
Buk buk buk!
Pukulan dari benda empuk namun bertenaga tak henti-henti dilayangkan kepada pria yang hanya bisa berlindung dengan tangannya. Pria itu melindungi wajah berserta kepalanya dari amukan singa betina yang kini menjelma sebagai macan tutul.
Cleire. Gadis itu tak menyerah menyerang pria yang menjadi penyebab timbulnya masalah. Pikirannya ingin terus memberi pelajaran pada pria br*ngsek ini.
"Bagaimana jika Ardrich benar-benar membunuh Sean!" bentak Cleire.
Buk! Satu pukulan lagi mendarat.
"Shh– itu salahmu– aw!"
"SALAHKU KAU BILANG!" Buk. Lagi. "SEKARANG KAU MENYALAHKAN KU!"
"Kau sendiri yang melapor tanpa bukti. Seharusnya tunggu aku kembali." Chris membela diri sambil terkekeh. Pukulan itu sebenarnya tidak menyakitinya, tapi membuat gadis itu kesal telah menjadi kesenangannya.
"MEMANGNYA AKU TAHU KAU DISINI?!"
Mungkin mulai sekarang Chris harus mempersiapkan telinganya. Gadis ini sekarang sangat suka berteriak. Jika bukan gadisnya, Chris pasti sudah menutupnya tanpa bisa dibuka lagi.
Tadinya ia hanya keluar sebentar mengurus pekerjaan yang ditinggalkan. Tapi begitu kembali, ia sudah mendapati Cleire menangis dengan memegang ponselnya. Begitu melihat kedatangannya, gadis itu langsung memeluk dirinya seolah menyesal.
"Maaf– aku tidak bisa menjaga diri. Aku sudah tidak polos lagi– tubuhnya sudah terbuka," katanya sesugukan.
"Cleire–"
"Tapi aku tidak sengaja. Pria brengs*k itu yang mencurinya! Kau tidak boleh menyalahkanku," potong Cleire lagi.
Chris sendiri merasa bangga dalam hatinya karena gadis ini begitu menjaga dirinya. Dimana mendapatkan wanita yang begitu keras menjaga kesuciannya disini? Meski Cleire tidak suci lagi di awal pertemuan, Chris tetap akan menjadikan gadis ini miliknya. Anggaplah kesuciannya sebagai bonus.
"Aku pria normal, Baby. Kau yang mabuk dan menggodaku. Lagipula aku tidak menyalahkanmu. Ini juga kesalahan ku karena tidak menahan diri." Chris berpikir Cleire sedang mengutuknya.
Mendengar itu, Cleire yang tadinya masih menangis langsung terdiam. Kepalanya mulai menyerap beberapa informasi.
Cleire melepas pelukannya. "Maksudmu?" Wajahnya sudah berubah datar. Air mata yang keluar sudah mengering dengan cepat.
"Aku tidak menyalahkanmu. Kita berc*nta dan menikmatinya bersama." Chris merengkuh wajah cantik itu dengan senyuman khas nya.
"Begitu? Jadi kau yang membuatku begini?" tanya Cleire dengan nada rendah.
__ADS_1
"Tentu saja. Memang siapa yang boleh menyentuhmu selain aku?" Pria itu dengan keegoisannya.
"Baj*ngan gilaaa!!" pekik Cleire membuat Chris seketika terkejut. Belum lagi gadis itu sudah memukulnya dengan bantal sofa dengan segala umpatannya.
"Kau tahu aku mengatakan Sean lah yang memperkosa ku! Ternyata pelakunya adalah pria mesum!"
"Shh– jadi kau menangis karena itu?" Ditengah pukulan Chris masih sempat bertanya.
"YA! KARENA PRIA MESUM YANG MEMPERKOSA GADIS PERAWAN!" Chris meringis, telinganya terasa berdengung mendengar teriakan Cleire.
"Oh God! Bagaimana nasib Sean sekarang?" Cleire menghentikan pukulannya dan menjambak rambutnya pusing.
"Untuk apa memikirkan pria lain? Kau hanya boleh memikirkan aku." Menarik gadis yang masih berlapis selimut itu agar duduk dipangkuannya. Chris dengan santainya memeluk dari belakang.
