That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Pakar Cinta


__ADS_3

"Bughh! Sekali pukulan saja sudah jatuh. Kau hebat, Cleire! Aku lupa kau juga ahli bela diri. Ajari aku lain kali ya."


Sejak tadi Casey tidak berhenti mengoceh. Cleire hanya berdehem saja sepanjang jalan. Malas meladeni sikap antusias adiknya. Hari santainya yang malang.


"Ngomong-ngomong aku tidak melihat Chris beberapa hari ini. Tumben sekali dia tidak bersamamu. Biasanya tidak mau lepas jauh."


Cleire melirik sedikit, lalu menghela nafas pelan. Pria itu pasti sedang bersenang-senang dengan wanita Spanyol, pikir Cleire cemberut. Chris benar-benar keterlaluan meninggalkannya sendiri. Percuma saja memohon untuk ikut saat itu.


"Ish!" Tanpa sadar ia memukul setir mobilnya, membuat Casey di sampingnya terlonjak kaget.


"Aku tidak akan bicara lagi," ucap Casey cepat dan memperbaiki duduknya menghadap depan. Gadis itu berpikir Cleire marah karena ia terus berbicara.


Sepanjang jalan hanya ada keheningan. Begitu seterusnya hingga mereka sampai di rumah. Cleire menatap Casey yang belum turun.


"Kau tidak turun juga?"


"Aku ada urusan. Masuklah, jangan kemana-mana tanpa Cedric," kata Cleire.


Urusan menyegarkan pikiran baru benar. Berhubung ia bosan dan tak punya mood untuk tidur lagi, ia berniat mendatangi Ardrich di kantornya. Masa bodoh pria itu sibuk atau tidak. Yang terpenting dirinya puas.


Saat menginjakkan kaki di perusahaan, semua perhatian langsung tertuju pada mantan Direktur itu. Mereka tahu jika Cleire sudah lama berhenti, tapi tidak tahu apakah hubungan dengan Ardrich masih berlanjut. Belum lagi berita mengenai kedekatan Cleire dengan Chris sempat menjadi trending topik.


Cleire tidak peduli. Ia langsung menuju lift khusus petinggi perusahaan. Namun saat sampai, lagi-lagi Cleire harus dihadapkan dengan sepasang anak manusia yang sedang memadu kasih. Dua orang di dalam ruang itu sepertinya tidak menyadari kehadirannya.


Cleire akhirnya hanya berdiam diri di pintu seraya menyandarkan tubuhnya. Dibiarkannya pintu terbuka lebar agar ada sedikit udara segar untuk dirinya yang harus sial hari ini. Otak jahil Cleire tiba-tiba muncul, tangannya yang memegang ponsel langsung diarahkan kepada mereka.


Lihat bagaimana ia akan membuat heboh satu rumah dengan kebenaran ini. Ardrich pria dingin yang memiliki harga diri tinggi tidak akan mengaku begitu saja tanpa adanya bukti. Entah sudah berapa lama pria itu menyembunyikan hubungannya.


Paling tidak Clara akan diseret masuk menemui Elle atau Markus. Jangan khawatir, orang tuanya bukan calon mertua kejam seperti dalam novel fiksi.

__ADS_1


Cepat hentikan! Itu yang kini muncul di pikiran Cleire. Jika tidak menyadarkan kedua orang itu, dipastikan mereka sudah berada di atas ranjang.


Plakk! Suara tamparan yang sekarang justru mengagetkan Cleire. Gadis itu langsung waspada dengan bersembunyi di balik pintu. Ia pikir ini adegan romantis, ternyata bukan? Ini pertengkaran.


"Jangan keterlaluan, Ar! Jangan seenaknya!" Cleire dapat mendengar bentakan Clara. Wah ... bernyali juga membentak seorang Ar.


"Aku sudah minta maaf, bukan? Aku tidak sengaja, Cla. Aku tidak dapat mengendalikan diri saat marah."


Marah? Apa yang membuat Ar marah?


"Kau egois, Ar. Aku tidak bisa bersama seseorang yang hatinya bukan untukku."


