seru Elle, membuat Cleire mendelik kesal.


"Memangnya siapa yang bertanya tiba-tiba?" jawab Cleire ketus.


"Dari mana Mom tahu?"


Pertanyaan macam apa itu, Cleire! Pastinya Kara yang memberitahu Elle.


"Jawab saja!"


"Tidak tahu." Cleire memalingkan wajah.


"Tidak tahu bagaimana?"


"Aku bingung." Elle mengerjit bingung mendengarnya.


Cleire tiba-tiba teringat ucapan Kara yang mengatakannya hanya seorang asisten. Ia menatap ibunya. "Lagipula Kara tak menyukaiku. Aku hanya seorang asisten, tak sebanding dengan putra bilionaire nya itu," cibir gadis itu menyinggung sang ibu.


Elle jadi mengusap tengkuknya canggung. Kara percaya saja dengan mulutnya yang asal bicara. Diraihnya tangan putrinya seraya tersenyum, membuat Cleire jengah melihatnya.


"Aku hanya asal bicara saja, Cleire. Kara yang bodoh karena percaya. Lagipula dia tidak seperti itu. Jika memandang status, sudah dari dulu dia menjodohkan putranya dengan anak rekan bisnisnya."


Elle berbicara kenyataan. Kara bukan wanita yang seperti itu. Meski status terkadang penting, tapi wanita rendah namun berakhlak jauh lebih baik. Kara pasti sudah memperhitungkan segalanya.


"Lalu mengapa dia bersikap seolah tak menyukaiku?"

__ADS_1


"Mungkin kau pernah meninggalkan kesan buruk padanya," tebaknya. "Aku saja baru bertemu kemarin! Ada-ada saja sih Mom," jawab Cleire kesal.


"Kemarin bagaimana! Kalian sudah bertemu di butik, kan?"


Apa sebenarnya yang dipikirkan putrinya ini! Cepat sekali menjadi pelupa.


Cleire menggigit sendoknya seraya berpikir. Pantas saja wajah Kara tidak asing. Ia ingat mengenai Robert yang menasehatinya tentang hati kala itu, tapi Kara? Maaf saja, ia tidak ingat.


"Lupakan saja, sekarang jelaskan padaku tentang Chris."


Menghela nafas, Cleire menatap ibunya serius. "Menurut mom aku harus apa? Aku yakin kau sudah tahu seperti apa pria itu. Dia baj*ngan tampan dan gila."


Elle jelas mengerti maksud Cleire. Chris pria dewasa yang sudah terbiasa dengan wanita di ranjangnya. Ia jadi teringat Markus yang dulu tidak jauh berbeda dengan Chris. Ada rasa takut dan ragu jika membiarkan Cleire bersamanya. Takut jika Chris akan mengkhianati Cleire seperti suaminya dulu demi nafsu sesaat.


Namun, Elle juga tahu masalah putrinya yang sangat sulit dekat dengan laki-laki karena trauma masa lalu. Ditambah kebiasaan Chris yang jelas berhubungan dengan sesuatu yang sangat dihindari Cleire.


Elle hanya berharap Chris benar-benar tulus tanpa adanya penghianatan di masa depan. Cukup ia saja yang merasakan sakitnya, putrinya jangan.


"Ikuti kata hatimu. Keputusan ada pada dirimu," jawab Elle.


-


-


-


Elle berniat pergi menemui Kara. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan dan diskusikan mengenai Cleire dan Chris. Bukan maksud ikut campur, tapi kebahagiaan anak-anaknya adalah nomor satu.


Saat akan turun, Elle tidak sengaja berpapasan dengan Casey yang akan masuk ke kamarnya. Gadis muda itu tersenyum tipis tanpa reaksi lain. Suasana sedikit canggung.


"Dimana Cedric?" Casey mengehentikan langkahnya yang hendak masuk ke kamar. "Cedric masih ada kegiatan di kampus, Mom. Mungkin akan pulang nanti malam," jawabnya.


"Pulanglah setelah selesai, jangan berkeliaran kemana-mana." Meninggalkan Casey lebih dulu.


Casey menatap kepergian Elle. Semua sudah terasa berbeda. Semua tak lagi sama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Oke Say. Jangan tanya kenapa Cleire memanggil Kara dengan nama padahal Kara jelas orang yang lebih tua, lebih tepatnya seumuran dengan Elle ya. ...


...Jadi itu memang umum untuk negara mereka ya Say. Panggilan paman, bibi, mom atau dad itu sangat jarang digunakan terutama untuk yang tidak sedarah! ...


...Mom atau Dad / Mama Papa itu hanya berlaku untuk ibu dan ayah kandung. Bahkan mertua sekalipun akan tetap dipanggil nama oleh menantunya. Adat mereka memang sepertinya itu, oke🤗 ...


...Ini hanya penjelasan yang aku tahu, lebih lengkapnya bisa buka Mbah Gugel terus cari sendiri....

__ADS_1


__ADS_2