That Bastard Is My Destiny

That Bastard Is My Destiny
Bersumpahnya Dua Hati


__ADS_3

"Jangan membuatku semakin membencimu, Chris!" ucap Cleire setelah berhasil melepas ciuman Chris.


Chris menggeram kesal karena penolakannya. "Kenapa? Kau bahkan tak masalah saat pria itu begitu intim padamu!" Mencubit dagu Cleire agar mendongak menghadapnya.


Ada apa ini?


"Aku tidak suka orang lain menyentuh milikku, you know?" Nada itu penuh peringatan, Cleire tanpa sadar merasa sedikit takut hingga tidak berani bergerak.


Chris yang menyadari sedikit ketakutan Cleire lantas melepaskan diri. Duduk bersandar di jok mobil sedikit menjauh dari Cleire. Ia tidak suka jika gadisnya merasa takut padanya. Matanya terpejam dan mulutnya tertutup rapat.


Hening ....


Entah kenapa Cleire tidak suka situasi ini. Ia menoleh sedikit, merasa aneh dengan tingkah Chris sekarang. Apa pria ini sudah lelah 'mengganggunya? Tanpa sadar, gadis itu terus memperhatikan wajah tampan dengan mata tertutup itu.


Tampan, namun penuh kelicikan. Melihat mata Chris tak kunjung terbuka, gadis itu mengira jika ia tertidur. Sangat damai, seolah ia seorang bayi tanpa dosa.


"Aku menyesal tidak mendengarkan ibuku agar tidak bermain-main. Sekarang kau pasti jijik padaku, kan? Kau gadis polos dan masih suci, sedangkan aku? Penuh dengan dosa dan hal memalukan." Ucapan Chris yang tiba-tiba membuat Cleire terkejut.


Menatap Chris, gadis itu nampak tidak setuju dengan perkataannya. Rasa alamiah tumbuh begitu saja. Ia tak mengerti dengan dirinya sekarang.


"Apa yang kau katakan!" Menyentak lengan Chris agar menghadapnya.


Chris menatapnya sendu. "Bukankah seperti itu kenyataannya?" Membuat Cleire tanpa sadar ingin memeluk dan membawa pria itu kepelukannya, menenangkan.


"Semua itu urusan Tuhan, Chris. Kau tidak bisa menilainya sendiri." Tak terkontrol lagi, gadis itu benar-benar memeluknya. Mendekap layaknya seorang ibu.


"Aku egois karena menginginkanmu menjadi milikku seutuhnya, tapi aku tidak main-main. Suka tidak suka, mau tidak mau, you are mine!" Nada posesif itu memasuki telinga Cleire.


Baru saja adegan dramatis tercipta, kata posesif dari Chris seketika menghancurkan adegan tersebut.

__ADS_1


Meski sakit dengan penolakan gadisnya, nyatanya tidak membuat seorang Chris menyerah begitu saja. Ego nya terus mempertahankan seorang Cleire di hatinya.


"Atau aku mati saja? Dengan begitu kau akan tenang tanpa diriku lagi–"


"CHRIS!"


Berteriak. Cleire berteriak hingga Daniel di kursi kemudi dapat mendengarnya. Dada gadis itu naik turun menahan emosi. Kenapa ia merasa takut? Takut jika pria itu benar-benar pergi.


Tidak, tidak, tidak boleh!


"Kau menyebalkan! Memang siapa yang mengizinkan mu mati. Selama aku hidup kau juga harus hidup!" Memukul-mukul dada bidang pria itu.


Chris tersenyum dalam hati. Cara ini sepertinya berhasil meski ia sempat kesal dengan ide konyol ini. Haruskan ia berterimakasih pada Seno yang mencetuskan ide ini?


Memangnya siapa yang mau mati? Jika ia mati, maka Cleire akan bersama orang lain. Big no!


"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak bisa menjauhimu, jadi cara satu-satunya dengan ma–"


"Kau terpaksa." Wajah Chris pasrah, seolah menyerah dengan keadaan.


"Tidak! Astaga ... aku akan belajar, jadi beri aku waktu."


Wajah panik gadis itu terlihat lucu di mata Chris. Jika tidak sedang bersandiwara, sudah pasti kecupan bertubi-tubi mendarat di wajah itu.


"Pegang kata-kata mu. Hal itu tidak bisa ditarik kembali," ucap Chris, membawa tangan lentik itu ke atas kepalanya. Entah apa artinya itu.


"Bersumpah atas nama Tuhan."


Gadis itu langsung gugup. Hanya seperti ini saja harus bersumpah? Belum lagi atas nama Tuhan! Ia paling takut dengan hal ini.

__ADS_1


"Kau tidak berani, kan? Berarti kau tidak serius."


Hei! Seharusnya aku yang bilang begitu, gerutu Cleire dalam hati.


"Baik! Tapi kau juga harus bersumpah." Chris menaikkan satu alisnya, bingung.


"Atas?"


"Jika aku akan menjadi satu-satunya wanitamu. Tidak ada orang ketiga atau apapun yang menyakitiku! Jika kau melakukannya ... maka tidak akan ada lagi dirimu dalam hidupku. Aku akan membencimu selamanya dan menganggapmu hanya bagian terkotor dalam hatiku!" ancamnya.


"Aku bersumpah atas nama Tuhan bahwa Cleire Roseanne Melden akan menjadi satu-satunya teman hidupku tanpa adanya orang ketiga. Aku bersumpah akan mencintainya seumur hidup dan membahagiakannya dengan beribu cinta yang ku miliki," ucap Chris tanpa pikir panjang.


Jujur Cleire takut, meski tak bisa dipungkiri jika ada rasa bahagia saat mendengarnya. Ia tak seharusnya percaya pada sebuah kata-kata atau sumpah karena mereka masih bisa berbohong atau mengingkari.


Percaya pada hatimu, Cleire. Hanya hati yang dapat merasakan, batinnya memperingati.


"Aku bersumpah akan membuka hatiku untuk Chris." Singkat. Cleire masih sedikit bertahan dengan egonya, belum begitu yakin dengan pilihannya.


Chris menyeringai. Wajah pasrah tadi segera menghilang, digantikan dengan wajah arogan yang pemaksa seperti biasa. Cleire yang melihat itu merasa tertipu. Jika biasa ia yang menipu, maka sekarang telah berbalik. Pria ini sebenarnya berakting?


"Kau sudah bersumpah, Bebe. Sekarang kau milikku!" Segera merengkuh wajah Cleire, lalu memangut kasar bibir ceri yang sejak tadi menggodanya.


"Chris! Bukankah– masih mau– emhp ... membuka hati!" Protes di sela-sela ciumannya.


"Membuka hati atau tidak, kau tetap milikku," bisiknya posesif, memberi gigitan kecil di telinga gadisnya.


Bersumpah setia padahal bukan sebuah pernikahan? Biarlah ini menjadi cara Chris dan Cleire untuk saling mempertahankan.


__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2