
"Apa-apaan berita itu! Kakak ku bukan gadis ini seperti itu ya!" Casey tak dapat menahan kekesalannya melihat berita buruk tentang kakaknya.
"Sejak awal aku memang tidak setuju Cleire berhubungan dengan pria itu," ungkap Cedric tiba-tiba.
Ungkapan itu jelas mengundang banyak tatapan mengarah padanya. Cedric memang tidak banyak bicara atau menunjukkan reaksi. Pria ini lebih pendiam dibandingkan yang lain. Sontak saja yang lain terkejut dengan pengakuannya.
"Kenapa baru sekarang mengatakannya?" datar Ardrich. Tak terlalu terkejut.
"Ck! Percuma. Cleire mencintainya dan Chris sepertinya juga iya meski aku tidak begitu yakin."
"Chris itu tampan, baik dan sempurna. Kenapa kau tidak setuju?" Casey berkomentar. Sangat langka moment Cedric mau bicara banyak.
"Itu hanya penilaian luar mu saja. Kau tidak benar-benar tahu isi hatinya," cibirnya. Gadis itu langsung cemberut.
"Lalu kenapa?"
"Pria seperti dia tidakkah terlalu beruntung mendapatkan Cleire? Dia pasti bersenang-senang diluar sana tanpa memikirkan perasaan pasangannya kelak setelah bermain dengan banyak perempuan. Sekarang meminta melupakan begitu saja setelah bertemu pasangan? Ck! Nikmat sekali hidupnya." Cedric sebenarnya tidak rela gadis polos seperti Cleire mendapat pria seperti Chris.
"Cleire itu cantik, masih suci, belum ternoda sama sekali dengan kemesumannya. Chris tidak pantas mendapat gadis sepertinya."
Cedric sepertinya lupa jika kakak laki-laki disebelahnya tak ada bedanya dengan pria yang dibicarakannya. Ia tak menyadari jika wajah Ardrich sudah tidak ramah menatapnya.
"Maksudmu pria seperti kami tidak boleh mendapat yang terbaik? Karena kami bajing*n maka wanitanya juga harus seperti kami ...?!" Ardrich merasa jika Cedric juga menyinggungnya. Meski kenyataannya tidak seperti itu. Namun, karena ia tertarik pada sekretarisnya sendiri yang notabennya juga sepolos Cleire jadilah Ardrich ikut tersinggung.
Memang lebih baik kau diam saja! Casey tak ingin berkomentar lagi mengenai sifat dingin Cedric.
"Aku tidak bilang begitu. Hanya saja kenapa wanita itu harus Cleire," acuh Cedric membuat Ar semakin tersulut emosi.
"Harus bagaimana jika takdirnya memang dia! Protes pada Tuhan yang memilih dia!" bentak Ardrich kesal.
Pembahasan sudah melenceng dari topik awal. Elle dan Markus hanya memutar bola matanya tidak peduli. Biarkan itu menjadi urusan anak muda. Casey sendiri memilih pergi ke kamar. Topik ini tidak bisa diserap oleh otaknya.
-
-
-
__ADS_1
"Cleire ...!" pekik gadis yang kini sudah telungkup di atas ranjang.
"Apa?" Wajah cantik di layar ponsel menjawab malas. Setelah seharian tidak ada yang menghubungi, wajah Casey muncul sebagai pengisi. Tentu saja. Karena hanya adiknya itu yang mengetahui nomor ponselnya yang lain!
Itu berguna agar keberadaannya tidak terlacak. Ardrich sudah memasang Gps di ponsel maupun mobilnya, jadi ponsel cadangan adalah alternatifnya.
"Seperti apa liburanmu? Pasti menyenangkan. Aku juga ingin pergi," rengek manja Casey.
"Menyenangkan matamu! Aku saja tidak keluar dari kamar. Hanya menatap lampu hias saja, kau mau?"
Casey berdecak. "Kapan kau akan membawaku jalan-jalan juga? Membosankan hanya kuliah."
"Ya sudah berhenti saja!" Casey jadi memghentak-hentak kakinya di ranjang. Kesal. "Cleire ... kau menyebalkan!"
"Tidak usah berpikir aneh-aneh! Selesaikan saja kuliah mu lebih dulu. Kau mau mom memecatmu sebagai anak?"
"Aku sudah hampir merasakannya," gumam Casey namun masih terdengar oleh Cleire.
"Woah ... kau sungguh ingin dipecat ya?"
"Ya ya ya terserah. Kau kan memang anak kesayangan mommy!"
"Memangnya masih sama? Aku hanya anak haram daddy." Casey kembali lesu. Hubungannya dengan Elle tidak sedekat dulu lagi sejak Markus mengatakan kebenaran padanya dan Cedric.
Cleire tidak bercanda lagi. Casey sekarang sangat sensitif jika membahas statusnya. "Mom masih sama. Anak kandung atau bukan, kau tetap Casey putri kecil mommy." Cleire mengingatkan.
Jika dibandingkan dengannya, Casey lebih banyak mendapat perhatian dari Elle. Berbeda dengannya yang hanya mendapat perhatian dari sang nenek. Dulu ia sempat iri pada Casey yang begitu diperhatikan oleh Elle. Tapi perasaan itu hilang seiring berjalannya waktu.
Casey melempar ponselnya asal, lalu berbaring terlentang. Kenyataan pahit itu masih membekas, menjadi luka untuk pertama kali di hatinya. Elle sudah mengetahui sejak awal dan tetap memperlakukan seperti biasa, tapi Casey yang sulit beradaptasi kembali. Ia cukup tahu diri.
Tak lama pintu kamar terbuka, menampakkan sosok Elle di ambang pintu. Casey langsung bangun dari tidurnya.
"Kau tidak mau makan?" tanya Elle.
"Ha?"
"Waktunya makan malam. Kenapa tidak turun?"
__ADS_1
Astaga!
"Maaf, Mom. Aku pergi," jawab Casey seraya turun dari ranjang dengan cepat.
"Makan yang baik. Jangan pikirkan yang tidak perlu. Semua anakku tidak boleh sakit," ucap Elle keluar dari kamar.
Casey tersenyum malu sekaligus senang. Perkataan itu mudah dimengerti. Itu artinya Elle masih sama. Ia masih putri Elle, tidak ada yang berubah.
"Mom! Tunggu aku ..." teriaknya sambil berlari menyusul ibunya.
"Dasar manja!"
"Biar saja."
-
-
-
-
-
Sudah dua hari Chris belum bertemu Cleire. Pria itu mengacak rambutnya gusar. Apa yang diperbuat gadis itu sekarang. Tidak berbuat yang aneh-aneh, kan? Memikirkannya saja membuat Chris pusing!
Bagaimana mungkin Cleire tidak mengaktifkan ponselnya sama sekali. Tapi anehnya sosial medianya sempat aktif beberapa jam yang lalu. Ia curiga jika Cleire sebenarnya memiliki lebih dari dua ponsel yang tak terlacak oleh mereka.
Hari ini kedua orangtuanya akan mengadakan konferensi pers untuk menyelesaikan berita tak mengenakkan ini. Ia tak ikut, fokusnya hanya mencari dimana gadisnya sekarang. Chris tak mempercayai Elle akan memberitahu begitu saja. Wanita itu justru hanya akan mempersulitnya.
Kara mengatakan jika Elle ingin Chris berusaha sendiri. Jika memang cinta, bukankah harus ada perjuangan?
"Tuan! Saya menemukan lokasinya."
I got you, Bebe!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1