That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Jaga Matamu!


__ADS_3

"TAYLORR." Cleire melambaikan tangan girang ke arah pria berdarah Spanyol itu. Taylor tak kalah gembira melihat gadis itu sudah menunggunya disini.


"Cleiree," katanya senang. Taylor langsung memeluknya dan begitupun Cleire yang membalas.


Sudah lama sejak pria itu kembali. Mungkin hanya datang beberapa bulan bahkan setahun. Taylor tidak bisa meninggalkan negaranya terlalu lama karena harus mengurusi perusahaan keluarga.


"Aku merindukanmu, Baby." Taylor terus memeluk gadis itu seraya bergerak kesana-kemari.


"Tapi aku tidak!"


Eh?


Cleire melepas kasar pelukannya. Wajah itu sudah merenggut kesal. Taylor menatap heran gadis itu.


"Bukankah kau tadi sangat senang melihatku?"


"Aku memang senang, tapi bukan karena kau datang!"


"Lalu?"


Tiba-tiba Cleire mengadahkan tangannya. Taylor semakin bingung dibuatnya. "Hadiah," pintanya.


"Hadiah?"


"Bibi bilang hadiahku ada padamu, Jerk!"


Damn!


Apa-apaan ini! Berganti Taylor yang memasang wajah kesal. Cleire merindukan hadiahnya, bukan dirinya! Ibunya memang menitipkan sebuah kotak hadiah untuk gadis ini padanya, tapi tidak tahu jika sang ibu akan memberitahu lebih dulu.


"Apa yang bibi berikan?" Gadis itu mulai mengelilinginya, mencari dimana Taylor menyimpan kotak itu.


"Aku tidak membawanya!" ketusnya kesal, membuat Cleire langsung menatap tajam. "Katakan sekali lagi," geram gadis itu. Taylor menelan salivanya kasar, ia salah bicara.


"Ti– tidak! Maksudku di koper," ralatnya cepat. Cleire langsung tersenyum. "Kalau begitu cepat! Aku tidak sabar melihat." Merangkul lengan pria itu seraya berlari.


"Astaga ... pelan-pelan saja, Cleire."


-


-

__ADS_1


-


-


-


-


Mobil Cleire membelah jalan besar kota Los Angeles. Keduanya berhenti di depan gedung menjulang tinggi dimana apartemen Taylor berada. Begitu sampai di dalam, Cleire langsung merampas koper pria itu dan mencari hadiahnya.


Taylor hanya sabar. Tidak lama lagi gadis itu akan berubah suasana. Terlalu senang juga tidak baik, kan?


"Memangnya kau pikir apa yang akan mommy berikan?" cibir Taylor pada gadis yang terdiam menatap hadiahnya.


Ya. Gadis itu sedikit kecewa dengan apa yang di dapat. Pasalnya wanita yang dipanggil bibi juga merupakan ibu dari Taylor lagi-lagi memberinya sebuah produk mewah.



Dior. Tas branded yang sudah dikenal oleh dunia. Cleire bukan tidak bersyukur. Ia sudah sering mendapat hadiah-hadiah seperti ini dari Elle bahkan ayahnya. Jangan lupa Kara yang sudah berubah total dan mulai memanjakannya dengan produk terbatas yang pastinya membuat dompet menangis.


Aku sudah kehabisan tempat! jerit Cleire dalam hati.


Dior, Channel, Hermes dan lainnya sudah hampir ia miliki. Tempat penyimpanan tas sudah berulangkali ditambah oleh Elle karena kapasitas penuh. Itu semua saja belum pernah Cleire gunakan!


"Jika aku menjual isi lemariku, percayalah, aku bisa membeli sebuah perusahaan!" Bayangkan saja betapa banyaknya itu.


"Kasihan sekali gadisku. Kita pergi makan saja, bagaimana?" Mengelus kepala gadis yang duduk di lantai itu.


"Memangnya kau tidak lelah?"


"Hanya sebentar tidak masalah." Ia tak ingin menyiakan waktu bersama gadis ini.


"Baik kalau begitu. Aku juga lapar."


"Memangnya kapan kau kenyang?" cibir Taylor.


"Sialan kau!" Melempar tas pemberian bibi kearah pria itu. Untungnya segera ditangkap olehnya.


Tas mahal mommy, Taylor bernafas lega. Gadis ini memang kelewat kaya!


Ditengah-tengah itu, ponsel Cleire berbunyi. Sebuah pesan masuk membuat Cleire mengerjit bingung.

__ADS_1


Message


Buka!


Buka? Apa yang dibuka?


Dalam hitungan ketiga kau belum membuka pintu, akan ku ledakkan apartemen ini!


1 ....


Mata Cleire membola. Antara percaya dan tidak percaya, ia segera berlari menuju pintu.


Dan ceklek ....


Pria tampan dengan rahang mengeras sudah menatapnya. Gadis itu merasa takut tanpa alasan.


"Ch– Chris ..." Cleire membeku. Ada apa ini? Kenapa wajah pria itu begitu menyeramkan.


"Cleire ... ada apa?" Taylor melihat tingkah Cleire ikut menyusul.


Melihat Taylor, Chris kembali dilanda cemburu. Teringat foto kedekatan yang di unggah Taylor beberapa bulan lalu. Sekarang keduanya kembali bertemu. Tentu Chris langsung bertindak. Meski Ardrich sudah menjelaskan kedekatan mereka bak saudara, tapi yang namanya Chris tidak akan peduli.


"Siapa dia?" bisik Taylor dibelakang Cleire.


"Diam!" desisnya, memberi cubitan kecil di tangan Taylor. Pria itu meringis. Sepertinya Cleire mulai menyadari situasi.


Semakin tidak suka Chris melihatnya. Ia lantas menarik Cleire kedekapan nya, hal itu membuat Taylor tidak terima dan ingin meraih Cleire kembali, namun Chris memeluknya dengan erat.


Kenapa aku tidak berani melawan? rutuk Cleire dalam hati.


"Siapa kau! Jangan asal memeluknya."


"Aku bebas melakukan apa saja!" balas Chris geram.


"Hei! Kau pasti salah orang. Lepaskan dia." Taylor mendekat, namun Chris dengan cepat menggendong gadis itu dan membawanya pergi.


"HEI!" Taylor hendak mengejarnya, tapi kepala Cleire yang muncul di balik bahu Chris melototkan mata.


Berhenti disana! Jangan membuat masalah. Begitulah kira-kira arti tatapan Cleire.


"Jaga matamu!" seru Chris yang melihat Cleire menyembulkan kepalanya. Gadis itu menurut, menyembunyikan kepalanya ke dada Chris.

__ADS_1


Dia benar-benar marah ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2