That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Aku Ingin Menikahimu


__ADS_3

Kehebohan diluar ruangan menganggu seorang pria yang sedang berkutat serius. Ia berbuat keluar untuk melihat apa yang terjadi, tapi pintu ruangan lebih dulu terbuka kasar.


Sean langsung bergerak waspada kala melihat Ardrich sang pelaku kehebohan mendobrak paksa pintu dan masuk dengan pistol di genggamannya. Dibelakang Ar ada beberapa orang yang merupakan para sekretaris Sean mencoba mencegah, namun tidak berhasil.


Ardrich menatap Sean nyalang. Jika tatapan bisa membunuh, dipastikan pria yang menjadi targetnya itu sudah mati. Ar kehilangan akal sehat jika menyangkut adiknya. Apalagi mendengar gadis itu menangis membuat darah iblisnya mendidih.


Ia memang menyebalkan bagi Cleire, tapi tak pernah sekalipun ia membuatnya menangis!


"Wow, Dude. Apa-apaan ini?" Sean mengangkat tangannya ke atas saat Ardrich menodongkan pistol ke arahnya.


"Ucapkan permintaan terakhir."


"What?! Kau ingin membunuhku?" Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi?


"Bagus jika sudah tahu." Oh God.


"Hey, itu tidak lucu!"


"Kau pikir perbuatan mu lucu!"


Astaga, Sean benar-benar dilanda kebingungan yang jika terlambat bisa menghilangkan nyawa orang. Pria di depannya ini memang berbahaya. Tidak pernah main-main dengan nyawa orang.


"Tidak bisakah kau jelaskan apa yang terjadi? Aku tidak ingin mati lalu menjadi hantu penasaran!" Sean memundurkan langkahnya perlahan, mencoba sedikit jauh dari iblis berwajah menawan itu.


"Sepertinya aku terlalu banyak bicara. Kenapa tidak langsung saja ke neraka," desis Ardrich hampir menekan pelatuknya, bahkan orang-orang yang menyaksikan ikut menjerit.


"Tunggu– tunggu. Calm down, Ar. Coba katakan apa kesalahan ku?" Sean mencoba bernegosiasi.


Ardrich tersenyum sinis. "Kau berpura-pura lupa setelah apa yang kau lakukan pada Cleire!" bentaknya.


"Cleire? Apa yang kulakukan?" Sean berusaha keras memutar memorinya. Ah iya ... Ardrich tidak serius ingin membunuhnya kan karena menemani gadis itu minum?


"Cleire yang memaksaku menemaninya, Ar. Hanya menemani, tidak lebih," jawab Sean cepat. Ayolah, nyawanya sudah di ujung tanduk. Tidak! Tapi di ujung peluru Ardrich yang siap meluncur!


"Jadi meniduri itu tidak lebih maksudmu?!" Suara Ardrich menggelegar.


"Tidak! Aku tidak melakukannya. Aku tahu dia kekasihmu, tidak akan berani."


Damn! Siapa yang mengadukan berita bohong ini pada Ardrich. Sean mengumpat dalam hati.


"Kau mencoba menipuku!"


"Aku serius! Lagipula siapa yang mengatakan–" Ucapan Sean terhenti saat teringat dengan siapa Cleire terakhir kali.


Chris sialan!


"Chris! Pasti Chris! Dia yang membawa kekasihmu pergi. Aku pikir dia kekasih Chris. Aku lupa dia juga kekasihmu."

__ADS_1


Eh? Apa yang ia katakan. Karena takut ia jadi melantur. Memang nya Cleire punya berapa kekasih?


"Apa maksudmu?" desis Ardrich.


"Aku tidak bohong. Sore itu Chris datang membawa Cleire dalam keadaan mabuk. Bisa saja Chris yang menodainya."


Ardrich tak bergeming. Ia masih tak percaya kata-kata yang keluar dari mulut Sean. Hingga ponsel di saku nya berbunyi. Ardrich dengan tangan satunya langsung mengangkat tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Simpan pistol mu untuk hal yang lebih penting. Jangan sampai Cleire menceraikan ku bahkan sebelum pernikahan," ucap seseorang di ujung sana yang sudah bisa ditebak siapa.


"Katakan yang jelas!" teriak Ardrich mulai memahami keadaan.


"Aku yang melakukannya. Adik kesayangan mu itu salah paham," jelas Chris malas. Jika bukan Cleire yang mengancam, masa bodoh ia menjelaskan.