"Sial*an! Semua karena kau. Lepas!" Cleire kembali memberi pukulan di tangan kekar yang memeluknya.
"Baby, ada kesalahpahaman disini. Aku tidak memperkosamu. Sekali lagi, kita ber- cin- ta. Jika tidak percaya, kita bisa mengulangnya kembali."
Lihat pria itu. Tidak ada wajah bersalah sama sekali! Baginya amukan Cleire adalah hiburan. Ingat, membuat gadis itu kesal telah menjadi hobinya.
"Mesum sial*n!! Apa yang ada di otakmu itu?!"
Hell ...! Hanya kau saja yang berpikir begitu.
Otak mesum Chris mulai bekerja lagi ketika melihat pundak serta punggung Cleire yang berbuka. Masih terlihat banyak jejak percintaan akibat semalam, membuat Cleire semakin seksi di mata Chris.
"Jaga tanganmu!" bentak Cleire ketika tangan pria itu bergerak di sekitar paha nya. Bisa tidak buat ia waras sehari saja! Lama-lama ia bisa mati karena tekanan darah tinggi.
"Lepas! Aku mau menghubungi Ar." Jangan sampai ada berita tentang CEO muda membunuh rekan bisnisnya karena kesalahpahaman. Tidak lucu!
"Biarkan saja dia, Cleire. Itu bagus, bukan? Aku tidak perlu repot-repot menyingkirkan sainganku."
"Saingan apanya! Kau mulai gila ya?"
"Dia seperti menyukaimu."
"Memangnya yang menyukai ku harus mati!"
"Ya! Kecuali mereka tidak menggangu." Chris masih dengan tampang tanpa dosanya.
__ADS_1
"GILAA!"
Cleire berhasil lepas dari jeratan iblis berwajah malaikat itu. Ia kembali mengambil bantalnya dan memukul pria itu tanpa perasaan. Itulah awal mula pertengkaran pasangan unik yang jauh dari kata romantis.
Cleire bahkan sudah lupa dengan rasa sakit yang dialaminya. Tidak ada lagi Cleire yang lembut dan bersikap ketika bersama Chris. Pria itu berhasil mengubah banyak hal pada dirinya. Memporak-porandakan hati serta kehidupan damai Cleire.
-
-
-
-
Cleire berendam diri di bathup. Otot-otot tubuhnya terasa kaku terutama bagian bawahnya. Berendam air hangat merilekskan sedikit ototnya. Kamar mandi juga berhadapan langsung dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Los Angeles, California.
Cleire mengangkat salah satu kakinya dari tumpukan busa. Kaki mulus tanpa bulu itu sudah ditandai dengan bercak kemerahan di sekitar area paha. Ia lega. Pria yang merenggut nya ternyata adalah Chris. Pria yang sudah Cleire tebak tidak akan mampu menahan diri untuk waktu yang lama.
Jangan harap menunggu pernikahan. Cleire sudah yakin cepat atau lambat pria itu takkan menahan diri lagi. Hatinya memang sudah menerima, tapi jangan melihat dari tindakannya. Mungkin perlakuannya tidak semanis sepasang kekasih, tapi itulah yang membuat hubungan mereka semakin kuat.
Hal itu keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.
Cleire menurunkan kakinya seraya memejamkan mata. Indonesia, negara yang mempertemukan mereka pertama kali. Ia pernah berpikir. Jika seandainya ia tak pernah kesana, mungkinkah sekarang ia berada di titik ini?
"Cleire ... kau tidak mengizinkan ku masuk?"
Cleire tidak menggubris. Biarkan pria itu diluar sana.
"Baby, hanya sekali tidak akan mengurangi rasa sakitnya. Kau harus mencobanya berulang kali."
Dasar mesum! Kau pikir aku sepolos itu sampai tidak tahu akal bulus mu!
"Tidak masalah karena ini yang terakhir kali," sahut Cleire ditengah damainya.
"Babyy ..." rengek pria itu. Cleire memutar bola matanya jengah.
Dasar pria! Sudah diberi hati malah meminta jantung!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1