Hati Clara sudah dibuat sakit dengan sikap kasar Ardrich yang begitu mengkhawatirkan Cleire saat itu. Bisa Clara lihat jika pria itu masih begitu mencintai Cleire. Mungkin ia hanya pelarian karena Cleire memilih bersama Chris.


Max yang baru datang mengerjit heran melihat keberadaan Cleire yang mengintip. Karena penasaran ia berdiri di belakang Cleire dan ikut melonggokkan kepalanya kedalam. Hal itu membuat Cleire yang menoleh ke atas terkejut bukan main hingga tidak sengaja terjatuh.


Insiden tidak disengaja itu akhirnya menyadarkan kedua orang di dalam. Clara tampak membeku, sedangkan Ardrich langsung berlari mendekati adiknya itu.


"Maafkan saya, Nona." Max tidak menyangka hal kecil ini bisa mengejutkan seorang Cleire.


Max kebingungan, ia tidak berani menyentuh Cleire. Untungnya Ardrich segera datang dan menggendongnya, lalu mendudukkan nya di sofa.


"Pergilah, Max."


"Bagaimana rasanya?! Itulah jadinya jika suka menguping." Cleire cemberut dengan penuturan sang kakak. Bukan menguping, hanya menyerap informasi!


"Sepertinya kakiku terkilir," lirih Cleire, memijat-mijat pelan pergelangan kakinya.


Ardrich berdecak. "Lain kali jangan pake heels. Untung hanya terkilir, jika patah?" Dengan telaten pria itu memberi pijatan di kaki Cleire. Tidak peduli seberapa menyebalkan adiknya ini, ia begitu menyayangi Cleire.

__ADS_1


Clara yang masih disana kembali menahan sesak. Ia seharusnya tahu diri. Ia dan Cleire berbeda jauh. Belum lagi Ardrich bukan orang biasa sepertinya. Lihat Cleire, sangat serasi dengan Ardrich. Cantik dan baik, sangat cocok melunakkan hati Ar yang keras.


"Aku akan mengambilkan minum."


"Diam disini!" Ardrich tidak setuju, tapi Cleire sudah menutup mulutnya dengan tangan. "Terima kasih, Cla. Maaf merepotkan. Aku ingin cokelat panas."


Clara tersenyum paksa. "Baik."


Setelah Clara pergi, Ar melepas tangan Cleire dari mulutnya. Pria itu menatap tajam adiknya. "Apa yang kau rencanakan."


"Kalian sungguh bersama? Kenapa tidak membawanya ke rumah?"


"Aku tidak tahu," jawabnya ragu. Ia memilih kembali memijat kaki Cleire.


"Bodoh! Kau serius tidak sih?!" Jangan bilang Ar hanya bermain-main.


"Kubilang tidak tahu ya tidak tahu!" Ia masih belum bisa memahami dirinya. Rasa tertarik itu ada, tapi belum bisa mengartikan apa itu cinta atau bukan.


"Astaga, Ar. Wanita mana yang bertahan jika tanpa kepastian. Kalau tidak suka berhenti mengganggunya. Jangan memberi harapan yang berujung luka." Ardrich tidak menjawab.


"Lepaskan saja. Aku disini bersamamu. Aku bersedia menemani hidupmu di sisimu." Ardrich mendongak mendengar penuturan menyeleneh Cleire. Wajah Cleire dibuat begitu dramatis. Dengan kasar ia mengusap wajah Cleire hingga wajah itu berubah datar.


"Kau mulai gila?"


"Ish!" Dipikulnya pundak kokoh pria itu. "Hatimu benar-benar sudah beku. Pantas saja masih melajang di usia 29 tahun," cibirnya.


"Tidak sadar diri. Jika Chris tidak nekat, sampai sekarang pun kau juga masih melajang."


"Karena dia memiliki tekat! Tidak sepertimu yang sangat plin plan." Masih tidak sadar diri. Adik kakak tidak berbeda jauh.

__ADS_1


"Wanita kodratnya dikejar, bukan mengejar! Jangan jadi banci!" Sepertinya hari ini Cleire telah menjadi pakar cinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2