Sean tidak berani bergerak dari tempatnya berdiri. Takut bergerak sedikit saja Ardrich akan menembaknya. Tapi melihat pistol ditangan Ar turun, rasanya ia bisa bernafas lega. Ardrich tanpa berkata-kata langsung pergi begitu saja.


Huh ... hampir saja.


-


-


-


-


"Sudah kukatakan adikmu itu berbahaya, Ar," ucap Chris santai sembari menatap pintu kamar mandi tempat gadis itu sekarang berada.


"Sebaiknya simpan hal ini dengan baik. Kalau mom mendengarnya habis kau!"


Dasar pilih kasih! batin Max di kursi kemudi. Padahal tadi pria itu mengamuk seperti orang gila yang kehabisan obat.


"Bukankah bagus? Di Indonesia kami akan langsung dinikahkan."


"Pikirmu kau dimana bodoh! Lagipula aku tidak yakin Cleire bersedia menikahimu," cibir Ar.


Chris mengkerut. "Memangnya kenapa?" Ardrich pasti sengaja.


"Tanyakan saja padanya. Merepotkan! Waktuku terbuang sia-sia."


Salahmu sendiri, Tuan.


"Kau hanya belum tahu rasanya memiliki wanita. Saat kau jatuh cinta, keinginan untuk memiliki itu sangat besar!"


"Ck! Aku–" Ardrich tidak melanjutkan ucapannya saat pikirannya tiba-tiba menjurus kearah lain.


Perkataan Chris mengingatkannya pada seseorang. Shitt! Clara. Ia ingat sudah sangat kasar pada wanita itu. Karena terlalu marah ia selalu tidak sadar siapa yang dihadapinya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Chris saat suara Ar terputus.


"Aku akan menghabisimu saat bertemu. Karena kau kesempatan ku bisa hilang!" Tutt.


"Lebih cepat, Max!" perintah Ar setelah mematikan ponselnya secara sepihak.


Chris menatap ponselnya bingung. Ada apa dengan calon kakak iparnya itu. Heh, buang-buang waktu saja. Dilemparnya ponsel mahal itu ke sembarang arah. Kenapa gadis itu lama sekali. Ia bahkan masih sempat berdebat dengan Ardrich.


"Cleire ... kau tidak mengizinkan ku masuk?" teriaknya dari luar pintu. Apa semua wanita selalu mandi begitu lama?


"Baby, hanya sekali tidak akan mengurangi rasa sakitnya. Kau harus mencobanya berulang kali." Entah pikiran darimana Chris berucap begitu. Yang pasti otak mesum nya mulai bekerja lagi.


Sudah terlanjur melakukan ya lakukan saja terus. Jika Cleire mendengarnya pasti akan mengamuk lagi.


"Tidak masalah karena ini yang terakhir kali," sahut gadis itu. Damn! Enak saja.


"Babyy ..." rengeknya.


"Buka pintunya. Kita bicarakan baik-baik."


Baik-baik matamu!


"PERGILAH! JANGAN BUAT AKU GILA!" Chris meringis untuk kesekian kalinya. Tapi bukan Chris namanya jika jera.


"IYA. AKU JUGA MENCINTAIMU," balas Chris berteriak, lalu terkekeh.


Chris akhirnya duduk menyandar di depan pintu dengan tangan bertumpu pada kedua lutut.


"Aku ingin menikahimu," ucap Chris menyandarkan kepalanya. Di dalam Cleire tak bisa berkata-kata lagi. Nada suara pria itu begitu dalam. Cleire tak mendengar kebohongan di dalamnya.


Gadis itu membungkus dirinya dengan jubah mandi, lalu duduk di depan pintu. Tanpa mereka sadari, keduanya memiliki posisi yang sama yang hanya dibatasi pintu ditengahnya.


Cleire memeluk lututnya sembari menghela nafas pelan. "Pernikahan tidak semudah itu, Chris." Jujur ia belum siap.


"Akan mudah jika kita bersama," sergah Chris.


"Kita tidak tahu masalah apa yang akan kita hadapi nantinya," elaknya lagi.


"Bagaimana kita tahu jika belum menghadapinya." Rupanya benar. Gadis ini tidak ingin pernikahan.


"Aku takut," gumam Cleire pelan, hanya dapat didengar olehnya.


"Kau khawatir aku akan seperti Markus?"


"Kau harusnya sudah tahu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...Yuk komen yuk. Bagi jempolnya jangan pelit ya😝...


__ADS_2